Sosok
Beranda » Berita » Imam Syafi’i dan Al-Risalah: Arsitek di Balik Penataan Metodologi Hukum Islam

Imam Syafi’i dan Al-Risalah: Arsitek di Balik Penataan Metodologi Hukum Islam

Dunia hukum Islam mengenal satu sosok jenius bernama Imam Syafi’i. Beliau lahir pada tahun 150 Hijriah di Gaza, Palestina. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Para ulama menjuluki beliau sebagai “Nashirun Sunnah” atau pembela Sunnah Nabi. Kontribusi terbesar beliau terletak pada penataan metodologi hukum Islam. Beliau menyusun karya monumental berjudul Al-Risalah. Kitab ini menjadi peletak batu pertama ilmu Usul Fiqh.

Tantangan Pemikiran di Masa Awal Islam

Pada abad kedua Hijriah, umat Islam menghadapi tantangan pemikiran yang besar. Muncul dua kelompok besar dalam memutus hukum. Kelompok pertama adalah Ahlul Hadits di Madinah. Mereka sangat berpegang teguh pada teks hadis. Kelompok kedua adalah Ahlul Ra’yi di Irak. Mereka lebih banyak menggunakan logika atau rasio.

Kedua kubu ini sering terlibat perdebatan sengit. Imam Syafi’i hadir untuk menengahi keduanya. Beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa.  menguasai tradisi hadis dari Imam Malik. Beliau juga mempelajari logika hukum dari murid-murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i melihat perlunya aturan baku dalam berijtihad. Tanpa aturan, pengambilan hukum akan menjadi liar.

Kelahiran Kitab Al-Risalah

Imam Syafi’i menulis kitab Al-Risalah atas permintaan Abdurrahman bin Mahdi. Tokoh tersebut meminta Imam Syafi’i menjelaskan makna Al-Qur’an. Beliau juga meminta penjelasan tentang kedudukan hadis dalam hukum. Melalui kitab ini, Imam Syafi’i merumuskan kaidah-kaidah penggalian hukum.

Beliau menegaskan bahwa sumber utama hukum adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, beliau juga memberikan porsi yang jelas bagi akal manusia. Akal bekerja melalui mekanisme ijtihad yang terukur. Dalam hal ini, beliau memperkenalkan konsep Qiyas atau analogi. Kitab Al-Risalah berhasil menyatukan teks wahyu dengan rasio manusia.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Empat Pilar Metodologi Hukum Islam

Dalam kitab tersebut, Imam Syafi’i menetapkan empat sumber hukum utama. Keempat pilar ini menjadi standar dalam metodologi hukum Islam hingga saat ini:

  1. Al-Qur’an: Sebagai sumber hukum tertinggi dan paling utama.

  2. Sunnah: Sebagai penjelas dan pelengkap pesan-pesan Al-Qur’an.

  3. Ijma: Kesepakatan para ulama mujtahid terhadap suatu hukum.

  4. Qiyas: Menyamakan hukum suatu masalah baru dengan masalah lama berdasarkan kesamaan sebab (‘illat).

    Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Imam Syafi’i menegaskan bahwa tidak ada hukum tanpa dalil. Beliau berkata dalam kutipannya: “Siapa yang berhujjah tanpa dasar, maka dia seperti pencari kayu di malam buta.” Kalimat ini menekankan pentingnya dasar hukum yang kuat.

Pengaruh Besar bagi Peradaban Islam

Kehadiran Al-Risalah mengubah wajah hukum Islam selamanya. Sebelum kitab ini ada, para ulama berijtihad tanpa pola yang seragam. Imam Syafi’i memberikan kerangka berpikir yang sistematis. Ilmu ini kita kenal sekarang sebagai Usul Fiqh. Ilmu ini berfungsi untuk menjaga keaslian ajaran Islam.

Para ulama setelah beliau sangat bergantung pada karya ini. Baik itu ulama dari mazhab Maliki, Hanafi, maupun Hanbali. Mereka semua mengakui keunggulan pemikiran Imam Syafi’i. Beliau berhasil menciptakan sistem hukum yang dinamis namun tetap terjaga. Metodologi ini memungkinkan hukum Islam menjawab tantangan zaman.

Warisan Intelektual yang Abadi

Hingga saat ini, pemikiran Imam Syafi’i tetap relevan. Al-Risalah bukan sekadar buku sejarah. Kitab ini merupakan panduan bagi para pembuat hukum. Imam Syafi’i mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan pendapat. Namun, perbedaan tersebut harus tetap berada dalam koridor ilmiah.

Beliau merupakan arsitek sejati dalam hukum Islam. Tanpa penataan metodologi dari beliau, studi fikih mungkin akan kehilangan arah. Imam Syafi’i telah mewariskan cahaya ilmu yang tak kunjung padam. Beliau menunjukkan bahwa iman dan rasio bisa berjalan beriringan. Peran beliau dalam menata hukum Islam sangat tak ternilai harganya bagi peradaban dunia.

Menyelami Biografi Achjat Irsjad: Kiai Penggerak dari Banyuwangi

Melalui kitab Al-Risalah, Imam Syafi’i tidak hanya memberi solusi pada masanya. Beliau memberikan fondasi bagi generasi mendatang. Kita harus terus mempelajari karya-karya beliau agar memahami esensi hukum Islam secara utuh. Dengan begitu, kita bisa menerapkan agama secara bijak dalam kehidupan modern.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.