Gaya hidup modern seringkali menjebak manusia dalam budaya konsumsi yang tidak terkendali. Islam telah lama memberikan peringatan keras mengenai perilaku ini melalui konsep israf. Secara harfiah, israf berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Dalam konteks kesehatan Larangan Israf dan Penyakit Metabolik, israf menjadi pintu gerbang utama munculnya berbagai penyakit metabolik yang mematikan.
Pandangan Al-Qur’an Tentang Israf
Allah SWT secara eksplisit melarang hamba-Nya untuk bersikap berlebihan dalam hal apa pun, termasuk urusan makan. Hal ini termaktub dalam Surat Al-A’raf ayat 31:
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Kutipan tersebut bukan sekadar anjuran moral. Ayat ini mengandung prinsip medis yang sangat mendasar. Ketika seseorang mengonsumsi makanan melebihi kebutuhan tubuh, ia sedang menabung racun dalam bentuk lemak dan gula darah.
Mekanisme Israf Menjadi Penyakit Metabolik
Penyakit metabolik mencakup sekelompok kondisi seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Semua kondisi ini berakar pada ketidakseimbangan energi. Saat kita makan berlebihan, tubuh memproses kalori secara masif. Organ pankreas bekerja ekstra keras memproduksi insulin untuk menurunkan kadar gula darah.
Jika perilaku israf ini terus berlanjut, sel-sel tubuh akan mengalami resistensi insulin. Tubuh tidak lagi mampu merespons hormon insulin dengan baik. Akibatnya, kadar gula darah tetap tinggi dan merusak pembuluh darah. Inilah awal mula komplikasi jantung, gagal ginjal, hingga stroke.
Proporsi Makan Menurut Sunnah
Rasulullah SAW telah memberikan panduan praktis untuk mencegah israf. Beliau menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam perut. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
“Tiada tempat yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR. Tirmidzi).
Panduan ini sangat relevan dengan sains kedokteran saat ini. Memberikan ruang kosong dalam lambung membantu proses pencernaan berjalan optimal. Lambung yang terlalu penuh akan menghambat kerja diafragma dan mengganggu sistem pernapasan serta sirkulasi darah.
Gaya Hidup Sedenter dan Israf Nutrisi
Masalah menjadi lebih parah ketika perilaku makan berlebih bertemu dengan gaya hidup kurang gerak. Masyarakat modern cenderung mengonsumsi makanan padat kalori namun minim aktivitas fisik. Kita sering menyebutnya sebagai “israf nutrisi”. Kalori yang masuk tidak terbakar menjadi energi, melainkan tertimbun sebagai lemak viseral.
Lemak viseral membungkus organ-organ dalam tubuh. Lemak ini sangat berbahaya karena bersifat pro-inflamasi. Ia memicu peradangan kronis yang merusak jaringan tubuh secara perlahan. Inilah mengapa perilaku berlebihan menjadi akar segala penyakit yang kita derita saat ini.
Langkah Mencegah Israf dalam Keseharian
Bagaimana kita bisa menghindari perilaku israf? Langkah pertama adalah membangun kesadaran akan jenis makanan. Pilihlah makanan yang bergizi utuh, bukan makanan olahan yang mengandung banyak gula dan garam. Makanan alami cenderung memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga mencegah kita makan secara berlebihan.
Kedua, terapkan konsep makan secara sadar (mindful eating). Nikmati setiap suapan dan berhentilah sebelum merasa sangat kenyang. Rasulullah SAW mencontohkan pola hidup yang sangat sederhana namun kuat. Beliau sangat jarang mengalami sakit karena menjaga pola makan yang sangat disiplin.
Ketiga, tingkatkan aktivitas fisik untuk membakar sisa metabolisme. Olahraga secara teratur membantu sel-sel tubuh kembali sensitif terhadap insulin. Hal ini secara efektif mampu memutus rantai risiko penyakit metabolik.
Kesimpulan
Larangan israf dalam Islam adalah bentuk kasih sayang Sang Pencipta kepada manusia. Dengan menjauhi perilaku berlebihan, kita sebenarnya sedang menjaga amanah berupa kesehatan tubuh. Penyakit metabolik bukanlah takdir yang tidak bisa kita hindari. Penyakit tersebut adalah hasil dari akumulasi kebiasaan buruk yang melampaui batas.
Mari kita kembali kepada pola hidup moderat yang diajarkan agama. Makanlah secukupnya, pilih nutrisi yang halal lagi baik, dan gerakkan tubuh secara aktif. Sehat adalah modal utama untuk menjalankan ibadah dan aktivitas dengan maksimal. Ingatlah bahwa kesehatan dimulai dari piring makan kita hari ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
