Kesehatan
Beranda » Berita » Trauma Tidur: Luka Batin yang Terbawa ke Malam Hari

Trauma Tidur: Luka Batin yang Terbawa ke Malam Hari

Trauma Tidur: Luka Batin yang Terbawa ke Malam Hari
Trauma Tidur: Luka Batin yang Terbawa ke Malam Hari

 

SURAU.CO – Malam diciptakan sebagai waktu ketenangan. Dalam sunyi, tubuh beristirahat dan jiwa kembali menata dirinya. Namun tidak bagi semua orang. Ada yang justru merasakan gelisah ketika malam datang: sulit terpejam, mimpi buruk berulang, jantung berdebar tanpa sebab, atau rasa takut yang muncul begitu lampu dipadamkan. Inilah yang sering disebut sebagai trauma tidur, luka batin yang belum sembuh, lalu hidup kembali ketika kesadaran melemah.

 

Islam memandang tidur bukan sekadar proses biologis, melainkan tanda kekuasaan Allah dan rahmat bagi jiwa. Allah Ta‘ala berfirman:

> وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُم مِّن فَضْلِهِ

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di malam dan siang hari serta usahamu mencari karunia-Nya.”¹

 

Tidur disebut sebagai ayat Allah. Maka ketika tidur berubah menjadi ruang ketakutan, sesungguhnya ada ayat yang tertutup oleh luka batin.

Trauma Tidak Hilang, Ia Bersembunyi

Trauma tidak selalu berteriak di siang hari. Ia sering bersembunyi di balik senyum, rutinitas, dan kesibukan. Namun ketika malam datang, kontrol melemah, dan ingatan bawah sadar terbuka, luka itu bangkit dalam bentuk mimpi buruk, sulit tidur, atau rasa terancam.

 

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Rasulullah ﷺ memberi tuntunan ketika seseorang terganggu oleh mimpi:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ²

 

Hadis ini menunjukkan bahwa gangguan tidur tidak hanya menyentuh aspek psikis, tetapi juga ruhani. Ada wilayah jiwa yang perlu perlindungan, bukan sekadar pengalihan

Hati yang Terluka dan Jiwa yang Gelisah

Trauma tidur sering berakar dari peristiwa yang mengguncang rasa aman: kehilangan, kekerasan, kecelakaan, penghinaan, pengkhianatan, atau tekanan hidup yang panjang. Luka ini tidak selalu disadari, tetapi memengaruhi sistem emosi, rasa aman, dan kepercayaan terhadap hidup.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

 

Al-Qur’an mengarahkan bahwa pusat ketenangan bukan terletak pada situasi, tetapi pada hubungan hati dengan Allah:

 

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ³

 

Trauma pada hakikatnya adalah retaknya rasa aman. Dan dzikir bukan hanya bacaan lisan, tetapi proses mengembalikan rasa aman itu kepada Zat Yang Maha Menjaga.

Tidur sebagai Latihan Tawakal

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa sebelum tidur:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا⁴

 

Tidur disebut sebagai “mati kecil”. Artinya, tidur adalah latihan tawakal: melepaskan kendali, menyerahkan kesadaran, dan membiarkan jiwa berada dalam penjagaan Allah.

 

Beliau juga berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ⁵

 

Bagi orang yang trauma, menyerah adalah bagian tersulit. Jiwa ingin terus berjaga, karena ia pernah disakiti. Islam mengajarkan: justru di situlah penyembuhan dimulai, ketika jiwa berani kembali bersandar.

Trauma Tidur pada Anak dan Tanggung Jawab Keluarga

Tidak sedikit anak yang mengalami trauma tidur: takut gelap, menangis di malam hari, mimpi buruk berulang. Islam sangat menekankan perlindungan ruhani anak.

 

Rasulullah ﷺ biasa mendoakan Hasan dan Husain:

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ⁶

 

Ini bukan sekadar doa, tetapi pendidikan jiwa. Anak yang dibesarkan dengan dzikir malam, sentuhan kasih, dan rasa aman, akan memiliki benteng ruhani ketika kelak berhadapan dengan luka hidup.

Antara Ikhtiar Psikologis dan Tauhid

Islam tidak menolak pendekatan psikologis. Mengakui luka, berbicara dengan orang aman, dan mencari bantuan profesional adalah bagian dari ikhtiar. Namun Islam memberi fondasi yang lebih dalam: tauhid sebagai poros penyembuhan.

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ⁷

 

Trauma bukan hanya masalah memori, tetapi masalah makna. Jiwa bertanya: “Mengapa ini terjadi?” Al-Qur’an tidak selalu memberi jawaban detail, tetapi memberi tempat bersandar.

Benteng Malam dalam Sunnah Nabi

Rasulullah ﷺ membimbing umatnya membangun benteng sebelum tidur. Di antaranya membaca Ayat Kursi:

 

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ عِنْدَ مَنَامِهِ لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ⁸

 

Beliau juga meniup telapak tangan, membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, lalu mengusapkan ke tubuh. Sunnah ini mengajarkan bahwa tidur bukan peristiwa kosong, tetapi ibadah penjagaan.

Langkah Ruhani Menghadapi Trauma Tidur

  1. Mengakui luka di hadapan Allah. Bukan menyangkal, tetapi membawa sakit itu ke dalam sujud.

 

  1. Membangun ritual malam. Wudhu, shalat sunnah, dzikir, dan doa sebelum tidur.

 

  1. Menghidupkan Al-Qur’an di kamar. Bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai atmosfer ruhani.

 

  1. Menguatkan siang hari. Trauma tidur sering lahir dari siang yang penuh tekanan tanpa sandaran iman.

 

  1. Menggabungkan ikhtiar ruhani dan psikologis. Islam tidak mengajarkan memilih salah satu, tetapi menata keduanya.

Tidur sebagai Rahmat yang Dipulihkan

Allah menyebut tidur sebagai pemutus kelelahan dan malam sebagai pelindung:

 

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا ۝ وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا⁹

 

Jika malam tidak lagi terasa sebagai “pakaian”, berarti ada robekan dalam rasa aman. Dan Al-Qur’an datang bukan untuk menutupi luka secara semu, tetapi untuk menjahit jiwa dari dalam.

Penutup: Kembali Mempeluk Malam

Trauma tidur bukan tanda lemahnya iman, tetapi tanda jiwa yang pernah terluka. Islam tidak memarahi luka, tetapi mengajaknya pulang. Pulang kepada dzikir. Pulang kepada doa. Dan Pulang kepada keyakinan bahwa tidak ada satu malam pun di mana Allah lalai menjaga hamba-Nya.

 

Ketika seorang hamba kembali bersandar, malam perlahan akan berhenti menjadi ruang ancaman, dan kembali menjadi mihrab sunyi tempat jiwa disembuhkan.

Catatan Kaki

  1. QS. Ar-Rum: 23.

  2. HR. Muslim no. 2261.

 

  1. QS. Ar-Ra‘d: 28.

  2. HR. Al-Bukhari no. 6324.

  3. HR. Al-Bukhari no. 6311; Muslim no. 2710.

 

  1. HR. Al-Bukhari no. 3371.

  2. QS. Al-Isra’: 82.

 

  1. HR. Al-Bukhari no. 2311.

  2. QS. An-Naba’: 9–10.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.