Khazanah
Beranda » Berita » Ketika Kerabat Pergi: Kematian yang Dekat dan Panggilan untuk Muhasabah

Ketika Kerabat Pergi: Kematian yang Dekat dan Panggilan untuk Muhasabah

Ketika Kerabat Pergi: Kematian yang Dekat dan Panggilan untuk Muhasabah
Ketika Kerabat Pergi: Kematian yang Dekat dan Panggilan untuk Muhasabah

 

SURAU.CO – Kematian itu sangat dekat, dan hari-hari ini sering memperlihatkannya kepada kita. Seseorang yang beberapa hari lalu masih bercanda dengan kita, masih mengirim pesan, masih merencanakan hari esok, hari ini telah terbujur kaku. Ia tak lagi menjawab salam. Tak lagi mengangkat telepon. Tak lagi menyusun rencana. Ia telah berpindah alam.

Teman. Kerabat. Tetangga. Sahabat.
Satu per satu Allah perlihatkan kepada kita betapa rapuhnya hidup, betapa tipisnya jarak antara dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

> “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Āli ‘Imrān: 185).¹

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Ayat ini tidak mengatakan akan, tetapi pasti. Bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Bukan ancaman, melainkan sunnatullah. Kematian bukan soal siapa, bukan soal usia, bukan soal sehat atau sakit. Ia hanya soal waktu yang Allah tetapkan.

Kematian yang Menghentikan Segalanya

Ketika kabar wafatnya seorang kerabat datang, seakan dunia berhenti sejenak. Percakapan yang belum selesai, utang yang belum lunas, rencana yang belum terwujud, permintaan maaf yang belum terucap—semuanya tertinggal.

Allah menggambarkan penyesalan orang yang datang ajalnya:

> “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minūn: 99–100).²

Mereka tidak mengabulkan permintaan itu. Sebab dunia bukan tempat menuai hasil. Dunia adalah ladang, dan kematian adalah musim panen. Apa yang kamu tanam di sini, itulah yang kamu tuai di sana.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Kerabat yang hari ini kita antarkan ke liang lahat, sejatinya sedang mengabarkan tanpa suara:

“Giliranmu akan tiba.”

Kerabat: Cermin Terdekat Kematian

Mengapa Allah sering mengambil orang-orang terdekat kita lebih dahulu? Agar kematian tidak terasa jauh. Agar akhirat tidak terasa asing. Dan Agar kita tidak tertipu oleh panjang angan-angan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Cukuplah kematian sebagai penasihat.” (HR. At-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama).³

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Dan kematian yang paling kuat menasihati adalah kematian kerabat. Karena ia bukan berita. Ia pengalaman. Ia bukan cerita. Ia luka. Ia bukan teori. Ia nyata.

Di rumah duka, kita melihat tubuh yang dulu hidup kini tak berdaya. Di pemakaman, kita melihat tangan-tangan yang dulu bekerja kini tak bisa bergerak. Saat talqin, kita mendengar pertanyaan kubur yang suatu hari akan menanti kita.

Orang Cerdas Menurut Nabi

Dalam gambaran yang Ustadz kirimkan, Ustadz mengutip sabda Nabi ﷺ:

> “Orang yang pandai adalah yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: hadis hasan).⁴

Rasulullah ﷺ membalik standar kecerdasan manusia. Bukan yang paling banyak hartanya. Dan Bukan yang paling tinggi jabatannya. Bukan yang paling luas pengaruhnya. Tetapi yang paling sering bermuhasabah dan yang paling serius mempersiapkan akhirat.

Muhasabah bukan sekadar merenung saat musibah. Muhasabah adalah tradisi hidup orang beriman.

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

>“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang.”

Kematian kerabat seharusnya tidak hanya membuat kita menangis, tetapi membangunkan kita.

Apa yang Dibawa Kerabat Kita ke Kubur?

Ketika jenazah diusung, Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Tiga perkara yang mengiringi mayit: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali, satu tinggal bersamanya: keluarganya dan hartanya kembali, amalnya yang tinggal.” (HR. Bukhari dan Muslim).⁶

Kita mengantar sampai kubur. Kita mendoakan sampai pemakaman. Tetapi setelah itu, ia sendirian. Yang menemani hanyalah shalatnya, sedekahnya, lisannya, kejujurannya, kesabarannya, air matanya, dan amal tersembunyinya.

