Sejarah peradaban Islam mencatat banyak sosok ulama yang menjadi pilar tegaknya aqidah. Salah satu nama paling cemerlang adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau bukan sekadar pendiri Madzhab Hanbali, melainkan simbol perlawanan terhadap penindasan intelektual. Perjalanan hidupnya mencapai puncak ujian saat menghadapi peristiwa Mihna atau inkuisisi pemikiran.
Latar Belakang Inkuisisi Pemikiran (Mihna)
Pada abad ke-9 Masehi, Dinasti Abbasiyah mengalami pergeseran paradigma berpikir yang cukup radikal. Penguasa saat itu, Khalifah Al-Ma’mun, mulai mengadopsi pemikiran kaum Mu’tazilah sebagai ideologi resmi negara. Doktrin utama yang mereka paksakan adalah keyakinan bahwa Al-Qur’an merupakan makhluk (ciptaan), bukan kalamullah yang bersifat qadim (kekal).
Khalifah memaksa seluruh ulama dan hakim untuk menyetujui paham ini. Siapa pun yang menolak akan menghadapi konsekuensi berat, mulai dari pencopotan jabatan hingga ancaman nyawa. Banyak ulama akhirnya memilih untuk “ber-taqiyyah” atau berpura-pura setuju demi menyelamatkan diri. Namun, Imam Ahmad bin Hanbal memilih jalan yang berbeda dan jauh lebih terjal.
Keteguhan Prinsip di Balik Jeruji Besi
Imam Ahmad tetap meyakini bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang tidak tercipta. Baginya, kompromi dalam masalah aqidah akan menyesatkan umat Islam di masa depan. Beliau menyadari bahwa posisinya sebagai rujukan umat menuntut tanggung jawab yang besar.
Ketika tekanan semakin kuat, beliau memberikan pernyataan yang sangat masyhur:
“Bagaimana aku bisa mengatakan apa yang tidak pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW, para sahabatnya, dan para tabi’in?”
Akibat keteguhannya, otoritas keamanan menangkap Imam Ahmad. Beliau menjalani masa tahanan dari satu penjara ke penjara lain di bawah kepemimpinan tiga khalifah berturut-turut: Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, dan Al-Wathiq. Selama masa itu, tubuh ringkih sang Imam harus menerima cambukan berkali-kali di depan publik.
Perdebatan dan Penyiksaan Fisik
Di bawah pemerintahan Khalifah Al-Mu’tasim, intensitas penyiksaan terhadap Imam Ahmad semakin meningkat. Para algojo mencambuk beliau hingga pingsan berkali-kali. Namun, setiap kali beliau siuman, kalimat pertama yang keluar adalah pembelaan terhadap kebenaran aqidah.
Seorang algojo pernah berkata bahwa satu cambukan yang mengenai Imam Ahmad sudah cukup untuk membunuh seekor gajah. Namun, kekuatan iman rupanya memberikan daya tahan yang melampaui logika manusia. Beliau menolak untuk menyerah meskipun rasa sakit fisik terus menghujam tubuhnya.
Dalam sebuah momen penting, beliau menegaskan alasan di balik keras kepalanya dalam mempertahankan pendapat:
“Seandainya aku mengucapkan kata-kata itu, niscaya kebenaran akan tertutup bagi manusia.”
Berakhirnya Badai dan Kemenangan Sunnah
Badai inkuisisi ini berlangsung selama kurang lebih 15 tahun. Masa-masa gelap tersebut akhirnya berakhir ketika Khalifah Al-Mutawakkil naik takhta. Sang Khalifah baru ini menghentikan persekusi terhadap para ulama dan memulihkan posisi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
Imam Ahmad bin Hanbal keluar dari ujian tersebut sebagai pemenang moral. Rakyat menyambut beliau dengan penghormatan yang luar biasa. Keteguhannya berhasil menjaga kemurnian ajaran Islam dari intervensi filosofis yang berlebihan. Beliau membuktikan bahwa kekuatan pena dan prinsip mampu mengalahkan kekuatan pedang penguasa yang zalim.
Warisan Keteladanan bagi Generasi Modern
Kisah Imam Ahmad mengajarkan kita tentang pentingnya integritas intelektual. Di zaman sekarang, godaan untuk menggadaikan prinsip demi kenyamanan duniawi sangatlah besar. Imam Ahmad memberikan teladan bahwa kebenaran harus tetap tegak, meskipun seluruh dunia mencoba meruntuhkannya.
Hingga hari ini, karya-karya beliau seperti Musnad Ahmad tetap menjadi rujukan utama umat Islam. Namun, lebih dari sekadar buku, “kitab” terbesar yang beliau tulis adalah kisah hidupnya sendiri. Beliau adalah potret nyata dari seorang pejuang yang memegang bara api kebenaran hingga akhir hayatnya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
