Ibadah
Beranda » Berita » Mengikuti Salah Satu Sunnah Nabi yang Dibungkus Nafsu

Mengikuti Salah Satu Sunnah Nabi yang Dibungkus Nafsu

Mengikuti Salah Satu Sunnah Nabi yang Dibungkus Nafsu
Mengikuti Salah Satu Sunnah Nabi yang Dibungkus Nafsu

 

SURAU.CO – Banyak orang merasa telah berjalan di jalan Nabi hanya karena mampu menyebut satu sunnah yang ia amalkan dengan konsisten. Namun, sedikit yang berani bertanya dengan jujur: sunnah itu membimbing hati atau justru melayani nafsu? Di titik inilah refleksi menjadi penting, sebab tidak semua yang berlabel sunnah benar-benar membawa ruh kenabian.

 

Sunnah Nabi bukan sekadar perilaku lahiriah. Ia adalah kesatuan antara niat, akhlak, dan tujuan.

 

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Ketika seseorang mengambil satu sunnah misalnya ketegasan, amar ma’ruf, atau keberanian menyampaikan kebenaran tanpa menyertakan kelembutan, kasih sayang, dan kerendahan hati yang juga melekat pada Nabi, maka sunnah itu kehilangan keseimbangannya. Yang tersisa hanyalah potongan perilaku yang mudah dibungkus oleh nafsu.

Menghidupkan Sunnah

Nafsu memiliki kecerdikan yang halus. Ia mampu bersembunyi di balik dalil, bersembunyi di balik istilah “menghidupkan sunnah”, bahkan bersembunyi di balik semangat membela agama. Dalam kondisi ini, seseorang tidak lagi bertanya apakah ucapannya menyembuhkan atau melukai, apakah tindakannya mendidik atau menghakimi. Yang ia cari hanyalah pembenaran: bahwa dirinya berada di pihak yang benar.

Padahal Rasulullah SAW tidak pernah memisahkan kebenaran dari kasih sayang. Ketegasan beliau tidak lahir dari amarah, melainkan dari kejernihan hati.

 

Keberanian beliau bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menjaga martabat manusia. Sunnah beliau selalu berujung pada perbaikan, bukan penghinaan; pada pembebasan, bukan penindasan.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

 

Ketika sunnah dipraktikkan dengan nafsu, yang muncul adalah kecenderungan merasa lebih suci, lebih benar, dan lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain. Ini adalah tanda paling jelas bahwa ruh sunnah telah pergi. Sebab semakin dekat seseorang kepada Nabi, seharusnya semakin lembut hatinya, semakin dalam empatinya, dan semakin kecil keakuannya.

Akhlak Nabi Tercermin Dalam Kehidupan

Tulisan ini bukan tudingan kepada orang lain, melainkan cermin bagi diri sendiri. Sebab setiap insan berpotensi terjebak pada selektivitas sunnah memilih yang sesuai dengan watak dan kepentingannya, lalu mengabaikan yang menuntut pengendalian diri. Di sinilah ilmu diuji: apakah ia membimbing nafsu, atau justru tunduk kepadanya.

 

Mengikuti sunnah Nabi sejatinya adalah perjalanan menata batin. Bukan tentang seberapa keras suara kita menyuarakan kebenaran, melainkan seberapa jujur kita meluruskan niat. Bukan tentang seberapa banyak sunnah yang kita klaim, melainkan seberapa besar akhlak Nabi tercermin dalam sikap kita sehari-hari.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

 

Akhir kata, sunnah yang hidup akan menumbuhkan kerendahan hati dan kedamaian.

 

Sedangkan sunnah yang dibungkus nafsu hanya akan melahirkan kegaduhan, meski dibalut bahasa agama. Dan di antara keduanya, hati yang jernih akan mampu membedakan: mana jalan Nabi, dan mana jalan diri yang sedang ingin menang.

 


Hikmah Diri: Bertawassul dengan Diri kepada Alloh

 

Bertawassul dengan diri kepada Alloh bukanlah menjadikan diri sebagai tujuan, melainkan menjadikan diri sebagai cermin kejujuran di hadapanNya. Diri hadir sebagai hamba yang sadar akan keterbatasan, dosa, dan kelemahan, lalu mengetuk pintu rahmat Alloh dengan apa adanya tanpa topeng, tanpa kesombongan, tanpa pembenaran.

 

Bertawassul dengan diri berarti menghadirkan niat yang paling dalam, ketika lisan, hati, dan perbuatan disatukan dalam pengakuan, “Ya Alloh, aku datang kepadaMu dengan diriku yang Engkau ciptakan, Engkau jaga, dan Engkau lebih tahu segala isinya.” Dalam kondisi ini, diri tidak menuntut, tetapi berserah, tidak merasa layak, tetapi berharap karena rahmatNya.

 

Diri yang dijadikan wasilah(perantara) adalah diri yang bertaubat, yang mengakui salah sebelum meminta benar, yang membersihkan hati sebelum memohon pertolongan. Sebab Alloh tidak menilai rupa dan kata, melainkan keikhlasan hati. Ketika diri dibawa dalam tawassul, sesungguhnya yang dipersembahkan adalah kerendahan dan kejujuran, dua kunci yang membuka pintu kedekatan.

Hanya Allah Tempat Kembali

Bertawassul dengan diri juga bermakna menghadirkan seluruh pengalaman hidup luka, kegagalan, doa yang belum terjawab sebagai pelajaran untuk semakin bergantung kepada Alloh. Diri yang pernah jatuh menjadi saksi bahwa hanya Alloh tempat kembali. Diri yang pernah kuat menjadi pengingat bahwa semua kekuatan hanyalah titipan.

 

Pada akhirnya, bertawassul dengan diri adalah perjalanan mengenal siapa kita di hadapan Alloh. Ketika diri menyadari kehambaannya, maka Alloh menurunkan ketenanganNya.

 

Ketika diri meniadakan keakuan, maka Alloh menghadirkan jalan. Dan ketika diri berserah sepenuhnya, di situlah hikmah hidup mulai terungkap, bahwa yang paling dekat membawa kita kepada Alloh adalah diri yang ikhlas kembali kepadaNya. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.