Pernahkah Anda merasa waktu 24 jam sehari terasa sangat kurang? Kita hidup di era teknologi serba cepat. Semua alat bantu tersedia di dalam genggaman. Namun, produktivitas kita seringkali kalah jauh dari orang-orang terdahulu. Fenomena ini membawa kita pada satu konsep penting: Barakah Waktu.
Mengapa Kita Kalah Produktif?
Zaman sekarang, kita memiliki komputer, internet, dan kecerdasan buatan. Seharusnya, kita bisa menghasilkan karya lebih banyak dan lebih cepat. Faktanya, banyak dari kita justru terjebak dalam kesibukan yang sia-sia. Kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggulir media sosial tanpa tujuan.
Bandingkan dengan para ulama dan ilmuwan zaman dulu. Mereka hanya menggunakan pena bulu dan tinta. Mereka menulis di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Namun, mereka mampu melahirkan ribuan jilid kitab yang manfaatnya terasa hingga hari ini. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya terletak pada keberkahan waktu mereka.
Definisi Keberkahan dalam Waktu
Secara bahasa, barakah berarti ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Barakah waktu bukan berarti jumlah jam bertambah menjadi 30 jam. Barakah berarti Allah memberikan kekuatan kepada seseorang. Dengan kekuatan itu, ia mampu menyelesaikan banyak urusan besar dalam waktu singkat.
Seseorang yang memiliki waktu barakah akan merasa tenang. Ia fokus pada hal-hal bermanfaat. Ia tidak mudah teralihkan oleh gangguan kecil. Waktunya selalu penuh dengan amal saleh dan karya nyata.
Keteladanan Ulama dalam Berkarya
Mari kita lihat sosok Imam An-Nawawi. Beliau wafat dalam usia yang relatif muda, sekitar 45 tahun. Namun, karya-karya beliau sangat fenomenal dan mendunia. Kitab Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah menjadi rujukan Muslim di seluruh dunia. Jika kita hitung secara matematis, jumlah tulisan beliau melebihi jatah umur biologisnya.
Ada pula Ibnu Jarir ath-Thabari. Beliau menulis tafsir dan sejarah yang sangat tebal. Murid-murid beliau pernah menghitung rata-rata tulisan beliau setiap hari. Hasilnya sungguh mengejutkan. Beliau mampu menulis puluhan halaman setiap hari secara konsisten selama puluhan tahun.
Para ulama ini tidak memiliki mesin tik atau laptop. Mereka mengandalkan kekuatan niat dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Hal inilah yang membuat waktu mereka terasa sangat luas dan produktif.
Penyebab Hilangnya Barakah Waktu di Era Modern
Mengapa waktu kita saat ini terasa sangat sempit dan cepat berlalu? Ada beberapa faktor utama yang mencuri keberkahan waktu kita:
-
Niat yang Melenceng. Seringkali kita bekerja hanya demi pujian atau materi semata. Keikhlasan adalah kunci utama turunnya keberkahan.
-
Maksiat dan Dosa. Para ulama meyakini bahwa dosa dapat menumpulkan ingatan. Dosa juga membuat hati gelisah sehingga waktu terbuang percuma.
-
Terlalu Banyak Hiburan Sia-sia. Kita sering meremehkan waktu luang. Kita mengisi waktu dengan menonton konten yang tidak memberikan nilai tambah bagi hidup.
-
Meninggalkan Keberkahan Pagi. Banyak orang modern mulai bekerja di siang hari. Padahal, Rasulullah SAW pernah berdoa: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Cara Menjemput Kembali Barakah Waktu
Anda bisa mulai memperbaiki kualitas waktu dengan langkah sederhana. Pertama, perbaiki hubungan dengan Allah. Luangkan waktu untuk beribadah di tengah kesibukan. Shalat tepat waktu justru akan menata jadwal hidup Anda menjadi lebih teratur.
Kedua, bangunlah lebih awal. Selesaikan pekerjaan terberat Anda pada waktu subuh hingga matahari terbit. Udara pagi yang segar meningkatkan konsentrasi otak secara signifikan. Fokus Anda akan lebih tajam daripada saat malam hari.
Ketiga, tentukan skala prioritas. Jangan mencoba melakukan semua hal dalam satu waktu. Pilih satu pekerjaan yang paling memberikan dampak besar. Fokuslah hingga pekerjaan tersebut selesai dengan sempurna.
Kesimpulan
Barakah waktu adalah anugerah bagi hamba yang bersyukur. Orang terdahulu berkarya lebih banyak karena mereka menjaga hati dan niat. Mereka sangat menghargai setiap detik yang Allah berikan. Jika kita ingin mengikuti jejak mereka, kita harus mulai membenahi diri.
Jangan biarkan teknologi justru menjauhkan kita dari produktivitas. Gunakan alat yang ada untuk menyebarkan kebaikan. Mari kita memohon kepada Allah agar memberikan keberkahan pada setiap sisa umur kita. Dengan begitu, kita bisa meninggalkan warisan karya yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
