Beranda » Berita » Hikmah Diri “Ingin Kaya atau Apa pun dengan Cara Kepasrahan”

Hikmah Diri “Ingin Kaya atau Apa pun dengan Cara Kepasrahan”

Hikmah Diri “Ingin Kaya atau Apa pun dengan Cara Kepasrahan”
Hikmah Diri “Ingin Kaya atau Apa pun dengan Cara Kepasrahan”

 

SURAU.CO – Keinginan untuk menjadi kaya, berilmu, berpengaruh, atau memiliki kehidupan yang layak adalah fitrah manusia. Ia bukan kesalahan, bukan pula dosa. Yang sering menyesatkan bukanlah keinginannya, melainkan cara menempuhnya.

Banyak manusia menginginkan hasil besar dengan kegelisahan besar pula penuh paksaan, kecemasan, iri, dan ketakutan kehilangan.

Di sinilah hikma diri mengajak kita menempuh jalan yang berbeda: jalan kepasrahan yang sadar.
Kepasrahan bukan berarti pasif, apalagi menyerah pada keadaan. Kepasrahan adalah menempatkan diri pada posisi hamba yang bekerja, bukan penguasa yang memaksa hasil. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, namun tidak menggenggam hasil dengan tangan yang gemetar. Ia berusaha, namun hatinya tidak tergantung pada angka, jabatan, atau pujian.

Orang yang ingin kaya dengan kepasrahan memahami satu hal penting adalah
rezeki bukan sekadar hasil kerja, melainkan amanah yang dititipkan sesuai kesiapan jiwa.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Karena itu, ia tidak hanya memperbesar usaha, tetapi juga memperluas kelapangan hati. Ia membersihkan niat dari keserakahan, menata tujuan agar tidak sekadar “memiliki”, melainkan “bermanfaat”.
Kepasrahan melahirkan ketenangan. Dari ketenangan lahir kejernihan berpikir.

Dari kejernihan, keputusan menjadi tepat. Dan dari keputusan yang tepat, jalan rezeki sering terbuka dari arah yang tak disangka.

Banyak pintu tertutup bukan karena kurang usaha, tetapi karena jiwa terlalu ribut untuk melihat jalan.

Kesesuaian Amanah dan Kesiapan

Dalam kepasrahan, seseorang berhenti membandingkan takdirnya dengan orang lain. Ia sadar bahwa setiap jiwa memiliki waktu panen yang berbeda. Ia tidak iri pada keberhasilan orang lain, sebab ia tahu rezeki bukan lomba cepat, melainkan kesesuaian antara amanah dan kesiapan.

Kaya dengan kepasrahan juga berarti siap tidak kaya jika memang itu yang terbaik bagi keselamatan jiwa.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Sebab bagi orang yang pasrah, ukuran keberhasilan bukan banyaknya harta, melainkan ringannya hati. Aneh tapi nyata: ketika seseorang tidak lagi mengejar kekayaan sebagai tujuan utama, justru kecukupan sering mendatanginya tanpa kegaduhan.

Pijakkan mengajarkan:
Apa pun yang diinginkan kaya, sehat, mulia, atau tenang akan lebih mudah sampai ketika kita tidak memaksa

Tuhan menuruti ego, tetapi menata ego agar selaras dengan kehendakNya.

Pada akhirnya, kepasrahan adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan spiritual:
bekerja sepenuh tenaga, berdoa sepenuh jiwa, lalu merelakan hasil sepenuh keikhlasan.

Di sanalah keinginan tidak lagi menjadi beban, melainkan jalan pulang menuju kedamaian.

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

 


Hikmah Diri “Berpikir Masa Lalu Kayu Menjadi Tidak Kaya dan Berpikir ke Depan Kayu Menjadi Kaya”

Kayu adalah benda yang sama. Ia tidak berubah wujud ketika berada di hutan, di halaman rumah, atau di bengkel pengrajin.

Namun nilai kayu berubah drastis tergantung cara manusia memandang dan memperlakukannya. Di sinilah hikmah diri bermula.

Ketika kita berpikir ke masa lalu, kayu sering dipandang hanya sebagai benda alam biasa: ditebang, dibakar, atau dibiarkan lapuk. Pola pikir masa lalu sering terjebak pada kebiasaan, rutinitas, dan warisan cara pandang yang tidak kritis. Akibatnya, kayu “menjadi tidak kaya”  bukan karena kayunya tidak bernilai, tetapi karena pikiran kita tidak memberi ruang bagi nilai baru.

Masa lalu mengajarkan pengalaman, tetapi jika dijadikan satu-satunya acuan, ia bisa membatasi kemungkinan.

Sebaliknya, ketika kita berpikir ke depan, kayu berubah makna. Ia menjadi bahan bangunan, furnitur bernilai tinggi, karya seni, alat musik, bahkan simbol keberlanjutan dan ekonomi kreatif. Kayu “menjadi kaya” karena pikiran kita memproyeksikan harapan, inovasi, dan manfaat jangka panjang.

Masa depan tidak mengubah kayu, tetapi mengubah cara kita memaknainya.

Menghitung Peluang dan Kebermanfaatan

Hikmahnya adalah bahwa kekayaan sejati tidak selalu terletak pada benda, melainkan pada arah berpikir. Pikiran yang hanya menoleh ke belakang cenderung menghitung kerugian dan keterbatasan.  Pikiran yang menatap ke depan mulai menghitung peluang dan kebermanfaatan.

Kayu mengajarkan bahwa nilai hidup kita pun serupa, manusia yang terpaku pada masa lalu sering merasa miskin makna, sementara manusia yang belajar dari masa lalu namun melangkah ke depan akan menemukan kekayaan hikmah.

Dalam kehidupan diri, masa lalu ibarat serat kayu, ia membentuk kekuatan dasar, tetapi tidak menentukan bentuk akhir. Masa depan adalah ukiran yang kita pilih. Jika hati, pikiran, dan niat diselaraskan untuk kebaikan, maka diri kita akan “menjadi kaya”  kaya manfaat, kaya kebijaksanaan, dan kaya kebermaknaan bagi sesama.

Maka, jangan salahkan kayu jika ia tampak tidak bernilai.

Bertanyalah pada diri sendiri ke arah mana pikiran ini melangkah?
Karena sejatinya, berpikir ke depan adalah jalan agar segala yang biasa berubah menjadi luar biasa. (Bambang Jb)

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.