Kalam
Beranda » Berita » Cara Taubat dari Ghibah: Langkah Nyata Menghapus Dosa Lisan

Cara Taubat dari Ghibah: Langkah Nyata Menghapus Dosa Lisan

Ghibah atau membicarakan aib orang lain sering terjadi dalam pergaulan sehari-hari. Banyak orang menganggap obrolan ini sebagai bumbu percakapan yang remeh. Padahal, Islam memandang ghibah sebagai perbuatan yang sangat tercela. Al-Quran mengibaratkan pelaku ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati.

Menarik kembali kata-kata yang sudah terucap bukanlah perkara mudah. Kata-kata bagaikan anak panah yang sudah lepas dari busurnya. Namun, pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri. Anda perlu memahami langkah-langkah yang tepat untuk membersihkan diri dari dosa ini.

Memahami Definisi Ghibah

Sebelum bertaubat, Anda harus memahami apa itu ghibah. Rasulullah SAW memberikan batasan yang sangat jelas mengenai hal ini. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

“Ghibah itu adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu hal yang tidak ia sukai.”

Seorang sahabat kemudian bertanya, “Bagaimana jika pada saudaraku itu memang terdapat apa yang aku ucapkan?”. Beliau menjawab:

Ketika Jabatan Berakhir, Dedikasi yang Bicara

“Jika padanya terdapat apa yang engkau ucapkan, maka engkau telah melakukan ghibah. Dan jika padanya tidak terdapat apa yang engkau ucapkan, maka engkau telah melakukan buhtan (kebohongan).”

Langkah Utama Bertaubat kepada Allah

Taubat dari ghibah melibatkan dua dimensi, yaitu hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Secara vertikal, Anda harus melakukan taubat nasuha kepada Allah SWT. Langkah pertama adalah menghentikan perilaku ghibah tersebut seketika. Anda tidak boleh melanjutkan pembicaraan buruk itu lagi.

Langkah kedua adalah menyesali perbuatan tersebut dengan setulus hati. Rasakan kepedihan karena telah melanggar larangan Allah dan menyakiti sesama. Langkah ketiga, Anda harus bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Janjikan pada diri sendiri untuk menjaga lisan lebih baik di masa depan.

Meminta Maaf kepada Korban Ghibah

Dosa ghibah berkaitan erat dengan hak sesama manusia atau haqqul adami. Allah tidak akan mengampuni dosa ini sebelum korban memaafkan pelakunya. Oleh karena itu, Anda idealnya mendatangi orang tersebut dan meminta maaf secara langsung. Sampaikan permohonan maaf dengan jujur tanpa harus mendetailkan semua ucapan buruk Anda.

Namun, para ulama memberikan catatan penting dalam masalah ini. Jika meminta maaf secara langsung justru memicu konflik baru, Anda bisa menempuh cara lain. Terkadang, mengetahui dirinya menjadi bahan gunjingan akan membuat seseorang merasa sangat terluka. Dalam kondisi ini, kejujuran Anda mungkin akan memperburuk keadaan dan memutus silaturahmi.

Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

Cara Menarik Kembali Kata-kata yang Tersebar

Bagaimana jika ucapan Anda sudah tersebar luas ke banyak orang? Anda harus berusaha menetralisir dampak negatif dari ucapan tersebut. Datangilah orang-orang yang sebelumnya mendengarkan ghibah Anda. Katakan kepada mereka bahwa ucapan Anda sebelumnya adalah salah dan tidak pantas.

Anda harus memuji orang yang Anda ghibahi di depan orang-orang tersebut. Sebutkan kebaikan-kebaikannya untuk memulihkan nama baiknya yang sempat tercemar. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban nyata atas lisan Anda. Cara ini akan membantu menghapus persepsi buruk yang mungkin muncul di benak pendengar.

Mendoakan dan Memohonkan Ampun

Jika Anda tidak mungkin menemui orang tersebut, perbanyaklah mendoakannya. Mintalah kepada Allah agar memberikan ampunan dan keberkahan bagi orang yang Anda sakiti. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mendoakan korban ghibah bisa menjadi kaffarah atau penebus dosa.

Sebutkan nama orang tersebut dalam sujud-sujud panjang Anda. Mohonkan kebaikan dunia dan akhirat baginya sebagai bentuk kompensasi atas lisan Anda. Lakukan hal ini secara istiqomah sampai hati Anda merasa tenang. Kebaikan yang Anda kirimkan lewat doa akan menjadi pemberat timbangan amal di akhirat kelak.

Menjaga Lisan di Masa Depan

Bertaubat berarti melakukan perubahan perilaku secara total. Mulailah menyibukkan diri dengan dzikir atau perkataan yang bermanfaat. Jika Anda berada dalam forum yang mulai membicarakan orang lain, segera alihkan pembicaraan. Anda juga bisa memilih untuk meninggalkan tempat tersebut demi menjaga kesucian hati.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Ingatlah selalu bahwa setiap kata akan tercatat oleh malaikat. Menjaga lisan adalah cerminan dari kualitas iman seseorang. Dengan menjaga lisan, Anda tidak hanya menyelamatkan orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri sendiri dari api neraka. Fokuslah pada aib sendiri daripada sibuk mencari-cari kekurangan orang lain.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.