Khazanah
Beranda » Berita » Konsistensi: Amal Sunyi yang Menjaga Peradaban

Konsistensi: Amal Sunyi yang Menjaga Peradaban

Konsistensi: Amal Sunyi yang Menjaga Peradaban
Konsistensi: Amal Sunyi yang Menjaga Peradaban

 

SURAU.CO – Di zaman ketika segalanya diukur dari kecepatan dan viralitas, konsistensi justru menjadi nilai yang semakin langka. Kita hidup dalam budaya “mulai”, tetapi miskin “bertahan”. Banyak gerakan lahir, sedikit yang menua dengan bermartabat. Banyak program diluncurkan, tidak sedikit yang mati sebelum sempat berbuah. Di titik inilah Islam menghadirkan satu konsep kunci yang sering terdengar sederhana, tetapi amat berat dijalani: istiqamah.

Al-Qur’an tidak memuliakan iman yang sekadar diucap, tetapi iman yang dijaga.

> إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih.’” (QS. Fushshilat: 30)

Menelusuri Dimensi Kehambaan dalam Peristiwa Isra Mi’raj: Refleksi Spiritual dan Intelektual

Ayat ini menempatkan istiqamah bukan sebagai pelengkap iman, tetapi sebagai bukti iman. Bukan fase awal, melainkan fase panjang. Bukan momentum, melainkan perjalanan.

Antara Semangat dan Ketahanan

Masalah besar umat hari ini bukan kekurangan motivasi, tetapi kekurangan ketahanan. Seminar motivasi selalu penuh. Kajian hijrah ramai. Program sosial marak. Namun, grafiknya sering sama: naik cepat, turun lebih cepat. Semangat memang mudah dinyalakan, tetapi istiqamah hanya lahir dari jiwa yang ditempa.

Rasulullah ﷺ menegaskan ukuran langit itu dengan sangat jernih:

> أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kekuatan Super Jambu Biji

Hadis ini seolah mematahkan logika peradaban yang mengagungkan ledakan. Dalam Islam, yang dicari bukan ledakan, tetapi aliran. Amal yang terus hidup lebih dicintai daripada amal yang sempat gemerlap lalu padam. Dua rakaat yang tidak pernah putus lebih bernilai daripada dua ratus rakaat yang hanya hadir di musim tertentu. Sedekah kecil yang rutin lebih jujur daripada donasi besar yang lahir dari euforia.

Istiqamah memindahkan pusat penilaian dari “seberapa besar” ke “seberapa setia”.

Mengapa Istiqamah Begitu Berat?

Karena istiqamah tidak memberi panggung. Ia tidak selalu menghadirkan tepuk tangan. Ia bekerja dalam kesunyian, dalam rutinitas, dalam fase-fase di mana jiwa tidak lagi sedang “jatuh cinta”. Di titik inilah banyak amal gugur. Bukan di awal, tetapi di tengah. Bukan karena salah niat, tetapi karena lelah menjaga niat.

Allah bahkan memerintahkan Nabi-Nya dengan perintah yang sangat tegas:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Saat Rasulullah SAW Menegur Sahabat Umar bin Khattab

“Maka beristiqamahlah engkau sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112)

Para sahabat mengatakan, ayat inilah yang membuat rambut Rasulullah ﷺ memutih. Sebab istiqamah bukan tentang memulai dakwah, melainkan tentang memikulnya seumur hidup. Bukan tentang naik mimbar, tetapi tentang tetap berjalan ketika luka, penolakan, dan kelelahan datang silih berganti.

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله pernah berkata, “Tidak ada yang lebih berat atas jiwa selain istiqamah, karena di dalamnya tidak ada bagian untuk nafsu.” Nafsu suka pada yang baru, yang dipuji, yang cepat terlihat hasilnya. Istiqamah justru menuntut kesediaan menanam tanpa kepastian kapan panen.

Konsistensi dan Pembangunan Jiwa

Dalam perspektif pendidikan ruhani, konsistensi adalah alat pembentuk karakter. Amal yang sesekali hanya menyentuh permukaan. Amal yang berulang membentuk struktur batin. Dari sinilah shalat berubah dari kewajiban menjadi kebutuhan. Tilawah berubah dari target menjadi kerinduan. Sedekah berubah dari proyek menjadi identitas.

