SURAU.CO Sejarah Islam di Pulau Madura tidak pernah lepas dari pengaruh kuat aliran tarekat. Di antara berbagai aliran yang ada, Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah memegang peran paling dominan sejak akhir abad ke-19. Uniknya, tarekat ini memberikan ruang spiritual yang luas bagi perempuan.. Hal ini terbukti dengan lahirnya tokoh-tokoh mursyidah atau pemimpin spiritual perempuan yang sangat berpengaruh. Salah Satu tokohnya adalah Nyai Tahbibah
Salah satu sosok sentral dalam jaringan ini adalah Nyai Thabibah. Beliau merupakan simbol egalitarianisme dalam dunia tasawuf di Madura. Kehadirannya membuktikan bahwa perempuan mampu mencapai tingkatan spiritual tertinggi. Melalui kepemimpinan Nyai Thabibah, ajaran Naqsyabandiyah Muzhariyah berkembang pesat di wilayah Pamekasan dan sekitarnya.
Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah masuk ke Madura melalui jasa Kiai Abdul Adzim dari Bangkalan. Beliau merupakan khalifah dari Muhammad Shalih saat bermukim di Mekah. Jalur penyebaran ini berbeda dengan tarekat di Jawa karena memiliki hubungan langsung dengan kota suci Mekah dan Madinah.
Saat ini, Naqsyabandiyah Muzhariyah menjadi organisasi tasawuf paling berpengaruh di Madura. Pengikutnya tidak hanya tersebar di Bangkalan atau Sumenep, tetapi merambah hingga Surabaya, Jakarta, dan Kalimantan Barat. Keberhasilan ekspansi ini juga berkat peran aktif para perempuan penggerak di lingkungan pesantren.
Dari Lingkungan Pesantren ke Kursi Mursyidah
Nyai Thabibah lahir dan tumbuh besar dalam tradisi pesantren yang sangat kental. Keluarga besarnya merupakan pengamal setia Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah. Beberapa anggota keluarganya bahkan menjabat sebagai pemimpin tarekat, seperti Nyai Aisyah (Nyai Pandan) dan Kiai Syabrawi.
Perjalanan spiritual Nyai Thabibah mencapai puncaknya pada tahun 1960 Masehi. Saat mengikuti acara zikir di Ambunten, gurunya yang bernama Kiai Ali Wafa menunjuk beliau menjadi mursyidah. Penunjukan ini tidak sembarangan karena melalui hasil istikharah dan tahapan spiritual yang panjang. “Penunjukan tersebut berdasarkan petunjuk Allah melalui hasil istikharah Kiai Ali Wafa serta setelah dilaluinya tahapan-tahapan dalam bertarekat oleh Nyai Thabibah. Selain secara lisan, Kiai Ali Wafa juga memberi ijazah pada beliau melalui tulisan.”
Setelah resmi mendapat mandat, Nyai Thabibah mulai membimbing kaum perempuan atau akhwat secara khusus. Beliau mengasuh murid-murid dari berbagai daerah di Pamekasan, seperti Blumbungan, Pasean, hingga Sumber Batu. Bahkan, tokoh besar seperti Nyai Zubaidah, istri Kiai As’ad Syamsul Arifin, menjadi salah satu bimbingannya.
Peran Strategis dalam Pendidikan dan Dakwah
Nyai Thabibah menjalankan peran ganda yang sangat luar biasa. Selain memimpin tarekat, beliau juga mengasuh santri putri di Pondok Pesantren al-Bustan bersama suaminya, KH. Muhammad Syaubawi. Keseharian beliau habis untuk mengajar kitab kuning dan mengimami shalat lima waktu bagi santri putri.
Dalam hal metode zikir, Nyai Thabibah menerapkan sistem yang sangat fleksibel. Beliau membolehkan akhwat baru untuk berbaiat kapan saja, baik secara langsung di kediaman beliau maupun saat acara tawajjuh. Beliau mengarahkan murid baru untuk belajar dari senior atau menggunakan kitab tuntunan karya Kiai Abdul Wahid. Kegiatan tawajjuh atau zikir bersama di pesantren beliau berlangsung secara rutin. Masyarakat umum biasanya hadir setiap malam Selasa. Sedangkan bagi tetangga sekitar, beliau membuka pintu zikir setiap malam mulai tengah malam hingga subuh.
Nyai Thabibah merupakan sosok yang sangat aktif dalam berdakwah ke luar daerah. Beliau sering mengunjungi daerah Moncar hingga ke wilayah Jawa untuk memimpin zikir. Jika menempuh perjalanan jauh, beliau biasanya berangkat bersama adiknya, Kiai Abdul Wahid Khudzaifah. Saat sampai di lokasi, sang adik memimpin jamaah laki-laki, sementara Nyai Thabibah fokus membimbing jamaah perempuan.
Kesungguhan Nyai Thabibah dalam menjalankan tugas suci ini memberikan dampak besar bagi masyarakat Madura. Beliau berhasil menyeimbangkan peran sebagai ibu, pengasuh pesantren, dan pemimpin spiritual. Warisan keikhlasannya terus menginspirasi generasi pengamal tarekat hingga saat ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

