SURAU.CO – KH. Achmad Siddiq adalah sosok yang visioner dan berpengaruh dalam sejarah Islam Indonesia. Ia dikenal sebagai pencetus trilogi ukhuwah yang memperkuat solidaritas nasional dan komitmen Muslim Indonesia terhadap perdamaian dunia. Selain itu, ia juga menuangkan pemikirannya dalam berbagai tulisan yang memperkaya khazanah intelektual Islam Nusantara.
Beberapa karyanya yang terkenal antara lain “Islam, Pancasila, dan Ukhuwah Islamiyah” (LTN-NU, 1985) yang membahas hubungan Islam-Indonesia, penerimaan Pancasila, dan strategi merajut ukhuwah demi integrasi nasional. Lalu, buku “Pemikiran KH. Achmad Siddiq” (disunting Abu Nasih, terbitan Majalah Aula, 1992) yang merupakan kumpulan makalah beliau tentang akidah, syariah, tasawuf, konsep Khittah NU 1926, relasi agama dan Pancasila, hingga ide “Negara RI bentuk final” dan sosial kemasyarakatan Aswaja.
Karya-karya KH. Achmad Siddiq menunjukkan keluasan wawasannya, tidak hanya dalam fiqih dan tasawuf, tetapi juga dalam isu kenegaraan dan kesenian. Ia juga menulis dalam bahasa Arab untuk kalangan santri, seperti “Majmu’ah al-Aurad fi al-Ma’had al-Islami as-Shiddiqi” (1412 H) dan “Fath al-Rahman” (kitab tentang tajwid Al-Qur’an). Warisan intelektual tertulis ini menunjukkan kedalaman ilmu Achmad Siddiq sebagai seorang ‘alim yang terbuka dan mampu menjawab tantangan zaman.
Keteladanan Pribadi
Dalam kehidupan sehari-hari, KH. Achmad Siddiq dikenal sebagai ulama yang sederhana dan memiliki kepribadian yang menarik. Meskipun memiliki posisi yang tinggi dan dihormati banyak orang, ia tetap hidup bersahaja dan menolak kemewahan. Kiai Achmad tinggal di rumah sederhana hingga akhir hayatnya, dan selalu berusaha membumi bersama rakyat. Ia mendidik santrinya untuk mandiri dan tidak bergantung pada bantuan orang lain, bahkan melarang mereka meminta-minta sumbangan. Ia menanamkan etos kerja keras dan menjaga harga diri. Sikap tegasnya ini berpadu dengan perangainya yang hangat dan mudah bergaul dengan siapa saja, berkat keluwesan komunikasinya.
Kiai Achmad juga dikenal sebagai pecinta buku dan penulis produktif. Di tengah kesibukannya, ia selalu meluangkan waktu untuk membaca dan menulis, sehingga wawasannya sangat luas dalam ilmu keislaman dan ilmu umum. Hal ini membuatnya mampu berdialog dengan beragam kalangan intelektual. KH. Ali Yafie, sahabatnya, mengakui bahwa Achmad Siddiq memiliki ilmu yang luas, budi yang luhur, dan integritas yang sulit dicari bandingannya. “Tak mungkin kita temukan penggantinya. Ketokohan yang berkumpul dalam dirinya sulit ditemukan dalam diri tokoh lain,” ujarnya. Kesaksian ini menunjukkan bahwa Achmad Siddiq bukan hanya cerdas, tapi juga berbudi luhur dan konsisten memegang nilai-nilai moral.
Zuhud dan Ikhlas dalam Beramal
KH. Achmad Siddiq memiliki sisi humanis yang modern dan menggemari seni serta musik. Di waktu senggang, ia menikmati lagu-lagu qasidah klasik, musik populer, dan bahkan musik Barat. Namun, kegemarannya ini tetap dalam koridor ajaran Islam, karena ia memandang seni budaya sebagai fitrah manusia yang harus diarahkan dan dinilai dengan ajaran agama. Ia percaya bahwa seni harus ditingkatkan mutunya dan tidak dapat dilepaskan dari penilaian agama.
Kiai Achmad juga dikenal karena sikap zuhud dan ikhlas dalam beramal. Ia tidak pernah mencari popularitas atau pujian, dan lebih suka dikenang lewat karya dan jasa daripada pencitraan. Ketika memperoleh penghormatan atau jabatan tinggi, ia selalu menyebut itu sebagai amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Selain itu, Kiai Achmad sangat peduli dengan santri dan masyarakat kecil. Ia sering turun langsung membantu memecahkan masalah sosial, mendamaikan konflik, memberi nasihat, dan membela kepentingan umat dengan argumentasi yang santun namun tegas. Semua ini dilakukannya tanpa pamrih, semata-mata karena Allah. (Basnang Said), (CM)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

