Dunia spiritualitas Islam mengenal satu nama besar yang mengubah paradigma ibadah secara fundamental. Sosok tersebut adalah Rabiah al-Adawiyah. Ia lahir di Basra pada abad kedelapan masehi. Rabiah bukan sekadar penganut asketisme biasa yang menjauhi kemewahan duniawi. Ia merupakan pionir yang memperkenalkan konsep Mahabbah atau cinta Ilahi yang tanpa syarat.
Sebelum masa Rabiah, banyak sufi menekankan rasa takut kepada Allah sebagai motivasi utama. Mereka beribadah karena mengkhawatirkan siksa neraka yang sangat pedih. Rabiah hadir membawa perspektif baru yang sangat menyentuh relung jiwa manusia. Ia mengajarkan bahwa hubungan antara hamba dan Sang Khalik harus berlandaskan cinta yang murni.
Perjalanan Hidup Menuju Kebebasan Spiritual
Kehidupan awal Rabiah penuh dengan penderitaan dan cobaan hidup yang berat. Ia lahir sebagai anak keempat dalam keluarga yang sangat miskin. Setelah orang tuanya wafat, bencana kelaparan melanda kota Basra hingga ia terpisah dari saudara-saudaranya. Seorang pria kemudian menangkapnya dan menjualnya sebagai budak dengan harga yang sangat murah.
Status sebagai budak tidak menghalangi kedekatan Rabiah dengan Tuhan. Ia bekerja keras melayani majikannya pada siang hari dengan penuh kesabaran. Namun, ia menghabiskan seluruh malamnya untuk bersujud dan bermunajat kepada Allah. Cahaya spiritualitas yang terpancar dari dirinya akhirnya membuat sang majikan merasa takut dan membebaskannya.
Mahabbah: Inti Ajaran Sufisme Cinta
Rabiah al-Adawiyah mentransformasi hubungan hamba dengan Tuhan dari pola “transaksional” menjadi “relasional”. Ia menolak gagasan beribadah hanya demi mengharap pahala atau menghindari hukuman. Baginya, Allah adalah Sang Kekasih yang paling layak mendapatkan cinta tanpa pamrih apa pun.
Sikap revolusioner ini tecermin dalam doa-doanya yang sangat legendaris. Kutipan berikut menggambarkan betapa tulusnya prinsip spiritual yang ia pegang teguh:
“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut pada neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka haramkanlah aku darinya. Namun, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau berpaling dariku.”
Melalui kata-kata tersebut, Rabiah menegaskan bahwa surga dan neraka hanyalah ciptaan. Seorang pecinta sejati seharusnya hanya fokus kepada Sang Pencipta, bukan pada fasilitas-Nya. Hal ini mengubah cara pandang banyak orang dalam mempraktikkan ajaran Islam hingga saat ini.
Transformasi Hubungan Hamba dan Sang Khalik
Ajaran Rabiah menekankan bahwa cinta kepada Allah bersifat eksklusif dan menyeluruh. Ia merasa bahwa hatinya sudah terlalu penuh dengan cinta Ilahi. Hal ini membuatnya tidak memiliki ruang untuk membenci makhluk lain, bahkan setan sekalipun. Rabiah melihat segala sesuatu di dunia ini sebagai manifestasi dari keagungan Allah Sang Maha Indah.
Ia sering kali menekankan pentingnya kejujuran dalam mencintai Tuhan. Baginya, mengaku mencintai Allah namun masih terikat pada keinginan duniawi adalah sebuah kebohongan. Transformasi ini membawa kedamaian batin yang luar biasa bagi para pencari Tuhan. Mereka belajar untuk berserah diri secara total tanpa merasa terbebani oleh ketakutan yang berlebihan.
Pengaruh Rabiah terhadap Dunia Sufistik
Warisan spiritual Rabiah al-Adawiyah memberikan pengaruh besar bagi tokoh-tokoh sufi besar setelahnya. Nama-nama seperti Fariduddin Attar, Ibnu Arabi, hingga Jalaluddin Rumi banyak mengambil inspirasi darinya. Mereka semua mengakui kedalaman makrifat yang dimiliki oleh wanita suci dari Basra ini.
Rabiah membuktikan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak mengenal batasan gender atau status sosial. Ia menunjukkan bahwa seorang mantan budak pun bisa mencapai derajat kewalian yang tinggi. Kekuatan cintanya mampu merobohkan sekat-sekat formalitas dalam beragama dan menggantinya dengan kehangatan hubungan batin.
Relevansi Sufisme Cinta di Era Modern
Pada zaman modern yang penuh dengan materi ini, ajaran Rabiah tetap sangat relevan. Manusia sering kali merasa hampa meskipun memiliki segalanya secara fisik. Konsep Mahabbah menawarkan solusi untuk mengisi kekosongan jiwa tersebut dengan cinta yang abadi. Rabiah mengajarkan kita untuk kembali melihat tujuan utama penciptaan manusia, yaitu mengenal dan mencintai Tuhan.
Mencintai Allah melalui perspektif Rabiah berarti menjalankan perintah-Nya dengan kegembiraan. Kita tidak lagi merasa terpaksa dalam menjalankan ibadah harian. Setiap sujud menjadi momen pertemuan yang indah dengan Sang Kekasih. Inilah esensi dari transformasi hubungan hamba dengan Sang Khalik yang Rabiah perjuangkan sepanjang hayatnya.
Hingga akhir hayatnya, Rabiah tetap memilih hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem. Ia wafat di Basra dan meninggalkan warisan pemikiran yang tetap hidup selama berabad-abad. Nama Rabiah al-Adawiyah akan selalu menjadi simbol cinta Ilahi yang paling murni dalam sejarah peradaban Islam.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
