Opinion
Beranda » Berita » Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”
Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

 

SURAU.CO – Dalam satu pernyataan yang mengguncang dunia, Donald J. Trump pernah berkata, “I think Islam hates us.” (“Saya pikir Islam membenci kita.”)1 Kalimat singkat itu meluncur bukan dari seorang pengamat pinggiran, tetapi dari figur politik yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat. Ia tidak hanya menjadi kutipan media, melainkan juga penanda zaman: tentang bagaimana Islam terus-menerus ditempatkan dalam bingkai kecurigaan, ketakutan, dan ancaman.

Pernyataan itu lahir pada masa kampanye politik, ketika isu terorisme, keamanan, dan migrasi sedang menjadi komoditas elektoral. Namun dampaknya melampaui arena politik. Ia menyentuh ranah peradaban, membentuk persepsi publik, dan mempertebal jarak antara Islam dan dunia yang memandangnya dari luar.

Islam, Bukan Produk Kebencian

Dalam Islam, identitas agama tidak dibangun di atas emosi kolektif atau sentimen sosial, melainkan di atas wahyu. Al-Qur’an sejak awal mendefinisikan misi risalah ini dengan terang:

> “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)2

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Rahmat adalah antonim kebencian. Rahmat berarti menghadirkan kebaikan, keadilan, penjagaan martabat manusia, dan keteraturan moral. Maka ketika Islam dituduh “membenci”, yang sedang dipertentangkan bukan sekadar opini, tetapi hakikat ajaran.

Islam tidak pernah mengajarkan kebencian berbasis identitas. Bahkan dalam kondisi konflik sekalipun, Allah menutup pintu kezaliman:

> “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)3

Ayat ini adalah fondasi etika sosial Islam. Ia menegaskan bahwa emosi tidak boleh mengendalikan keadilan, dan perbedaan tidak boleh melahirkan dehumanisasi.

Retorika Politik dan Framing Peradaban

Ucapan Trump bukan berdiri sendiri. Ia berada dalam tradisi panjang framing terhadap Islam: dari orientalisme klasik hingga Islamofobia modern. Ketika Islam direduksi menjadi identitas kekerasan, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan informasi, melainkan operasi makna.

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

Dalam wawancara yang sama, Trump mengaku sulit membedakan antara “radikal” dan “Islam secara umum”.4 Pernyataan ini memperlihatkan masalah mendasar: ketidakmauan (atau ketidakmampuan) membedakan antara agama dan penyalahgunaan agama. Padahal, setiap tradisi besar di dunia memiliki sejarah konflik, penyimpangan, dan ekstremisme. Namun tidak semua diperlakukan dengan kacamata yang sama.

Di sinilah politik identitas bekerja. Agama yang memiliki daya ikat peradaban, populasi besar, dan visi hidup alternatif kerap diperlakukan sebagai ancaman struktural. Maka narasi keamanan dibangun, kecurigaan dilembagakan, dan stigma diwariskan.

Dampak Sosial: Ketika Retorika Menjadi Kebijakan

Kata-kata pemimpin tidak berhenti di udara. Ia menjelma menjadi kebijakan, legitimasi, dan sikap publik. Pernyataan Trump kemudian sering dikaitkan dengan wacana Muslim ban dan pembatasan masuknya warga dari negara-negara mayoritas Muslim.5 Di tingkat sosial, retorika semacam ini memperkuat iklim curiga dan membuka ruang diskriminasi.

Bagi umat Islam, dampaknya bukan hanya simbolik. Ia menyentuh ruang hidup: keamanan, pekerjaan, pendidikan, dan relasi sosial.

Inilah mengapa dakwah hari ini tidak cukup berhenti pada ritual dan motivasi individual. Dakwah harus hadir sebagai kesadaran peradaban, yang mampu membaca narasi global dan menempatkan Islam secara utuh.

Pesan Dakwah: Menghitung Dosa (105)

Kesalahan Mendasar: Menyamakan Agama dan Kejahatan

Islam tidak menutup mata terhadap realitas kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Namun Islam juga tidak membenarkan penyandaran kolektif. Al-Qur’an justru mengajarkan personalisasi tanggung jawab:

> “Seseorang tidak memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)6

Menyalahkan Islam atas kejahatan sekelompok orang adalah bentuk ketidakjujuran intelektual. Ia menafikan fakta bahwa mayoritas Muslim di dunia hidup damai, bekerja, berkeluarga, membangun masyarakat, dan menolak ekstremisme.

