SURAU.CO. Di langit sejarah Islam abad ke-15, muncul sebuah bintang yang sinarnya menembus batas gender dan zaman. Bintang itu adalah Aisyah al-Ba’uniyyah, seorang perempuan yang oleh sejarawan Muhammad ‘Ali as-Shoriki dijuluki sebagai sosok paling alim pada masanya. Tak hanya mahir dalam tinta dan pena, Aisyah adalah seorang penempuh jalan ruhani yang berhasil memadukan kecerdasan intelektual dengan kebeningan hati.
Perempuan kelahiran Damaskus ini hidup dalam keluarga ulama besar bermarga Ba’uni. Keluarga ini mempunyai garis keturunan yang menyambung hingga ke desa Ba’un di Yordania, Aisyah tumbuh dalam dekapan ilmu. Ayahnya, Yusuf bin Ahmad, adalah seorang kadi (hakim) terpandang. Di bawah bimbingan keluarga yang religius, Aisyah kecil telah menuntaskan hafalan Al-Qur’an pada usia delapan tahun. Ini sebuah pencapaian yang menjadi fondasi bagi keluasan wawasannya di kemudian hari dalam bidang hadis, fikih, hingga sastra.
Pertemuan di Tanah Suci
Titik balik kehidupan ruhaninya terjadi saat ia menunaikan ibadah haji. Dalam pengalaman spiritual yang ia catat dengan penuh penghormatan dalam kitab al-Maurid al-Ahna, Aisyah mengaku bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan terjaga. Peristiwa ini bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah visi yang mengubah orientasi hidupnya secara total menuju jalan tasawuf. Ia kemudian menyelami samudera tarekat Qadiriyyah, mengikuti jejak kakek dan paman-pamannya. Ketajaman mata batinnya diasah oleh guru-guru besar seperti Jamaluddin Ismail al-Hawwari. Perjalanan ini membawanya pada satu kesimpulan: bahwa ilmu tanpa cinta adalah hampa, dan cinta tanpa ilmu adalah buta.
Dalam mahakaryanya, Al-Muntakhab fi Ushul ar-Rutab, Aisyah memetakan perjalanan seorang pencari Tuhan (salik). Baginya, meski tangga menuju Tuhan tak terbatas jumlahnya, segalanya bermuara pada empat pilar utama yaitu taubat atau pembersihan diri dari noda masa lalu. Kemudian ikhlas yaitu , memurnikan niat hanya bagi-Nya. Setelah itu ada dzikir yang merupakan penjaga ingatan agar tak pernah lepas dari Sang Kekasih. Dan pilar terakhir adalah Mahabbah atau Cinta yang menjadi puncak dari segala pencapaian. Mengenai Cinta, Aisyah menuliskan kalimat yang melegenda: “Cinta adalah rahasia Allah yang paling agung… lautan tanpa tepi, cahaya tanpa kegelapan.” Baginya, cinta adalah mikraj ruhani untuk sampai (wushul) pada hakikat kemuliaan Tuhan.
Warisan Abadi Pena
Hingga akhir hayatnya pada tahun 923 Hijriah di Damaskus, Aisyah tidak berhenti bekerja.Ia meninggalkan warisan intelektual yang luar biasa, mulai dari kumpulan puisi (Diwan) hingga ulasan mendalam tentang tasawuf. Syaikh ‘Abdul Ghani An-Nabulsi memujinya sebagai pemimpin para sastrawan. Aisyah al-Ba’uniyyah membuktikan bahwa di jalan menuju Tuhan, tidak ada sekat bagi perempuan untuk mencapai derajat kewalian tertinggi. Ia adalah bukti nyata bahwa intelektualitas dan spiritualitas bisa bersatu dalam harmoni yang indah.
Aisyah menulis lebih dari dua puluh karya tentang mistisisme Islam, fiqih, dan puisi Sufi. Fokus karya-karyanya adalah pujian kepada Nabi Muhammad, mukjizatnya, dan topik spiritual seperti ketulusan dan taubat. Salah satu karyanya dalam bahasa Indonesia adalah Al-Muntakhab fi Ushul ar-Rutab fi ‘Ilm at-Tashawwuf . Selain iru ada kitab Al-‘Isyaratul Khafiyyah fi Manazilil ‘Aliyyah . Kemudian kitab berjudul Maulidun Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Mauridul Ahna fil Maulidil Asna dan Diwanul Ba’uniyah. Kitab Durarul Ghâ’ish fi Bahril Mu’jizât wal Khasha’is;, Al-Fathul Mubin fi Madhil Amin, Faydhul Fadhl wa Jam’us Syaml adalah kitab karyanya dan masih banyak lagi yang lain.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
