Kisah
Beranda » Berita » Saat Rasulullah SAW Menegur Sahabat Umar bin Khattab

Saat Rasulullah SAW Menegur Sahabat Umar bin Khattab

ilustrasi

SURAU.CO. Dalam Islam ilmu laksana air yang menghidupkan bumi.  Ilmu hanya akan bermakna jika diserap dan memberi manfaat bagi sekitar. Apalah arti tumpukan pengetahuan jika hanya menjadi pajangan di kepala? Dan apalah arti kefasihan lisan membaca Al-Qur’an jika huruf-hurufnya tidak pernah membasahi hati melalui tadabur dan pengamalan?   Dalam tradisi Islam, ilmu bukan untuk dipamerkan, apalagi digunakan sebagai senjata dalam perdebatan yang hanya akan mengeraskan hati. Ini sebuah kisah penting terekam dalam perjalanan hidup sayidina Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, sosok yang kita kenal memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ketegasan yang luar biasa.

Kisah ini bermula ketika Sayidina Umar bin Khatab terlihat sedang asyik membolak-balik lembaran kitab suci milik kaum Yahudi. Ia menelaah isinya dari awal hingga akhir dengan penuh ketekunan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terbersit di benak sang “Al-Faruq” sehingga membuka kitab tersebut. Apakah beliau ingin mencari celah kelemahannya, mempelajarinya demi perbandingan, atau sekadar rasa penasaran?

Getaran Hati Sang Umar

Melihat tindakan Umar tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tinggal diam. Beliau memberikan sebuah teguran yang cukup tajam, dengan nasihat yang mengandung pelajaran mendalam tentang prioritas iman. Rasulullah bersabda yang maknanya menekankan bahwa sikap setengah-setengah dalam menuntut ilmu hanya akan membuang waktu. Beliau mengisyaratkan bahwa jika seseorang ingin mengambil manfaat dari suatu ajaran, ia harus benar-benar menyelaminya hingga menjadi ahli di sana. Namun, bagi seorang Muslim, menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak menambah keyakinan pada agamanya sendiri adalah sebuah kerugian. Menjadi seorang Yahudi yang sempurna mungkin lebih jelas posisinya daripada seorang Muslim yang imannya goyah karena sibuk dengan hal yang tidak memberi manfaat.

Umar bin Khattab tertunduk lesu. Kata-kata Rasulullah tersebut menghujam tepat ke jantungnya. Beliau menyadari bahwa dalam urusan keyakinan, tidak boleh ada keragu-raguan atau sikap yang mengambang. Rasulullah melanjutkan tegurannya dengan kalimat yang menggetarkan: beliau mempertanyakan keadaan jiwa yang tidak memiliki keyakinan penuh namun juga tidak menyatakan sangsi. Sebuah kondisi “abu-abu” yang berbahaya bagi perkembangan spiritual seseorang.

Dengan penuh penyesalan dan ketundukan, Umar pun menjawab, “Maafkan hamba, ya Rasulullah. Hamba berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sia-sia ini. Sungguh, lebih baik bagi hamba untuk fokus mendalami cahaya ilmu dari agama yang Engkau bawa.”

Kekuatan Super Jambu Biji

Jebakan Perdebatan dan Kesombongan

Kisah ini membawa kita pada sebuah refleksi besar: untuk apa kita mempelajari kitab atau pemikiran orang lain? Jika tujuannya hanya untuk memenangkan perdebatan atau sekadar menjatuhkan argumen lawan, maka benih kesombonganlah yang akan tumbuh di dalam hati. Menang dalam debat tidak serta-merta menambah derajat ketakwaan. Sebaliknya, kekalahan dalam debat—terutama jika iman kita belum kokoh—justru berisiko memunculkan keraguan terhadap kebenaran mutlak Al-Qur’an. Jika keyakinan kita masih goyah, untuk apa menempatkan diri dalam pusaran perdebatan yang berisiko?

Ilmu sejati adalah ilmu yang membuat pelakunya semakin rendah hati, semakin yakin kepada Rabb-nya, dan semakin giat mengamalkan kebaikan. Fokuslah pada cahaya yang telah ada di tangan kita, agar ia benar-benar mampu menerangi jalan menuju rida-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.