SURAU.CO – Istilah “anak adalah penerus bangsa” hampir selalu hadir dalam pidato kenegaraan, visi pendidikan, dan jargon pembangunan. Namun di balik kemegahan slogan itu, dunia anak-anak hari ini justru sedang berada dalam situasi yang paling rapuh dalam sejarah modern: krisis moral digital. Sebuah krisis yang tidak datang dalam bentuk kelaparan massal atau perang terbuka, tetapi dalam bentuk yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih sulit disadari: pergeseran nilai, pendangkalan makna, dan pengikisan fitrah.
Anak-anak generasi hari ini tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga di dunia virtual yang terus aktif dua puluh empat jam. Mereka tumbuh di tengah banjir informasi, arus visual tanpa henti, dan budaya instan yang membentuk cara berpikir, cara merasa, bahkan cara memandang diri sendiri. Masalahnya, perkembangan teknologi melaju jauh lebih cepat daripada kesiapan moral. Akibatnya, dunia anak-anak bukan sekadar berubah, melainkan dibajak oleh peradaban layar.
Islam sejak awal memandang anak bukan sebagai proyek biologis, melainkan sebagai amanah peradaban. Allah Ta‘ala berfirman:
> “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Al-Kahfi: 46).¹
Namun Allah juga menegaskan:
> “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah)…” (QS. Al-Anfal: 28).²
Di era digital, ayat ini menemukan relevansi yang sangat tajam. Anak adalah perhiasan yang menyejukkan, tetapi sekaligus fitnah yang menuntut kesungguhan. Fitnah bukan hanya dalam arti potensi kecintaan berlebihan, tetapi juga ujian tentang apakah kita mampu menjaga dunia anak-anak dari perampasan nilai.
Fitrah yang Terdesak oleh Banjir Konten
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).³
Fitrah adalah kesiapan jiwa untuk menerima tauhid, kebenaran, dan adab. Namun fitrah tidak hidup di ruang hampa. Ia dibentuk oleh lingkungan. Dan hari ini, lingkungan paling dominan dalam kehidupan anak adalah ruang digital.
Anak-anak belum kuat membaca Al-Qur’an, tetapi sudah mahir menelusuri algoritma. Belum matang secara emosi, tetapi sudah dijejali citra tubuh, gaya hidup, dan standar popularitas. Belum kokoh akidahnya, tetapi sudah terpapar relativisme moral. Dunia digital yang seharusnya menjadi sarana, perlahan menjelma menjadi ruang pembentuk jiwa.
Akibatnya lahir generasi yang cepat tahu, tetapi lambat matang. Banyak anak fasih berbicara, tetapi miskin adab. Terhubung dengan dunia, tetapi terasing dari keluarga. Berani tampil, tetapi rapuh jiwanya. Inilah wajah krisis moral digital: bukan terletak pada kecanggihan alat, tetapi pada kekosongan makna yang menyertainya.
Krisis ini tidak selalu tampak dalam bentuk penyimpangan ekstrem. Ia sering hadir sebagai kegelisahan kronis, kesulitan fokus, kecanduan pengakuan, normalisasi ujaran kasar, serta kaburnya batas antara benar dan salah. Anak-anak tumbuh dengan paparan yang jauh melampaui kesiapan jiwa mereka.
Dari Media Edukasi Menjadi Industri Pembentuk Kepribadian
Persoalan dunia anak hari ini bukan semata-mata akses teknologi, tetapi dominasi industri konten dalam membentuk pola pikir dan selera. Anak tidak lagi hanya belajar dari orang tua dan guru, tetapi dari influencer, video pendek, dan arus tren global.
Dalam banyak kasus, anak lebih mengenal figur hiburan daripada teladan iman. Lebih hafal jargon viral daripada doa harian. Lebih peka terhadap “like” daripada nilai benar dan salah. Identitas tidak lagi dibangun dari karakter, tetapi dari citra.
Ketika dunia anak-anak dikapitalisasi, mereka tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai pasar. Perhatian mereka diperebutkan, kecemasan mereka diproduksi, dan waktu mereka diperjualbelikan. Algoritma bekerja bukan untuk membentuk kepribadian yang sehat, tetapi untuk mempertahankan keterikatan. Dalam logika ini, yang diutamakan bukan kebaikan jiwa, melainkan durasi interaksi.
Di sinilah krisis moral digital menemukan ruang suburnya. Anak dibentuk bukan oleh nilai, tetapi oleh arus. Bukan oleh teladan, tetapi oleh tren. Bukan oleh makna, tetapi oleh sensasi.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
> “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).⁴
Hadis ini bukan hanya ditujukan kepada orang tua, tetapi kepada seluruh struktur sosial. Media, pendidik, tokoh publik, dan pemangku kebijakan ikut memimpin arah generasi. Kepemimpinan itulah yang hari ini sedang diuji secara serius.