Hasan al-Bashri رحمه الله mengingatkan, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari pergi, maka sebagian dirimu pun pergi.” Konsistensi berarti menjaga hari-hari itu agar tidak berlalu kosong. Bukan dengan prestasi sesaat, tetapi dengan nilai yang menetap.

Peradaban tidak dibangun oleh heroisme musiman, melainkan oleh kesetiaan panjang. Masjid tidak hidup karena satu khutbah hebat, tetapi karena jamaah yang tidak pernah berhenti datang. Lembaga dakwah tidak kuat karena satu tokoh karismatik, tetapi karena barisan yang terus bekerja ketika tokoh itu telah tiada.

Konsistensi dalam Dakwah dan Sosial

Banyak inisiatif umat hari ini kandas bukan karena konsepnya salah, tetapi karena napasnya pendek. Program berhenti ketika penggerak utama lelah. Kajian bubar ketika sponsor pergi. Gerakan sosial melemah ketika tidak lagi viral.

Padahal Al-Qur’an sejak awal mengajarkan bahwa kemenangan bukan hanya soal strategi, tetapi soal stamina ruhani:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaran, dan tetaplah bersiap-siaga.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

Kata rābiṭū mengandung makna bertahan di garis depan. Bukan hanya di medan perang, tetapi juga di medan akhlak, pendidikan, dan pelayanan umat. Istiqamah di sini bukan sikap pasif, tetapi kesiapan terus-menerus untuk hadir, meski hasil belum tampak.

Istiqamah Bukan Tanpa Jatuh

Islam tidak menuntut konsistensi malaikat. Rasulullah ﷺ bersabda:

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا

“Beristiqamahlah kalian, meskipun kalian tidak akan mampu menyempurnakan semuanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat manusiawi. Istiqamah bukan berarti tidak pernah salah, tetapi tidak menjadikan salah sebagai alasan untuk berhenti. Bukan berarti tidak pernah futur, tetapi tidak menetap dalam futur. Dalam logika istiqamah, jatuh bukan kegagalan; yang gagal adalah enggan bangkit.

Karena itu Rasulullah ﷺ sendiri banyak berdoa:

> يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi)

Jika Nabi saja memohon keteguhan, maka konsistensi jelas bukan hasil manajemen waktu semata, melainkan karunia yang harus diminta setiap hari.

Strategi Kecil, Dampak Besar

Di tengah rapuhnya komitmen, Islam menawarkan pendekatan yang realistis: kecil tetapi terus hidup. Memulai dari amal yang paling mungkin dijaga. Mengikat kebaikan dengan waktu yang tetap. Menyembunyikan sebagian amal agar panjang umurnya. Mencari lingkungan yang meneguhkan, bukan yang hanya menyemangati. Dan yang terpenting, tidak pernah berhenti mengetuk pintu langit.

Konsistensi bekerja seperti tetesan air. Ia tidak memecah batu dalam sehari, tetapi ia mengubah bentuknya dalam diam. Dalam dunia yang bising oleh slogan, istiqamah justru membangun perubahan tanpa suara.

Penutup: Kesetiaan yang Menyelamatkan

Surga, dalam banyak ayat, dijanjikan bukan kepada yang paling keras suaranya, tetapi kepada yang paling panjang sabarnya. Bukan kepada yang paling mengesankan di awal, tetapi kepada yang paling setia di akhir.

Di hadapan Allah, sejarah manusia tidak ditulis dari ledakan-ledakan sesaat, tetapi dari langkah-langkah kecil yang tidak pernah berhenti. Dari shalat yang terus dijaga. Dan Dari amanah yang tidak ditinggalkan. Dari dakwah yang tidak padam walau pelaku berganti.

Maka di tengah dunia yang memuja cepat, Islam mengajak umatnya untuk setia. Karena dalam kesetiaan itulah amal tetap hidup, jiwa tetap tumbuh, dan peradaban tetap bernapas. Istiqamah bukan membuat kita terkenal. Ia membuat kita selamat. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.