Khazanah
Beranda » Berita » Kejujuran dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn: Jalan Lurus Menuju Hati yang Hidup

Kejujuran dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn: Jalan Lurus Menuju Hati yang Hidup

Kejujuran dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn: Jalan Lurus Menuju Hati yang Hidup
Kejujuran dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn: Jalan Lurus Menuju Hati yang Hidup

 

SURAU.CO – Di antara penyakit terbesar umat di akhir zaman adalah krisis kejujuran. Kebohongan tak lagi terasa sebagai dosa, manipulasi dianggap kecerdikan, dan kepura-puraan sering dibungkus dengan istilah pencitraan. Di tengah dunia yang semakin kabur antara hak dan batil, Imam an-Nawawi رحمه الله membuka Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn dengan bab yang sangat mendasar: Bab ash-Shidq (باب الصدق) – Bab Kejujuran.¹

Ini bukan tanpa makna. Seakan beliau ingin menegaskan bahwa fondasi seluruh amal saleh adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, ibadah kehilangan ruh. Dan Tanpa kejujuran, ilmu kehilangan berkah. Tanpa kejujuran, dakwah kehilangan cahaya.

Makna Ash-Shidq: Lebih dari Sekadar Tidak Berdusta

Secara bahasa, ash-shidq berarti benar dan lurus. Secara istilah, ia adalah kesesuaian antara hati, lisan, dan perbuatan di atas kebenaran. Karena itu, kejujuran bukan hanya lawan dari dusta, tetapi sebuah integritas ruhani.

Allah Ta’ala berfirman:

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

>“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.”²

Ayat ini tidak hanya memerintahkan agar jujur, tetapi bersama orang-orang jujur, karena kejujuran adalah lingkungan iman. Ia membentuk karakter, membangun peradaban, dan menjaga agama tetap hidup dalam realitas.

Kejujuran Menuntun kepada Kebaikan dan Surga

Dalam Bab Kejujuran, Imam an-Nawawi mencantumkan hadits agung dari Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه. Rasulullah ﷺ bersabda:

>“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka…”

Hadits ini menjelaskan bahwa kejujuran bukan sekadar akhlak sesaat, tetapi jalan hidup. Ia melahirkan al-birr (segala bentuk kebaikan), dan kebaikan menuntun ke surga. Sebaliknya, dusta membuka pintu dosa-dosa lain: khianat, zalim, nifak, dan kehancuran moral.

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

Kejujuran Adalah Pakaian Para Nabi

Semua nabi dihiasi dengan sifat jujur. Allah memuji Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

>“Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (ṣiddīq) lagi seorang nabi.”³

Dan tentang Nabi Idris ‘alaihis salam:

>“Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur lagi seorang nabi.”

Bahkan, gelar tertinggi setelah kenabian adalah ash-Shiddiq, sebagaimana Abu Bakar رضي الله عنه. Ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan akhlak pinggiran, melainkan maqam iman yang tinggi.

Pesan Dakwah: Menghitung Dosa (105)

Kejujuran: Akar Keikhlasan

Bab kejujuran diletakkan di bagian awal Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn karena ia berkaitan langsung dengan keikhlasan. Tidak mungkin seseorang ikhlas kepada Allah jika ia berdusta kepada Allah. Tidak mungkin ibadah diterima jika dibangun di atas kepura-puraan.

Kejujuran yang paling berat adalah jujur kepada diri sendiri: mengakui dosa, mengakui kelemahan, mengakui penyakit hati. Dari sinilah taubat yang benar lahir.

Allah berfirman:

>“Agar Allah memberi balasan kepada orang-orang yang jujur atas kejujuran mereka.”

Taubat tanpa kejujuran hanyalah lisan. Ibadah tanpa kejujuran hanyalah gerakan. Dakwah tanpa kejujuran hanyalah suara.

Potret Kejujuran dalam Kehidupan

Kejujuran tidak berhenti di mimbar, tetapi hidup di pasar, kantor, rumah, dan media sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan para syuhada.”

Perhatikan, pedagang jujur disejajarkan dengan nabi dan syuhada. Mengapa? Karena kejujuran di tengah godaan dunia adalah bentuk jihad.

Hari ini, kita menyaksikan bagaimana dusta bisa viral, fitnah bisa menghasilkan uang, dan kepalsuan bisa dibungkus ayat. Maka menghidupkan Bab Kejujuran bukan sekadar kajian kitab, tetapi agenda penyelamatan umat.

Krisis Kejujuran dan Tanggung Jawab Dakwah

Ibnu Rajab رحمه الله menjelaskan bahwa kejujuran adalah akar seluruh amal hati, dan dari sanalah lahir rasa takut kepada Allah, muraqabah, dan keikhlasan.⁹ Ibnul Qayyim رحمه الله menegaskan bahwa maqam ash-shidq adalah salah satu tangga tertinggi dalam perjalanan menuju Allah.¹⁰

Umat yang kehilangan kejujuran akan kehilangan kepercayaan. Masyarakat yang kehilangan kejujuran akan kehilangan rasa aman. Dan dakwah yang kehilangan kejujuran akan kehilangan pertolongan Allah.

Penutup: Jalan Orang-Orang yang Selamat

Kejujuran adalah cahaya. Ia mungkin membuat kita kehilangan dunia, tetapi ia menyelamatkan akhirat. Ia mungkin membuat kita disakiti manusia, tetapi ia mendekatkan kita kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

>“Pada hari ini, orang-orang yang jujur akan mendapat manfaat dari kejujuran mereka.”

Mari kita hidupkan kembali Bab ash-Shidq bukan hanya di kitab, tetapi di hati, lisan, dan seluruh jalan hidup kita.

Catatan Kaki (Footnote)

  1. Imam an-Nawawi, Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, Bāb ash-Shidq (باب الصدق).
  2. Al-Qur’an, QS. At-Taubah [9]: 119.

  3. Al-Qur’an, QS. Maryam [19]: 41.

  4. Al-Qur’an, QS. Maryam [19]: 56.

  5. HR. al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607, dari Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه.

  6. Al-Qur’an, QS. Al-Ahzab [33]: 24.

  7. HR. at-Tirmidzi no. 1209, hasan shahih.

  8. Al-Qur’an, QS. Al-Ma’idah [5]: 119.

  9. Ibnu Rajab al-Hanbali, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, syarah hadits ke-12.

  10. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, pembahasan maqam ash-shidq. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara – Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.