Lebih dari itu, ia menutup ruang evaluasi yang lebih jujur tentang sebab-sebab konflik global: penjajahan, ketimpangan ekonomi, politik kekuasaan, dan manipulasi identitas.

Tanggung Jawab Dakwah: Dari Reaksi ke Kesadaran

Dalam menghadapi framing semacam ini, umat Islam sering terjebak pada dua ekstrem: diam tanpa narasi, atau marah tanpa arah. Keduanya tidak cukup.

Dakwah menuntut lebih dari sekadar reaksi. Ia menuntut pembangunan kesadaran.

Pertama, kesadaran aqidah. Bahwa Islam tidak diukur oleh pengakuan Barat atau Timur, tetapi oleh wahyu. Izzah (kemuliaan) umat lahir dari keterikatan kepada Allah, bukan dari pembelaan emosional.

Kedua, kesadaran ilmu. Fitnah hanya dapat dijawab dengan pengetahuan: tentang Islam, tentang sejarah, tentang politik global, dan tentang mekanisme propaganda.

Ketiga, kesadaran akhlak. Karena justru akhlaklah yang menjadi hujjah hidup Islam. Rasulullah ﷺ tidak menghadapi kebencian dengan kebencian, tetapi dengan konsistensi nilai.

> “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Malik)7

Namun akhlak bukan berarti pasif. Akhlak dalam Islam adalah keberanian yang beradab, ketegasan yang bermartabat, dan keteguhan yang berlandaskan iman.

Islam, Peradaban, dan Ketakutan Global

Setiap peradaban besar dalam sejarah selalu berhadapan dengan fase resistensi. Islam hari ini berada pada fase itu. Bukan karena ia mengajarkan kebencian, tetapi karena ia menawarkan paradigma hidup yang tidak tunduk pada materialisme, dominasi, dan relativisme moral.

Ketika Islam berbicara tentang tauhid, ia menantang absolutisme manusia. Dan Ketika Islam berbicara tentang keadilan, ia menggugat sistem yang timpang. Ketika Islam berbicara tentang akhlak, ia mengkritik krisis makna modern.

Maka tidak mengherankan jika sebagian pihak lebih memilih melabeli daripada memahami.

Penutup: Menjadi Suluh, Bukan Bara

Pernyataan “Islam membenci kita” adalah contoh bagaimana agama dapat dijadikan sasaran simplifikasi. Namun ia juga menjadi pengingat bagi umat: bahwa dunia tidak akan pernah memahami Islam jika umat tidak menghadirkannya secara utuh.

SUNTARA (Suluh Nusantara) memaknai dakwah bukan sebagai api yang membakar, tetapi sebagai cahaya yang menerangi. Bukan sebagai teriakan, tetapi sebagai penjernih.

Islam tidak membutuhkan pembela yang marah. Sebaliknya, Islam membutuhkan umat yang sadar, berilmu, dan berizzah.

Karena pada akhirnya, kebencian hanya dapat hidup di ruang gelap.
Dan tugas dakwah adalah menyalakan cahaya.

Footnote


  1. Pernyataan Donald J. Trump dalam wawancara CNN bersama Anderson Cooper, 9 Maret 2016, yang memicu kontroversi global. 
  2. Al-Qur’an, QS. Al-Anbiya (21): 107. 
  3. Al-Qur’an, QS. Al-Ma’idah (5): 8. 
  4. Trump menyatakan sulit memisahkan antara “radikalisme” dan Islam dalam wawancara yang sama, CNN, 2016. 
  5. Lihat liputan media internasional tentang wacana “Muslim ban” dan kebijakan pembatasan imigrasi AS pasca kampanye 2016. 
  6. Al-Qur’an, QS. Al-An’am (6): 164. 
  7. Hadis riwayat Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ tentang tujuan diutusnya Rasulullah ﷺ untuk menyempurnakan akhlak. (Tengku Iskandar, M.Pd
    Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat (SUNTARA – Suluh Nusantara).Padang, Sumatera Barat — Januari 2026) 

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.