SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah
Beranda » Berita » Menyingkirkan Duri dari Jalan: Amalan Kecil yang Menjadi Penentu Surga

Menyingkirkan Duri dari Jalan: Amalan Kecil yang Menjadi Penentu Surga

Islam adalah agama yang sangat indah dan praktis. Agama ini tidak hanya mengatur urusan ibadah besar seperti haji atau salat. Islam juga memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita. Salah satu amalan yang terlihat sepele namun bernilai luar biasa adalah menyingkirkan duri dari jalan. Amalan sederhana ini memiliki bobot pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT.

Bagian dari Cabang Keimanan

Keimanan seseorang bukan hanya terletak di dalam hati. Iman harus terpancar melalui lisan dan perbuatan nyata. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa iman memiliki puluhan cabang. Cabang yang paling tinggi adalah kalimat tauhid. Sementara itu, cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah perkataan ‘Lailahaillallah’. Sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits ini, kita memahami bahwa kepedulian sosial mencerminkan kualitas iman. Seseorang yang memindahkan batu atau duri dari jalan sebenarnya sedang mempraktikkan imannya. Ia menunjukkan rasa cinta kepada sesama manusia dengan menjaga keselamatan mereka.

Jejak Diplomasi Ramadhan: Kisah Pengakuan Mesir Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Jaminan Surga bagi Pelakunya

Mungkin banyak orang menganggap remeh tindakan membuang sampah atau paku di jalan. Padahal, Allah SWT sangat menghargai niat tulus di balik tindakan tersebut. Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang pria yang masuk surga karena amalan ini. Pria tersebut melihat dahan pohon yang menghalangi jalan orang-orang.

Rasulullah SAW menceritakan kisah tersebut dalam hadits berikut:

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki bersenang-senang di dalam surga. Hal itu karena ia memotong dahan pohon di tengah jalan yang sangat mengganggu manusia.” (HR. Muslim).

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Allah tidak selalu melihat besar atau kecilnya sebuah amal. Allah melihat keikhlasan dan manfaat amalan tersebut bagi orang lain. Satu dahan pohon yang disingkirkan dengan tulus bisa menjadi kunci pembuka pintu surga.

Bentuk Sedekah Harian

Islam mengajarkan bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari. Namun, tidak semua orang memiliki harta yang berlimpah untuk bersedekah secara materi. Di sinilah kemurahan Allah SWT muncul. Menyingkirkan gangguan dari fasilitas umum termasuk kategori sedekah yang paling mudah.

Kesimpulan Final Isu Tarawih (11 Vs 20 Rakaat)

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap ruas tulang manusia harus dikeluarkan sedekahnya setiap hari. Setiap hari matahari terbit, kamu berlaku adil antara dua orang adalah sedekah. Kamu membantu seseorang menaiki kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah kaki menuju shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, kita bisa meraup pahala sedekah setiap saat. Saat Anda melihat botol pecah di trotoar, segeralah mengambilnya. Ketika Anda melihat tumpahan oli yang licin, tutuplah dengan pasir. Semua tindakan preventif ini akan tercatat sebagai pahala sedekah di sisi-Nya.

Makna Luas “Duri” di Era Modern

Pada zaman dahulu, duri atau dahan pohon adalah gangguan utama di jalanan. Di era modern, makna “duri” bisa kita perluas ke berbagai konteks. Paku yang sengaja disebar orang jahat adalah “duri”. Sampah plastik yang membuat orang terpeleset adalah “duri”. Bahkan, parkir kendaraan sembarangan yang menutupi jalan umum juga termasuk gangguan.

Menyingkirkan gangguan berarti kita peduli terhadap kenyamanan publik. Seorang Muslim sejati tidak akan membiarkan orang lain celaka karena kelalaiannya. Ia akan aktif mencari cara untuk mempermudah urusan orang banyak. Sikap ini sangat selaras dengan prinsip “Khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain).

Jembatan Ampera: Hadiah Ramadhan Abadi untuk Masyarakat Palembang

Mengasah Kepekaan Sosial dan Empati

Amalan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk melatih kerendahan hati. Seringkali, ego manusia mencegah mereka untuk memungut sampah di jalan. Banyak orang merasa itu bukan tugas mereka. Namun, seorang hamba yang mengharap rida Allah akan membuang jauh rasa gengsi tersebut.

Ia sadar bahwa keselamatan seorang pengendara motor lebih penting daripada rasa gengsinya. Ia paham bahwa kenyamanan pejalan kaki adalah bagian dari hak publik yang harus dijaga. Dengan melakukan amalan kecil ini, kita sebenarnya sedang mendidik diri sendiri untuk menjadi pribadi yang peka.

Kesimpulan

Menyingkirkan duri dari jalan adalah bukti bahwa Islam sangat peduli pada keselamatan. Amalan ini sangat ringan namun memiliki ganjaran yang sangat berat di timbangan akhirat. Mari kita mulai melatih diri untuk tidak abai terhadap kondisi di sekitar kita.

Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi, sebatang paku yang Anda singkirkan hari ini adalah penyebab Allah menyelamatkan Anda dari api neraka. Jadikan setiap langkah kita di jalanan sebagai sarana untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala jariyah. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk terus berbuat baik kepada sesama.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.