SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Seni Menikmati Proses: Mengapa Islam Membenci Ketergesa-gesaan?

Seni Menikmati Proses: Mengapa Islam Membenci Ketergesa-gesaan?

Dunia modern menuntut manusia untuk bergerak serba cepat. Kita sering merasa terjebak dalam perlombaan waktu yang tidak pernah usai. Banyak orang menginginkan hasil instan dalam pekerjaan, pendidikan, hingga urusan ibadah. Namun, tahukah Anda bahwa agama Islam memberikan peringatan keras terhadap perilaku ini? Islam justru mengajarkan umatnya untuk mencintai proses dan menjauhi sifat terburu-buru.

Memahami Sifat Al-Ajalah dalam Islam

Dalam literatur Islam, ketergesa-gesaan dikenal dengan istilah al-ajalah. Sifat ini merujuk pada keinginan seseorang untuk mendapatkan sesuatu sebelum waktunya tiba. Rasulullah SAW secara tegas mengingatkan kita mengenai asal-usul sifat ini. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang sangat populer:

“Ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan, sedangkan ketenangan itu datangnya dari Allah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjelaskan bahwa setan menggunakan rasa tidak sabar untuk menjebak manusia. Saat seseorang terburu-buru, ia cenderung kehilangan kejernihan berpikir. Mereka bertindak tanpa pertimbangan matang yang akhirnya berujung pada penyesalan. Allah SWT menciptakan alam semesta ini dengan proses, maka manusia pun harus mengikuti sunnatullah tersebut.

Mengapa Islam Sangat Membenci Ketergesa-gesaan?

Ada beberapa alasan mendasar mengapa Islam melarang umatnya bersikap terburu-buru. Pertama, ketergesa-gesaan sering kali merusak kualitas amal atau pekerjaan kita. Seseorang yang ingin cepat selesai biasanya akan mengabaikan detail-detail penting. Alhasil, hasil pekerjaannya menjadi tidak maksimal atau bahkan cacat.

Kisah Hikmah Ilmu “Di antara Organ Tubuh Manusia, yang Paling Utama Diminta Pertanggungjawaban adalah Qolbu (Jantung)”

Kedua, sifat ini mencerminkan kurangnya rasa tawakal kepada Allah SWT. Orang yang terburu-buru seolah-olah meragukan ketetapan waktu yang telah Allah tentukan. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra: 11)

Ayat di atas menggambarkan tabiat dasar manusia yang sering tidak sabar. Manusia sering meminta sesuatu dengan segera tanpa tahu dampak buruk di baliknya. Allah jauh lebih mengetahui kapan waktu terbaik bagi seorang hamba untuk menerima sesuatu.

Bahaya Nyata dari Sikap Terburu-buru

Sikap tergesa-gesa membawa dampak negatif yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Dalam urusan duniawi, ia menyebabkan kecelakaan, kerugian finansial, hingga keretakan hubungan sosial. Dalam urusan ukhrawi, sifat ini bisa merusak kekhusyukan ibadah kita.

Bayangkan seseorang yang shalat dengan sangat cepat hanya agar bisa segera kembali bekerja. Gerakan shalat yang tidak tumakninah membuat ibadah tersebut kehilangan esensinya. Islam justru menekankan pentingnya at-ta’anni, yaitu bersikap tenang dan berhati-hati dalam setiap tindakan. Ketenangan akan membuahkan ketelitian, sedangkan ketergesa-gesaan hanya melahirkan kekacauan.

Air Mata Perpisahan Dipenghujung Ramadhan: Refleksi Iman di Akhir Bulan Penuh Rahmat

Seni Menikmati Proses (At-Ta’anni)

Lawan dari ketergesa-gesaan adalah menikmati proses. Islam sangat menghargai setiap tetes keringat dan waktu yang kita habiskan untuk berjuang. Keberkahan sebuah pencapaian tidak hanya terletak pada hasil akhir. Keberkahan itu justru tersebar sepanjang perjalanan kita menuju tujuan tersebut.

Menikmati proses berarti kita menyadari bahwa setiap tahap kehidupan memiliki hikmah tersendiri. Kita belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan saat menghadapi hambatan. Orang yang menikmati proses akan merasa lebih bahagia dan tenang. Mereka tidak merasa terbebani oleh ambisi yang meluap-luap namun kosong dari makna.

Kapan Kita Boleh Bersegera?

Meskipun Islam membenci ketergesa-gesaan, ada beberapa hal yang menuntut kita untuk segera melakukannya. Para ulama menjelaskan bahwa kita harus bersegera dalam kebaikan. Hal ini bukan berarti terburu-buru tanpa aturan, melainkan tidak menunda-nunda kesempatan amal saleh.

Beberapa perkara yang dianjurkan untuk segera dilakukan antara lain:

  1. Segera bertaubat setelah melakukan dosa.

    Tidak Ada Yang Terlewat Dihadapan Allah (Refleksi atas QS. Al-Qamar: 53)

  2. Menyegerakan shalat saat waktunya telah tiba.

  3. Menunaikan janji atau membayar hutang.

  4. Menjamu tamu yang datang berkunjung.

  5. Mengurus jenazah hingga pemakaman.

Selain dari hal-hal yang bersifat mendesak seperti di atas, ketenangan tetap menjadi prinsip utama. Kita harus mampu membedakan antara “bersegera dalam kebaikan” dengan “terburu-buru karena nafsu”.

Kesimpulan

Ketergesa-gesaan adalah musuh bagi kedamaian batin dan kesuksesan yang hakiki. Dengan memahami mengapa Islam membenci sifat ini, kita bisa lebih waspada terhadap bisikan setan. Mari kita mulai melatih diri untuk lebih tenang dan menghargai setiap langkah dalam hidup. Ingatlah bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang melakukan segala sesuatu dengan penuh kecermatan (itqan). Nikmatilah prosesnya, dan biarkan Allah memberikan hasil terbaik pada waktu yang paling tepat.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.