Apa yang aku bawa jika aku dibaringkan hari ini? Bagaimana aku menjawab jika aku ditanya hari ini?.

Kerabat dan Hutang-Hutang Sosial

Kematian juga membuka tabir perkara yang sering kita remehkan: urusan dengan manusia.

Betapa banyak jenazah yang membawa hutang. Betapa banyak kubur yang menyimpan hak orang lain. Tuduhan dan tuntutan menjerat banyak mayit yang tak bisa membela diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya sampai utang itu dilunasi.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi).⁷

Kerabat yang wafat mengajarkan kepada kita bahwa ibadah bukan hanya shalat dan puasa, tetapi juga kejujuran, amanah, dan bersihnya hubungan sosial.

Maka sebelum kematian datang, lunasilah hutang. Bersihkan hati sebelum keranda disiapkan, damaikan hubungan sebelum talqin dibacakan.

Silaturahim yang Terputus oleh Kematian

Kematian kerabat juga mengingatkan kita tentang silaturahim. Banyak orang baru menangis di kuburan, tetapi semasa hidup jarang menyapa. Banyak yang baru memuji setelah wafat, tetapi semasa hidup pelit berbuat baik.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).⁸

Kematian sering datang untuk menutup kesempatan terakhir.
lass=”yoast-text-mark” />>Tak ada lagi waktu meminta maaf.
>Tak ada lagi peluang memperbaiki sikap.
>Tak ada lagi momen menyambung yang putus.

Maka selagi hidup, jangan tunda.
Jangan tunggu jenazah.
Jangan tunggu kabar duka.

Menjadikan Kematian sebagai Kompas Hidup

Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari pergi, sebagian dari dirimu ikut pergi.”⁹

Setiap kematian kerabat sejatinya mengurangi jatah kita. Bukan jatah harta. Tetapi jatah umur.

Orang beriman bukan yang hidup tanpa rencana dunia, tetapi yang hidup dengan kompas akhirat. Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak. Ia mengejar, tetapi tidak lupa pulang. Ia menata dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan.

Allah berfirman:

> “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 77).¹⁰

Kematian kerabat mengajarkan keseimbangan itu. Dunia dijalani, akhirat dipersiapkan.

Penutup: Jangan Jadikan Kematian Hanya Berita

Jangan biarkan kematian kerabat hanya menjadi status media sosial.
>Jangan biarkan duka hanya menjadi ritual tahunan. Jangan biarkan kuburan hanya menjadi tempat ziarah tanpa perubahan. Jadikan ia titik balik.

Titik balik untuk shalat yang lebih jujur.
>Titik balik untuk taubat yang lebih serius.
>Titik balik untuk silaturahim yang lebih hangat. Titik balik untuk amal yang lebih ikhlas.

Karena kerabat kita yang telah pergi sejatinya sedang berkata kepada kita:

“Lakukan sekarang. Di sini sudah tidak bisa.”

Semoga Allah merahmati saudara-saudara kita yang telah mendahului. Mengampuni dosa mereka. Melapangkan kubur mereka. Dan menjadikan kita hamba yang cerdas, sebagaimana definisi Nabi: yang mengevaluasi diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Footnote

  1. Al-Qur’an, QS. Āli ‘Imrān: 185.
  2. Al-Qur’an, QS. Al-Mu’minūn: 99–100.

  3. HR. At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabīr, dinilai hasan oleh sebagian ahli hadis.

  4. HR. At-Tirmidzi no. 2459, beliau berkata: hadits hasan.

  5. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dunya dalam Muhāsabatun Nafs.

  6. HR. Bukhari no. 6514; Muslim no. 2960.

  7. HR. Ahmad no. 10676; At-Tirmidzi no. 1078.

  8. HR. Bukhari no. 6138; Muslim no. 47.

  9. Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Hilyatul Auliya’.

  10. Al-Qur’an, QS. Al-Qaṣaṣ: 77. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.