SURAU.CO – Di zaman ketika manusia diukur dari apa yang ia miliki dan jabatan apa yang ia duduki, dunia seakan menjelma menjadi “tuhan” baru. Masyarakat mereduksi ukuran keberhasilan menjadi angka: saldo, aset, pengaruh, kursi kekuasaan. Media menampilkan kemewahan sebagai standar kebahagiaan, sementara orang-orang memperebutkan kekuasaan seolah ia tiket keselamatan.
Dalam iklim seperti ini, pesan Al-Qur’an terasa seperti suara asing: bahwa harta dan tahta bukan tujuan, melainkan ujian; bukan mahkota, melainkan beban; bukan akhir perjalanan, melainkan persinggahan yang menipu.
Allah Ta‘ala menegaskan dengan bahasa yang sangat tegas:
> ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ…
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)
Imam Ibn Kathir rahimahullah merendahkan dunia dengan ayat ini, agar manusia tidak tertipu gemerlapnya dan tidak menjadikannya tujuan akhir.^1 Dunia menyibukkan tanpa memberi keselamatan, menghiasi tanpa memberi ketenangan, memikat tanpa menjamin keberlangsungan -itulah la‘ib dan lahw.
Harta: Nikmat yang Menjadi Fitnah
Islam tidak memusuhi harta. Al-Qur’an mengakui bahwa harta adalah khair (kebaikan) bila berada di tangan orang saleh. Namun, Islam sangat keras ketika harta berpindah dari tangan ke hati. Pada titik itu, ia berubah dari nikmat menjadi fitnah.
Allah berfirman:
> وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌۭ
“Ketahuilah, sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan.” (QS. Al-Anfal: 28)
Al-Hasan al-Basri rahimahullah berkata, “Fitnahnya harta adalah ketika ia diambil bukan dari haknya dan ditahan bukan pada haknya.”^2 Artinya, bukan jumlah yang dipersoalkan, tetapi cara memperoleh dan cara menggunakan.
Rasulullah ﷺ menegaskan:
> إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi)
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa fitnah harta pada umat ini lebih dahsyat karena pintunya terbuka luas, sementara hati banyak yang lemah dalam menahannya.^3 Maka tidak mengherankan bila banyak orang shalat, tetapi hatinya sujud kepada dunia; lisannya berzikir, tetapi pikirannya dipenuhi kalkulasi materi.
Tahta: Ujian yang Lebih Halus dan Lebih Mematikan
Jika harta menguasai tangan, maka tahta menguasai jiwa. Kekuasaan membuat seseorang dipanggil, dihormati, ditakuti, dan ditaati. Dan di sanalah penyakit-penyakit batin menemukan ladang paling subur: ujub, takabur, riya’, dan cinta pujian.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan sangat jelas:
> إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Kalian akan berambisi terhadap kekuasaan, padahal ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa penyesalan itu terjadi ketika seseorang mengambil jabatan tanpa hak atau tidak menunaikan amanahnya secara sempurna.^4 Jabatan bukan perhiasan, melainkan beban hisab. Semakin tinggi, semakin berat.
Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya seekor keledai tersandung di Irak, aku takut Allah akan bertanya kepadaku mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya.”^5 Inilah fiqh kekuasaan para salaf: melihat jabatan bukan sebagai kehormatan, tetapi sebagai ancaman.
Dunia: Indah, tetapi Menipu
Allah tidak melarang menikmati dunia. Tetapi Allah mengingatkan bahwa dunia tidak jujur terhadap para pencintanya. Ia memikat, lalu meninggalkan. Ia memberi, lalu merampas. Ia mendekat, lalu mengkhianati.
Allah berfirman:
> وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Imam al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan mataa‘ul ghurūr sebagai kenikmatan yang sedikit, cepat sirna, dan membuat lalai dari kenikmatan yang kekal.^6 Dunia disebut menipu karena ia memberi janji yang tidak pernah ditepati: menjanjikan bahagia, tetapi melahirkan cemas; menjanjikan aman, tetapi menumbuhkan takut; menjanjikan mulia, tetapi berakhir dengan kain kafan.
