SURAU.CO – Bumi sejatinya diciptakan sebagai sistem keseimbangan. Di dalamnya telah Alloh tanamkan hukum-hukum yang adil, siang–malam, sebab–akibat, menanam–menuai, sakit–sembuh, jatuh–bangun.
Dalam sistem ini, surga dan neraka tidak menunggu di akhirat semata, tetapi sudah diperlihatkan bayangannya di dunia sebagai rasa, keadaan, dan akibat dari pilihan manusia.
Ketika manusia hidup selaras dengan fitrah, adab, dan ilmu, bumi terasa seperti surga. Tenang, cukup, aman, saling menjaga, dan penuh makna.
Namun ketika nafsu menjadi penguasa bukan sebagai alat, melainkan sebagai tuan maka sistem yang sama berubah menjadi neraka:
gelisah, rakus, saling melukai, ketakutan, dan kehilangan arah.
Nafsu pada hakikatnya bukan musuh, tetapi energi. Ia diciptakan untuk menggerakkan, bukan merusak.
Rusaknya bumi bukan karena nafsu itu ada, melainkan karena nafsu dilepas tanpa kendali ilmu dan nurani. Ketika nafsu berdiri tanpa akhlak, ia melahirkan keserakahan. Ketika nafsu berjalan tanpa adab, ia menciptakan penindasan. Dan Ketika nafsu memimpin tanpa hikmah, ia merusak alam, manusia, dan jiwa itu sendiri.
Bumi pun menangis bukan Dengan suara, tetapi dengan tanda
Banjir, kekeringan, konflik, penyakit, kegelisahan massal, dan hampa spiritual.
Semua itu bukan murka semata, melainkan peringatan sistem bahwa ada yang melenceng dari keseimbangan.
Surga dan neraka di bumi bukan lokasi, melainkan kondisi kesadaran.
Satu rumah bisa menjadi surga bagi yang bersyukur, dan neraka bagi yang dikuasai ego.
Satu ilmu bisa menjadi cahaya bagi yang rendah hati, dan api bagi yang sombong.
Satu kekuasaan bisa menjadi ladang pahala, atau lubang kehancuran tergantung siapa yang mengendalikan nafsu.
Maka para Nabi, Rosul, wali, dan orang berilmu tidak datang untuk mematikan nafsu, tetapi menertibkannya.
Mereka adalah penjaga sistem, agar bumi tetap layak menjadi ruang ujian yang adil, bukan neraka buatan manusia sendiri.
Hikmah
Barang siapa menguasai nafsunya dengan ilmu dan adab, ia sedang membangun surga di bumi.
Barang siapa ditawan nafsunya tanpa kendali, ia sedang menyalakan api neraka bahkan sebelum mati.
Dan di situlah rahasia besar kehidupan.
Bumi tidak berubah menjadi neraka karena takdir,
tetapi karena manusia lupa menempatkan nafsu di bawah cahaya Ilahi.
Al Qur’an Menjawab Hukum Kemungkinan (Probabilitas) dalam Kehidupan
Kehidupan manusia berjalan di antara kepastian Alloh dan ketidakpastian manusia. Di sinilah hukum kemungkinan atau probabilitas menemukan maknanya. Manusia merencanakan, menghitung, dan memperkirakan, namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa di balik setiap kemungkinan terdapat kehendak dan ketetapanNya. Al Qur’an tidak menafikan usaha rasional manusia.
Justru ia mengajarkan bahwa setiap peristiwa memiliki peluang, sebab, dan akibat, namun hasil akhirnya tetap berada dalam genggaman Alloh.
FirmanNya mengajarkan bahwa apa yang tampak kecil peluangnya dapat menjadi besar jika dikehendaki-Nya, dan apa yang tampak pasti bisa berubah bila Dia menghendaki lain.
Hukum kemungkinan dalam kehidupan mengajarkan manusia
Berikhtiar dengan ilmu, Bertawakal dengan iman, Menerima hasil dengan hikmah.
Dalam perspektif Al Qur’an, probabilitas bukanlah kebetulan tanpa makna, melainkan ruang ujian, ruang pilihan, dan ruang kesadaran.
Setiap kemungkinan adalah panggilan agar manusia rendah hati, tidak sombong pada keberhasilan, dan tidak putus asa pada kegagalan.
Maka, ketika manusia menghitung peluang, sejatinya ia sedang belajar tentang keterbatasannya. Dan ketika ia berserah diri, ia sedang memasuki kepastian tertinggi, yaitu bahwa Alloh Maha Mengetahui segala yang mungkin dan yang tidak mungkin.
Di sanalah ilmu bertemu iman, di sanalah probabilitas menemukan hikmahnya. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
