Kalam
Beranda » Berita » Kehilangan Hewan Peliharaan: Bolehkah Bersedih Menurut Riyadus Shalihin?

Kehilangan Hewan Peliharaan: Bolehkah Bersedih Menurut Riyadus Shalihin?

Kehilangan hewan peliharaan sering kali membawa duka yang sangat mendalam. Banyak pemilik hewan merasakan kesedihan serupa seperti kehilangan anggota keluarga. Kucing, anjing, atau burung kesayangan bukan sekadar binatang bagi mereka. Hewan-hewan ini telah menjadi teman setia dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagaimana Islam memandang Kehilangan Hewan Peliharaan dalam Islam? Apakah kitab Riyadus Shalihin karya Imam Nawawi memberikan penjelasan mengenai hal ini?

Fitrah Manusia Mencintai Hewan

Manusia memiliki kecenderungan alami untuk menyayangi makhluk hidup lain. Islam mengakui perasaan kasih sayang ini sebagai bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah menurunkan rahmat-Nya ke bumi. Sebagian dari rahmat itu membuat induk binatang menyayangi anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa empati terhadap hewan adalah hal yang sangat mulia.

Saat seekor hewan peliharaan mati, rasa kehilangan tentu akan muncul secara spontan. Pemilik mungkin akan menangis atau merasa hampa. Islam tidak melarang perasaan sedih yang bersifat manusiawi seperti ini. Justru, rasa sedih tersebut menunjukkan sisi kelembutan hati seseorang.

Kisah Abu ‘Umair dalam Riyadus Shalihin

Imam Nawawi dalam kitab Riyadus Shalihin mencantumkan hadis yang sangat menarik. Hadis ini menceritakan interaksi Rasulullah SAW dengan seorang anak kecil. Anak tersebut bernama Abu ‘Umair yang memiliki seekor burung kecil (nughair). Suatu hari, burung kesayangan Abu ‘Umair mati sehingga anak itu merasa sangat sedih.

Rasulullah SAW melihat kesedihan Abu ‘Umair dan tidak memarahinya. Beliau justru menghibur anak tersebut dengan kalimat yang hangat. Berikut adalah kutipan hadis tersebut:

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

“Ya Aba ‘Umair, ma fa’alan nughair?” (Wahai Abu ‘Umair, apa yang sedang dilakukan oleh si burung kecil itu?)

Para ulama mengambil banyak pelajaran berharga dari hadis singkat ini. Rasulullah SAW menunjukkan empati yang luar biasa terhadap duka seorang anak. Beliau tidak menganggap remeh kematian seekor burung kecil. Sikap Nabi ini membuktikan bahwa bersedih karena kehilangan hewan peliharaan adalah hal yang wajar.

Batasan Sedih Menurut Syariat

Meskipun Islam memperbolehkan rasa sedih, kita harus memperhatikan batasan tertentu. Kita tidak boleh melakukan niyahah atau meratap secara berlebihan. Meratap secara berlebihan meliputi tindakan berteriak-teriak atau menyalahkan takdir Allah. Islam mengajarkan umatnya untuk tetap sabar dalam menghadapi setiap ujian.

Anda boleh menangis saat kucing atau burung kesayangan mati. Namun, jangan sampai kesedihan itu membuat Anda meninggalkan kewajiban ibadah. Kesedihan yang sehat adalah kesedihan yang membawa kita pada keikhlasan. Kita harus menyadari bahwa semua makhluk adalah milik Allah SWT. Dia berhak mengambil kembali apa yang Dia titipkan kepada kita.

Menyayangi Hewan Berbuah Surga

Kitab Riyadus Shalihin juga banyak membahas tentang ganjaran menyayangi hewan. Ada kisah terkenal tentang seorang pria yang memberi minum anjing kehausan. Allah memberikan ampunan kepada pria tersebut karena sifat welas asihnya. Sebaliknya, Islam mengancam orang yang menyiksa hewan dengan siksa neraka.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Kasih sayang Anda kepada hewan peliharaan memiliki nilai pahala yang besar. Rasa sedih saat mereka mati membuktikan bahwa Anda telah memenuhi hak mereka. Anda telah memberikan kasih sayang dan perawatan yang baik selama mereka hidup. Perasaan ini adalah bukti bahwa cahaya Islam ada dalam hati Anda.

Cara Menghadapi Kehilangan Hewan

Jika Anda sedang berduka karena kehilangan hewan, lakukanlah beberapa langkah positif. Pertama, terima perasaan sedih itu sebagai bagian dari proses penyembuhan. Jangan menekan emosi Anda secara paksa. Kedua, ingatlah momen-momen indah yang pernah Anda lalui bersama hewan tersebut.

Ketiga, berdoalah kepada Allah agar memberikan ketenangan di dalam hati. Anda bisa mengalihkan kasih sayang tersebut dengan membantu hewan jalanan yang membutuhkan. Memberi makan kucing liar bisa menjadi cara untuk menghormati memori hewan peliharaan Anda.

Kesimpulan

Kehilangan hewan peliharaan memang menyakitkan bagi siapa saja. Kitab Riyadus Shalihin melalui hadis Abu ‘Umair melegitimasi perasaan empati ini. Rasulullah SAW telah mencontohkan cara bersikap lembut terhadap orang yang kehilangan hewannya. Selama tidak berlebihan, rasa sedih Anda sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam.

Mari kita terus memupuk rasa sayang terhadap semua makhluk ciptaan Allah. Semoga kasih sayang yang kita berikan menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Islam adalah agama yang penuh rahmat, bahkan untuk seekor burung kecil sekalipun.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.