SURAU.CO – Pendahuluan: Kalimat Populer yang Bermasalah. Di tengah masyarakat Muslim, ungkapan “Allah ada di mana-mana” sering diucapkan untuk menanamkan rasa diawasi Allah. Secara tujuan, ungkapan ini mungkin dimaksudkan baik. Namun dalam timbangan akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, kalimat tersebut tidak tepat bila diyakini secara hakiki, karena mengandung konsekuensi bahwa Allah bercampur dengan makhluk, berada di tempat-tempat najis, sempit, dan hina.
Padahal Allah Maha Suci dari seluruh sifat makhluk.poor mmbuat Islam datang bukan hanya membawa ibadah, tetapi juga konsepsi ketuhanan yang lurus. Di antarIsra’ Mi‘raj: Perjalanan Naik sebagai Pernyataan Tauhid.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ
ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ﴾ (QS. al-Isrā’: 1)
Isra’ membawa Nabi ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Puncak spiritualnya adalah Mi‘raj: Rasulullah ﷺ menembus langit demi langit hingga Sidratul Muntaha, dengan bahasa wahyu yang menegaskan ketinggian: “dinaikkan”, “mencapai langit”, “diangkat”.
Seandainya Allah “ada di mana-mana” secara zat, untuk apa Nabi ﷺ dinaikkan? Untuk apa perjalanan vertikal yang luar biasa ini? Mi‘raj secara akidah adalah penegasan bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya, bukan menyatu di dalam alam.
Perintah Shalat Turun dari Atas
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa kewajiban shalat ditetapkan ketika Nabi ﷺ berada di atas langit:
> «فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ صَلَاةً…»
“Diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Perintah ibadah terbesar tidak turun ke bumi, tapi Allah bawa Rasul-Nya ke atas, ke tempat tak terjangkau makhluk biasa. Ini adalah isyarat teologis yang sangat kuat: Allah yang memerintah berada di atas makhluk, bukan di dalam makhluk.
Imam Abu al-‘Izz al-Hanafi رحمه الله menegaskan:
“Seandainya Allah berada di setiap tempat, maka tidak ada makna dikhususkannya Mi‘raj.”¹
Al-Qur’an Konsisten dengan Konsep Ketinggian
Peristiwa Mi‘raj bukan berdiri sendiri. Ia sejalan dengan puluhan ayat:
﴿يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ﴾
“Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka.” (QS. an-Nahl: 50)
﴿ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ﴾
“Apakah kalian merasa aman dari yang di atas langit?” (QS. al-Mulk: 16)
﴿ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ﴾
“Yang Maha Pengasih beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (QS. Thāhā: 5)
Para ulama salaf sepakat bahwa ayat-ayat ini menetapkan ketinggian Allah dan istiwa’-Nya di atas ‘Arsy sesuai keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dan tanpa menanyakan bagaimana.²
Sunnah Menegaskan, Bukan Menafikan
Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada seorang budak perempuan:
> «أَيْنَ اللَّهُ؟»
“Di mana Allah?”
Ia menjawab: “فِي السَّمَاءِ” (Di atas langit).
Nabi ﷺ bersabda: “أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ”
“Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah.” (HR. Muslim)
Hadis ini sangat jelas. Nabi ﷺ tidak mengoreksi jawaban “di atas langit”. Bahkan menjadikannya sebagai tanda keimanan. Seandainya akidah yang benar adalah “Allah ada di mana-mana”, tentu Rasulullah ﷺ yang paling tahu tauhid akan meluruskannya.
Bahaya Konsekuensi Akidah “Ada di Mana-mana”
Keyakinan bahwa Allah berada di setiap tempat secara zat melahirkan konsekuensi berbahaya:
- Meniscayakan Allah berada di tempat najis dan hina.
-
Menghapus makna ketinggian, keagungan, dan rububiyyah.
-
Mendekatkan pada paham hulul dan wahdatul wujud.
-
Menabrak fitrah manusia yang selalu menengadah ketika berdoa.
Padahal Ahlus Sunnah membedakan antara zat Allah dan ilmu Allah. Allah Mahatinggi dengan zat-Nya, namun ilmu, pendengaran, dan penglihatan-Nya meliputi segala sesuatu.
Imam Malik رحمه الله berkata tentang istiwa’:
“Al-istiwa’ itu معلوم (maknanya diketahui), kaifiyyah-nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya bid‘ah.”³
Isra’ Mi‘raj: Pelajaran Akidah di Balik Mukjizat
Isra’ Mi‘raj bukan sekadar kisah perjalanan, tetapi kurikulum tauhid. Allah tidak turun ke bumi untuk bertemu Rasul-Nya, tetapi Rasul-Nya yang dimi‘rajkan. Ini menunjukkan perbedaan mutlak antara Khaliq dan makhluk.
Ibn Taymiyyah رحمه الله menegaskan:
> “Telah disepakati oleh salaf umat dan para imamnya bahwa Allah di atas langit, di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya.”⁴
Dengan demikian, Mi‘raj adalah bantahan hidup terhadap semua konsep yang menurunkan Allah dari ketinggian-Nya.
Kesimpulan: Luruskan Ungkapan, Selamatkan Akidah
Umat Islam harus memahami ungkapan “Allah ada di mana-mana” sebagai “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu di mana-mana”. Yang benar adalah mengatakan:
“Allah di atas seluruh makhluk-Nya, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.”
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa semakin tinggi Nabi ﷺ dinaikkan, semakin jelas bagi umat bahwa Rabb yang disembah adalah Allah Yang Mahatinggi, bukan Allah yang larut dalam alam.
Di sinilah Mi‘raj menjadi penjaga tauhid. Ia mengangkat pandangan manusia dari bumi menuju langit, dari makhluk menuju Khaliq, dari filsafat menuju wahyu.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Footnote
-
Ibn Abil ‘Izz al-Hanafi, Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, tahqiq al-Albani, hlm. 301.
-
Lihat: al-Lalika’i, Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah wal Jama‘ah, 3/396.
-
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Asma’ was Shifat, no. 516.
-
Ibn Taymiyyah, Majmu‘ al-Fatawa, 5/184. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
