Nama Maulana Jalaluddin Rumi tetap bersinar terang sebagai obor spiritualitas dunia meski waktu telah berlalu berabad-abad. Melalui karya monumentalnya, Matsnawi, Rumi mengajak manusia untuk menanggalkan jubah ego dan menyelami samudra cinta ilahi. Kitab ini bukan sekadar kumpulan puisi biasa, melainkan panduan hidup bagi jiwa yang merindukan pertemuan dengan Sang Pencipta.
Matsnawi: Al-Quran dalam Bahasa Persia
Banyak ulama dan pengagum sastra menyebut Matsnawi sebagai “Al-Quran dalam bahasa Persia.” Sebutan ini muncul karena Rumi mengemas pesan-pesan esoteris kitab suci ke dalam bait-bait puisi yang indah. Rumi menulis sekitar 25.000 bait dalam kitab ini untuk menjelaskan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan.
Rumi tidak menggunakan bahasa teologi yang kaku atau membosankan. Ia memilih menggunakan metafora, cerita rakyat, hingga anekdot sederhana untuk menyampaikan kebenaran universal. Melalui Matsnawi, Rumi ingin memastikan bahwa setiap pembaca dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap tarikan napas mereka.
Kekuatan Kata yang Melampaui Batas
Bagi Rumi, bahasa hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir. Ia sering menekankan bahwa kata-kata seringkali gagal menggambarkan hakikat Tuhan yang mahaluas. Namun, ia menggunakan puisi sebagai alat untuk memicu getaran spiritual dalam hati pendengarnya. Rumi pernah berpesan mengenai keterbatasan kata-kata:
“Cinta adalah samudera yang luas, dan langit hanyalah serpihan buih di atasnya.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa bagi Rumi, pengalaman spiritual jauh lebih berharga daripada perdebatan intelektual. Ia mendorong murid-muridnya untuk tidak terjebak pada kulit luar agama, melainkan menggali inti sari dari setiap ibadah yang mereka lakukan.
Cinta sebagai Kompas Menuju Tuhan
Tema utama yang mengalir kuat dalam Matsnawi adalah cinta atau Ishq. Rumi memandang cinta bukan sebagai emosi romantis yang dangkal, melainkan sebuah kekuatan transformatif. Cinta adalah energi yang mampu membakar sifat-sifat buruk manusia dan mengubahnya menjadi cahaya kesadaran.
Dalam salah satu bagian Matsnawi, Rumi menggambarkan kerinduan jiwa manusia seperti suara seruling bambu (Ney). Seruling tersebut menangis karena ia telah terpisah dari rumpun bambunya. Ia menulis:
“Dengarlah suara seruling bambu ini, bagaimana ia berkisah, mengeluhkan pedihnya perpisahan.”
Analogi ini menggambarkan jiwa manusia yang terasing di dunia materi dan rindu untuk kembali bersatu dengan Tuhan. Rumi mengajarkan bahwa hanya melalui cinta, manusia dapat menghapus jarak antara dirinya dan Sang Khalik.
Menemukan Tuhan dalam Keheningan
Meskipun Rumi adalah seorang penyair ulung, ia sering memuji keheningan sebagai bahasa Tuhan yang paling murni. Ia percaya bahwa riuhnya pikiran seringkali menghalangi kita untuk mendengar bisikan ilahi. Melalui Matsnawi, ia mengajak manusia untuk masuk ke dalam bilik hati yang paling dalam.
Rumi menulis sebuah kalimat yang sangat populer di kalangan pencari spiritual:
“Diam adalah bahasa Tuhan, yang lainnya hanyalah terjemahan yang buruk.”
Pesan ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dari kebisingan duniawi. Dalam keheningan tersebut, kita akan menemukan bahwa Tuhan sebenarnya sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Rumi memandu pembaca Matsnawi untuk mengenali diri mereka sendiri agar dapat mengenali Tuhan mereka.
Relevansi Pesan Rumi di Era Modern
Mengapa dunia modern yang serba digital ini masih sangat mengagumi Jalaluddin Rumi? Jawabannya terletak pada universalitas pesannya. Di tengah krisis identitas dan kekeringan spiritual, ajaran Rumi menawarkan oase yang menyejukkan. Ia melampaui batas-batas sektarian, ras, dan budaya.
Rumi tidak meminta kita untuk meninggalkan dunia, melainkan meminta kita untuk tidak membiarkan dunia menguasai hati kita. Ia mengajarkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat menjadi ibadah jika kita melakukannya dengan cinta. Kedalaman Matsnawi memberikan perspektif baru bahwa agama harus membawa kedamaian, bukan perpecahan.
Kesimpulan
Membaca Jalaluddin Rumi dan Matsnawi adalah sebuah perjalanan pulang menuju diri yang sejati. Rumi telah membuktikan bahwa puisi dapat menjadi sarana untuk menyentuh yang tak tersentuh. Melalui kata-katanya, ia menuntun kita melampaui sekadar retorika menuju pengalaman langsung dengan Sang Kebenaran. Mari kita terus menggali hikmah dari sang Sufi agung ini untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
