Khazanah
Beranda » Berita » Hikmah Ilmu “Menempatkan Pengertian Sesuai Hadis tentang Segumpal Darah: Dimaknai Jantung, Kolbu, atau Hati (Liver)”

Hikmah Ilmu “Menempatkan Pengertian Sesuai Hadis tentang Segumpal Darah: Dimaknai Jantung, Kolbu, atau Hati (Liver)”

Hikmah Ilmu "Menempatkan Pengertian Sesuai Hadis tentang Segumpal Darah: Dimaknai Jantung, Kolbu, atau Hati (Liver)"
Hikmah Ilmu "Menempatkan Pengertian Sesuai Hadis tentang Segumpal Darah: Dimaknai Jantung, Kolbu, atau Hati (Liver)"

 

SURAU.CO – Rasulullah SAW bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah al qalb.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dipahami secara beragam: ada yang memaknainya sebagai jantung, ada yang menyebutnya kolbu, bahkan ada yang mengaitkannya dengan hati (liver). Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk ditempatkan sesuai lapis maknanya.

Hikmah Penempatan Makna: Tidak Semua Harus Disatukan

Kesalahan manusia sering muncul ketika memaksakan satu makna untuk seluruh dimensi. Padahal, Rasulullah SAW berbicara dengan bahasa hikmah, yang dapat menjangkau:

Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Isra Miraj dan Hikmahnya bagi Umat Islam

tubuh (jasmani),

kesadaran (akal),

dan ruh (batin).

Maka hadis segumpal darah tidak berhenti pada satu organ, tetapi membentang dari fisik hingga makna terdalam manusia.

Segumpal Darah sebagai Jantung (Makna Biologis)

Dalam sudut pandang ilmu kedokteran, segumpal darah sangat relevan dengan jantung:

Menelusuri Dimensi Kehambaan dalam Peristiwa Isra Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Intelektual

Jantung adalah organ pertama yang berfungsi sejak janin.

Jantung mengalirkan darah, oksigen, dan kehidupan.

Kerusakan jantung berdampak langsung pada seluruh tubuh.

Hikmahnya:

  • Jika aliran kehidupan rusak di pusatnya, maka seluruh sistem ikut rusak.

Ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW secara empirik dan ilmiah.

Konsistensi: Amal Sunyi yang Menjaga Peradaban

Segumpal Darah sebagai Kolbu (Makna Kesadaran dan Iman)

Namun Rasulullah SAW tidak menyebut al qalb tanpa makna.

Dalam Al-Qur’an, qalb adalah pusat: iman dan kufur, jujur dan munafik, lembut dan keras hati.

“Bukan mata yang buta, tetapi qalb yang ada di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46)

Hikmahnya:

  • Kerusakan manusia sering bukan karena tubuhnya, tetapi karena kolbunya kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.

Kolbu bukan organ, tetapi kesadaran batin yang berbolak-balik antara terang dan gelap.

Segumpal Darah sebagai Hati (Liver) Makna Keseimbangan Fisik

Dalam bahasa Arab klasik dan tradisi pengobatan:

Hati (liver) dikenal sebagai pusat metabolisme darah

Tempat penyaringan racun Penentu keseimbangan cairan dan energi tubuh

Hikmahnya:

  • Jika “racun” menumpuk dan tidak disaring, tubuh sakit.

  • Jika “racun batin” (iri, dengki, sombong) tidak disaring, jiwa sakit.

Di sini, hati (liver) menjadi simbol tazkiyah penyucian.

Hikmah Penyatuan Bertingkat (Bukan Penyamaan)

Rasulullah SAW tidak sedang mengajarkan anatomi semata, tetapi ilmu kehidupan.

Lapisan

Makna

Jantung Pusat kehidupan jasmani

Kolbu Pusat niat, iman, dan akhlak

Hati (liver) Pusat penyaringan dan keseimbangan

Bukan dipilih salah satu, melainkan ditempatkan sesuai fungsinya.

Hikmah Tertinggi, Perbaiki dari Dalam, Bukan dari Tampilan

Hadis ini mengajarkan bahwa,

Perubahan sejati tidak dimulai dari perilaku,

tetapi dari pusat kesadaran dan niat.

Tubuh bisa tampak sehat, akal bisa tampak cerdas,

namun jika kolbu rusak, maka arah hidup pun menyimpang.

Akhir kata

Segumpal darah dalam hadis bukan sekadar organ,

melainkan titik temu antara tubuh, kesadaran, dan ruh.

Barang siapa menjaga kolbunya, maka tubuhnya mengikuti.

Barang siapa membiarkan kolbunya rusak, maka seluruh hidupnya terseret.

Semoga hikmah ini menuntun kita untuk,

menjaga jantung dengan hidup sehat,

membersihkan hati dari racun batin,

dan menajamkan kolbu dengan dzikir dan kesadaran kepadaNya.

 

 


Hikmah Diri “Mengakhiri dan Mengakhirkan Beban sebagai Tumpuan dengan Keikhlasan”

 

Dalam perjalanan hidup, manusia sering memikul beban yang tidak selalu terlihat oleh mata. Beban itu bisa berupa tanggung jawab, harapan, penyesalan masa lalu, ketakutan akan masa depan, bahkan beban ego yang merasa harus selalu kuat dan benar. Tidak semua beban harus diakhiri dengan cara dilepaskan sebagian justru perlu diakhirkan ditata waktunya, diserahkan prosesnya, dan dipercayakan hasilnya kepada Alloh dengan penuh keikhlasan.

Mengakhiri beban adalah keberanian untuk berhenti memikul sesuatu yang memang bukan lagi amanah kita. Ia menuntut kesadaran bahwa tidak semua hal harus kita selesaikan sendiri.

Ada batas kemampuan, ada titik lelah, dan ada ruang di mana tawakal harus mengambil alih. Mengakhiri bukan berarti lari, melainkan bentuk kejujuran pada diri bahwa kita hamba, bukan penguasa takdir.

Sementara itu, mengakhirkan beban adalah kebijaksanaan dalam menunda tanpa mengingkari tanggung jawab.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan hari ini, detik ini, atau dengan emosi yang masih bergelora.

Kekuatan Batin

Mengakhirkan berarti memberi jeda agar hati jernih, akal tenang, dan niat kembali lurus. Di sinilah sabar bekerja, bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai kekuatan batin.

Keikhlasan menjadi poros dari keduanya. Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi melepaskan keterikatan pada hasil setelah ikhtiar dilakukan. Ikhlas menata ulang tumpuan hidup dari bergantung pada kemampuan diri menuju bersandar penuh kepada kehendakNya. Ketika beban dijadikan tumpuan utama, jiwa menjadi rapuh.

Namun ketika Alloh dijadikan tumpuan, beban berubah menjadi sarana pendewasaan.

Sering kali beban terasa berat bukan karena isinya, tetapi karena cara kita memikulnya dengan keluh, dengan banding, dan dengan rasa “mengapa harus aku?”. Keikhlasan mengubah pertanyaan itu menjadi “apa yang ingin Engkau ajarkan melalui ini?”. Pada titik itu, beban tidak lagi menekan, melainkan membimbing.

Mengakhiri dan mengakhirkan beban dengan keikhlasan adalah seni hidup seorang mukmin tahu kapan melangkah, kapan berhenti; tahu kapan berjuang, kapan berserah. Hati yang ikhlas tidak kehilangan semangat, dan jiwa yang berserah tidak kehilangan arah. Di sanalah ketenangan tumbuh bukan karena beban hilang, tetapi karena tumpuan telah kembali pada tempat yang benar. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.