Dunia tasawuf mengenal sosok Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi al-Hatimi sebagai Ash-Shaykh al-Akbar. Ulama besar asal Andalusia ini melahirkan banyak karya monumental yang mengubah peta pemikiran Islam. Salah satu kitabnya yang paling fenomenal adalah Fusus al-Hikam atau Permata Kebijaksanaan. Melalui kitab ini, Ibn Arabi memaparkan konsep Wahdatul Wujud yang sering memicu diskusi panjang di kalangan cendekiawan Muslim. Banyak orang salah memahami konsep ini sebagai panteisme, padahal Ibn Arabi meletakkannya dalam bingkai tauhid yang sangat murni.
Menyelami Kedalaman Fusus al-Hikam
Ibn Arabi menulis Fusus al-Hikam berdasarkan visi spiritual yang ia terima dari Nabi Muhammad SAW. Kitab ini terdiri dari 27 bab yang masing-masing merepresentasikan hikmah dari para nabi. Setiap nabi menjadi simbol dari kata-kata ilahi yang mewujud dalam realitas manusia. Ibn Arabi menggunakan bahasa metafora yang tinggi untuk menjelaskan hubungan antara Tuhan dan alam semesta. Ia memandang bahwa seluruh keberadaan ini hanyalah cermin dari keagungan Allah yang tunggal.
Dalam salah satu kutipan terkenalnya, Ibn Arabi menyatakan:
“Maha Suci Dzat yang menampakkan segala sesuatu dan Dia adalah hakikat segala sesuatu itu.”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa tidak ada realitas yang berdiri sendiri di luar wujud Allah. Namun, hal ini bukan berarti makhluk adalah Tuhan dalam pengertian substansi yang sama secara fisik.
Hakikat Wahdatul Wujud: Kesatuan Wujud
Konsep Wahdatul Wujud secara harfiah berarti “Kesatuan Keberadaan”. Ibn Arabi berargumen bahwa hanya Allah yang memiliki Wujud Hakiki. Sementara itu, alam semesta dan isinya hanya memiliki wujud yang bersifat pinjaman atau bayangan (zill). Kita melihat keberagaman di dunia ini karena adanya tajalli atau penampakan diri Tuhan melalui nama-nama-Nya (Asmaul Husna).
Para pengkritik seringkali menuduh ajaran ini menyamakan pencipta dengan ciptaan. Padahal, Ibn Arabi tetap menjaga batas antara Al-Haq (Sang Kebenaran) dan Al-Khalq (Makhluk). Ia menjelaskan bahwa meskipun cahaya matahari menyentuh bumi, bumi bukanlah matahari itu sendiri. Hubungan ini sangat halus sehingga memerlukan kecerdasan spiritual untuk memahaminya tanpa jatuh ke dalam kekufuran.
Wahdatul Wujud sebagai Puncak Tauhid
Bagi para pengikut jalan sufisme, Wahdatul Wujud merupakan penjelasan paling mendalam dari kalimat La ilaha illallah. Jika pada tingkat dasar kalimat ini berarti “Tiada Tuhan selain Allah”, maka pada tingkat tinggi ia berarti “Tiada Wujud selain Allah”. Pemahaman ini membawa seorang hamba pada kesadaran penuh bahwa segala gerak dan diamnya bersumber dari Allah semata.
Ibn Arabi menuliskan dalam karyanya:
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
Melalui kutipan ini, ia mengajak setiap individu untuk merenungi batin mereka sendiri. Ketika ego manusia sirna, maka yang tersisa hanyalah kesadaran akan kehadiran Ilahi. Konsep ini memperkuat tauhid karena menghilangkan segala bentuk kemusyrikan tersembunyi, yakni merasa memiliki kekuatan di luar kuasa Allah.
Relevansi Pemikiran Ibn Arabi Saat Ini
Mempelajari pemikiran Ibn Arabi memberikan perspektif baru dalam beragama yang lebih inklusif dan mendalam. Di tengah dunia yang semakin materialistik, Wahdatul Wujud mengingatkan kita bahwa ada dimensi spiritual yang menyatukan seluruh umat manusia. Ajaran ini menekankan kasih sayang universal karena melihat jejak Tuhan pada setiap makhluk.
Meskipun demikian, para ulama menyarankan agar pemula tidak membaca Fusus al-Hikam tanpa bimbingan guru yang ahli. Bahasa simbolik Ibn Arabi dapat menyesatkan mereka yang hanya mengandalkan logika tekstual. Ketajaman batin dan kebersihan hati menjadi syarat utama untuk menyelami samudra pemikiran sang Syekh Agung.
Kesimpulan
Ibn Arabi melalui Fusus al-Hikam tidak sedang menciptakan agama baru atau merusak akidah Islam. Ia justru sedang menyingkap tirai-tirai yang menghalangi penglihatan manusia terhadap keesaan Allah yang absolut. Wahdatul Wujud adalah sebuah undangan untuk menyaksikan wajah Tuhan di mana pun kita menghadap. Dengan memahami konsep ini secara benar, seorang Muslim dapat mencapai derajat ihsan yang lebih sempurna dalam ibadahnya. Pemikiran ini tetap menjadi pilar penting dalam khazanah intelektual Islam yang menghiasi sejarah peradaban dunia hingga hari ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