Pendidikan yang Terjebak pada Angka dan Kompetisi
Krisis moral digital diperparah oleh paradigma pendidikan yang terlalu menekankan capaian kognitif. Anak diukur dari nilai akademik, bukan dari kualitas jiwa. Sekolah sibuk mengejar prestasi, tetapi sering kehilangan ruh. Anak dilatih berpikir, tetapi kurang dibimbing untuk membentuk nurani.
Padahal Allah Ta‘ala berfirman:
> “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).⁵
Ayat ini menempatkan pendidikan dalam bingkai keselamatan, bukan sekadar kecakapan. Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan:
> “Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.” (HR. at-Tirmidzi).⁶
Di era digital, adab seharusnya menjadi benteng utama. Namun yang sering terjadi, anak dibekali perangkat, tetapi tidak dibekali prinsip. Diajari cara mengakses, tetapi tidak diajari cara menyaring. Maka teknologi tidak lagi menjadi alat, melainkan penentu arah.
Pendidikan yang hanya berorientasi pada kompetisi tanpa penguatan nilai, berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral. Generasi yang mampu menaklukkan sistem, tetapi tidak mampu menaklukkan diri.
Rumah yang Kehilangan Otoritas Moral
Dunia anak tidak bermula di sekolah, tetapi di rumah. Namun krisis moral digital juga berakar dari melemahnya peran keluarga. Banyak rumah kehilangan fungsi tarbiyah. Gawai menjadi pengasuh. Layar menjadi teman. Notifikasi menggantikan nasihat.
Anak-anak hidup bersama orang tua yang hadir secara fisik, tetapi absen secara jiwa. Mereka diberi fasilitas, tetapi kurang keteladanan. Diberi hiburan, tetapi kurang kehangatan. Rumah yang seharusnya menjadi ruang aman, perlahan kehilangan otoritas moralnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Kebanyakan kerusakan anak bersumber dari kelalaian orang tua.”
Anak adalah peniru sebelum menjadi pemikir. Jika rumah sepi dari shalat, jangan heran jika gawai menjadi kiblat. Dan Jika rumah miskin dialog, jangan heran jika media menjadi guru. Jika rumah kehilangan wibawa nilai, maka ruang digital akan mengisinya dengan nilai-nilai yang liar.
Krisis moral digital pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan kehadiran. Kehadiran orang tua, kehadiran teladan, dan kehadiran nilai.
Krisis yang Menuntut Kesadaran Kolektif
Krisis moral digital tidak bisa diselesaikan dengan larangan semata. Ia menuntut kesadaran kolektif. Orang tua perlu memulihkan peran. Sekolah harus mengembalikan ruh pendidikan. Media dituntut lebih bertanggung jawab. Negara wajib menghadirkan kebijakan yang melindungi dunia anak-anak, bukan sekadar memfasilitasi industri.
Bangsa yang besar bukan hanya yang kuat infrastrukturnya, tetapi yang kokoh nilai generasinya. Karena anak-anak hari ini bukan hanya pengguna teknologi, tetapi calon penentu arah peradaban.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Ucapan ini bukan legitimasi mengikuti arus, tetapi peringatan agar nilai ditanamkan dengan metode yang relevan. Anak-anak perlu didekati dengan dialog, dibimbing dengan hikmah, dan dipagari dengan adab. Dunia digital tidak mungkin disingkirkan, tetapi bisa diarahkan.
Penutup
Dunia anak-anak hari ini adalah medan paling menentukan bagi masa depan bangsa. Di sanalah iman dipertaruhkan, akhlak diuji, dan jati diri dibentuk. Jika krisis moral digital dibiarkan, kita tidak hanya kehilangan generasi, tetapi kehilangan arah.
Maka sebelum kita terus mengulang slogan tentang generasi emas dan bonus demografi, pertanyaan mendasarnya adalah: siapakah yang sedang membesarkan anak-anak kita—orang tua dan pendidik, atau algoritma dan industri?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan seperti apa wajah bangsa ini beberapa dekade ke depan.
Catatan Kaki
- QS. Al-Kahfi [18]: 46.
-
QS. Al-Anfal [8]: 28.
-
HR. al-Bukhari no. 1358; Muslim no. 2658.
-
HR. al-Bukhari no. 7138; Muslim no. 1829.
-
QS. At-Tahrim [66]: 6.
- HR. at-Tirmidzi no. 1952, hasan. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
(Padang, Indonesia))
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