Kaya yang Hakiki
Nabi ﷺ meluruskan definisi kaya:
> لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya adalah kaya jiwa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa kaya jiwa adalah qana‘ah, merasa cukup dengan pemberian Allah, sehingga dunia tidak menguasai hatinya.^7 Inilah kekayaan yang membuat seseorang tidak hina ketika miskin dan tidak sombong ketika kaya.
Sulaiman ‘alaihissalam adalah raja terbesar dalam sejarah manusia. Namun ketika melihat singgasananya dipindahkan, ia berkata:
> هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.” (QS. An-Naml: 40)
Imam ath-Thabari rahimahullah menegaskan bahwa para nabi memandang nikmat sebagai ujian, bukan sebagai bukti kehebatan diri.^8 Inilah perbedaan mendasar antara pandangan iman dan pandangan dunia.
Semua Akan Berakhir
Tidak ada kalimat yang lebih menghancurkan kesombongan selain firman Allah:
> كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۢ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan yang kekal hanyalah Wajah Tuhanmu.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)
Ibn Taymiyyah rahimahullah berkata, “Siapa yang menjadikan kefanaan dunia sebagai pelajaran, niscaya ia akan mempersiapkan diri untuk apa yang tidak fana.”^9 Rumah akan ditinggal. Jabatan akan dicabut. Nama akan dilupakan. Yang ikut masuk ke kubur hanya kain kafan dan amal.
Orientasi yang Dibetulkan
Islam tidak memerintahkan umatnya menjadi rahib. Islam meluruskan orientasi. Dunia bukan ditinggalkan, tetapi ditempatkan. Allah berfirman:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا
“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu kebahagiaan akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ibn al-Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menempatkan dunia sebagai wasilah, bukan ghayah; sebagai kendaraan, bukan tujuan.^10 Orang beriman bekerja, tetapi untuk ibadah. Memimpin, tetapi untuk khidmat. Memiliki, tetapi untuk memberi.
Penutup: Yang Akan Menyelamatkan
Pada hari ketika seluruh simbol dunia runtuh, Allah menegaskan:
> يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Hasan al-Basri rahimahullah berkata, “Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari syirik dan dari cinta dunia yang merusak.”^11
Maka harta dan tahta bukan masalah utama. Masalahnya adalah ketika keduanya tinggal di hati. Sebab yang sementara tidak pantas menempati ruang yang diciptakan untuk Yang Maha Kekal.
Semoga kita termasuk orang yang menjadikan dunia di tangan, bukan di dada; menjadikan jabatan sebagai ladang amal, bukan singgasana kesombongan; dan menjadikan harta sebagai jalan menuju ridha Allah, bukan berhala yang menyita jiwa.
CATATAN KAKI (FOOTNOTE)
- Ibn Kathir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, tafsir QS. Al-Hadid: 20.
-
Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam Dzamm ad-Dunyâ.
-
Ibn Rajab al-Hanbali, Jâmi‘ al-‘Ulûm wal Hikam, syarah hadis tentang fitnah harta.
- An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Kitab al-Imarah.
-
Diriwayatkan oleh Ibn al-Jawzi dalam Shifat ash-Shafwah.
-
Al-Qurthubi, Al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân, tafsir QS. Ali ‘Imran: 185.
-
Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bâri, syarah hadis “laysa al-ghina ‘an katsratil ‘aradh”.
-
Ath-Thabari, Jâmi‘ al-Bayân, tafsir QS. An-Naml: 40.
-
Ibn Taymiyyah, Majmû‘ al-Fatâwâ, pembahasan tentang zuhud dan akhirat.
-
Ibn al-Qayyim, Al-Fawâ’id, bab tentang hakikat dunia.
-
Al-Hasan al-Basri, dinukil oleh Ibn Rajab dalam Jâmi‘ al-‘Ulûm wal Hikam. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
