SURAU.CO. Kita menyadari bahwa setiap manusia tidak pernah luput dari melakukan kesalahan dan kekhilafan yang kemudian berbuah dosa. Namun Allah SWT, Dazt yang Maha Pengampun akan memaafkan dan mengampuni hambanya ketika bertobat secara sungguh-sungguh. Maka sangat penting bagi hamba untuk selalu menyadari perbuatan dan melakukan taubat. Untuk itu kita harus benar-benar paham akan makna tobat itu sehingga menjadi paham apa hakikatnya. Nah beberapa ulama mempunyai pandangan tentang tobat ini sehingga dapat menjadi pelajaran dan referensi untuk memahami taubat secara mendalam.
Secara etimologi, kata taubat dapat dijumpai di berbagai kamus, seperti dalam Kamus Arab Indonesia karya Mahmud Yusuf menyebut taubat mempunyai arti menyesali atas perbuatan dosa. Secara bahasa taubat adalah kembali. Taubat kepada Allah berarti kembali kepada Allah, serta kembali dari sesuatu yang dilarang oleh syara’ menuju yang dipuji oleh syara’. Pengertian secara terminologis banyak pendanpat dari ahli. Syekh Al-Anshari dalam kitab Al-Kasib mengatakan bahwa taubat adalah kembali kepada jalan yang lurus (AlShirath Al-Mustaqim) setelah tersesat.
Taubat Imam Ali
Sementara Menurut syekh Jamilah Al Mashri dalam bukunya Tathhrir Al-qulub Min Jarah Adz-Dzunub menyebut taubat berarti seorang hamba yang kembali mendekat pada Allah SWT. Ia berpaling dari segala hal yang mendapatkan murka Allah SWT dan menyesatkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia taubat memiliki arti yaitu “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan”.
Imam Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa taubat memiliki enam makna. Makna yang pertama adalah merasakan penyesalan karena atas perbuatan dosa sebelumnya. Kedua, memastikan untuk tidak melakukannya lagi selamanya. Ketiga, memberi hak-hak orang-orang yang telah ia ambil. Keempat, melaksanakan kewajiban yang telah ia lewatkan. Kelima, melelehkan daging yang menempel pada tubuhnya dari bahan-bahan haram dengan menyesali dan mengganti dengan bahan-bahan yang halal. Keenam, membuat tubuh merasakan sakitnya ketaatan sebagaimana merasakan manisnya pembangkangan.
Pendakian Spiritual
Sedangkan menurut Imam Al-Qusyairi hakikat taubat menurut arti bahasa adalah “kembali”. Kata “taba” berarti kembali, maka taubat maknnya juga kembali. Artinya kembali dari sesuatu yang tercela dalam syari’at menuju sesuatu yang mendapatkan pujian dalam syari’at. Menurutnya manusia harus kembali ke jalan yang benar sesuai syari’at Islam. Untuk itu kita tidak boleh menunda-nunda taubat, karena dengan bertaubat dapat membantu manusia kembali kepada jalan yang diridhoi oleh Allah.
Dalam dunia sufi, taubat adalah tempat pendakian spiritual yang pertama bagi pejalan ruhani. menurut padangan Imam al-Junaid taubat mempunyai tiga makna yaitu pertama penyesalan. Kedua tekad meninggalkan (dan tidak kembali) kepada apa yang menjadi larangan Allah. Dan ketiga adalah berusaha memenuhi hak-hak orang yang pernah dianiaya.” Sedangkan Dzun Nun al-Misri berkata,”Taubat orang awam sebabnya adalah dosa, sedangkan taubat orang khusus karena dirinya lupa.” Dzun Nun menyebutkan permohonan ampun tanpa melepaskan dosa adalah tubatnya para pendusta.
Sufi masyhur ini berkata lagi,” Hakekat taubat menjadikan kamu keleluasaan bumi ini terasa sempit, sehingga tidak ada tempat menetap bagimu. Kemudian jiwamu terasa sempit . Sedangkan Husein an-Nuri mengatakan bahwa taubat adalah proses pelaksanaan taubat dari segala sesuatu selain Allah. Adapun al-Wasiti berkata tidak akan meninggalkan bekas kemaksiatan pada pemiliknya baik yang bersifat samar maupun jelas. “ Taubat itu ada dua: taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah adalah sikap taubat seorang hamba yang takut siksaan-Nya. Sedangkan taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemulian-Nya.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
