SURAU.CO – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, manusia semakin sibuk mengatur hidupnya, tetapi semakin jarang menanyakan arah hidupnya. Banyak yang bekerja keras, bergerak cepat, dan berkompetisi tanpa henti, namun kehilangan satu pertanyaan mendasar: siapakah yang sebenarnya kita dahulukan dalam hidup ini? Sebab pada hakikatnya, seluruh krisis moral, sosial, dan spiritual bermuara pada satu persoalan pokok: bergesernya posisi Allah dari pusat kehidupan.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Siapa yang menginginkan kejernihan hatinya, hendaklah ia lebih mengutamakan Allah daripada nafsu syahwatnya.”¹ Pernyataan ini tidak sekadar nasihat pribadi, melainkan kritik peradaban. Ia menegaskan bahwa kerusakan batin manusia berawal dari satu penyimpangan mendasar: ketika hawa nafsu, kepentingan, dan syahwat ditempatkan di atas kehendak Allah.
Islam datang bukan hanya membawa tuntunan ibadah ritual, tetapi membangun orientasi hidup. Allah Ta‘ala berfirman:
> “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. al-An‘am: 162).²
Ayat ini adalah manifesto tauhid. Ia menegaskan bahwa hidup seorang mukmin tidak netral. Ia berpihak. Dan keberpihakan itu adalah kepada Allah. Ketika Allah tidak lagi menjadi pusat, maka yang lain akan naik menggantikan: nafsu, harta, jabatan, popularitas, bahkan ideologi.
Makna Mendahulukan Allah dalam Kehidupan Sosial
Mendahulukan Allah berarti menempatkan ridha-Nya di atas seluruh kepentingan. Dalam konteks sosial, ini bermakna menjadikan nilai wahyu sebagai standar, bukan sekadar selera mayoritas. Ketika ada pertentangan antara kebenaran dan keuntungan, seorang mukmin memilih kebenaran. Ketika ada benturan antara keadilan dan kenyamanan, ia memilih keadilan.
Allah Ta‘ala berfirman:
> “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (QS. al-Hujurat: 1).³
Ayat ini mengajarkan etika peradaban: manusia tidak boleh menempatkan logika, kepentingan, atau tekanan sosial di depan petunjuk Allah. Sebab setiap kali manusia mendahulukan dirinya di hadapan wahyu, di situlah awal kerusakan sosial bermula.
Korupsi, manipulasi hukum, eksploitasi manusia, dan pengkhianatan amanah bukan sekadar problem sistem, tetapi problem tauhid. Semua itu terjadi karena Allah tidak lagi didahulukan dalam keputusan. Yang didahulukan adalah kepentingan diri, kelompok, atau citra.
Antara Allah dan Nafsu: Akar Krisis Moral
Al-Qur’an menggambarkan bentuk penyimpangan yang sangat relevan dengan zaman ini:
> “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. al-Jatsiyah: 23).⁴
Ayat ini menyingkap realitas: banyak manusia tidak menolak Tuhan, tetapi memindahkan posisi Tuhan kepada nafsu. Halal-haram ditentukan oleh rasa. Benar-salah diukur oleh kepentingan. Baik-buruk ditimbang oleh popularitas.
Inilah sebab mengapa krisis moral hari ini begitu kompleks. Ia bukan hanya pelanggaran norma, tetapi krisis orientasi. Nafsu menjadi kompas. Keuntungan menjadi kiblat. Dan manusia menjadi pusat semesta.
Padahal mendahulukan Allah berarti menundukkan nafsu kepada iman. Mengikat keinginan kepada hukum. Mengarahkan ambisi kepada keberkahan. Tanpa ini, masyarakat akan melahirkan manusia-manusia yang mungkin cerdas, tetapi tidak amanah; mungkin produktif, tetapi tidak adil.
Mendahulukan Allah dan Kejernihan Hati
Ibnul Qayyim mengaitkan mendahulukan Allah dengan kejernihan hati. Ini penting, sebab krisis sosial selalu berawal dari krisis batin. Hati yang dikendalikan nafsu akan memproduksi perilaku yang rusak. Hati yang dipenuhi cinta dunia akan melahirkan ketimpangan, kecemburuan, dan kekerasan.
Allah Ta‘ala berfirman:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28).⁵
Hati diciptakan untuk Allah. Maka ketika ia dipenuhi selain-Nya sebagai yang utama, ia akan gelisah. Nafsu mungkin memberi kesenangan sesaat, tetapi selalu menyisakan kekosongan. Dunia mungkin memberi fasilitas, tetapi tidak pernah memberi makna.
Orang yang mendahulukan Allah mungkin tidak selalu berada di puncak materi, tetapi ia memiliki fondasi yang kokoh: hati yang tidak mudah runtuh oleh pujian, tidak hancur oleh celaan, dan tidak tergadai oleh dunia. Dari hati yang jernih inilah lahir keberanian moral, kepekaan sosial, dan komitmen terhadap kebenaran.
Dakwah Sosial: Dari Tauhid Menuju Peradaban
Dakwah sosial bukan hanya mengajak shalat dan puasa, tetapi menanamkan tauhid dalam struktur kehidupan. Sebab masyarakat yang mendahulukan Allah akan melahirkan budaya amanah, etos keadilan, dan kepedulian terhadap yang lemah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barang siapa mencari ridha Allah meskipun manusia murka, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan menjadikan manusia ridha kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi).⁶
Hadis ini adalah prinsip dakwah sosial. Aktivis, pemimpin, dan pendidik yang mendahulukan Allah tidak akan menjadikan popularitas sebagai tujuan, tetapi kebenaran. Ia mungkin tidak selalu disambut, tetapi ia sedang menanam fondasi keselamatan.
Sejarah menunjukkan bahwa para nabi dan pembaharu tidak memulai perubahan dari sistem, tetapi dari tauhid. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merombak berhala sebelum merombak struktur. Nabi Muhammad ﷺ membangun iman sebelum membangun negara. Sebab jika Allah tidak didahulukan, maka perubahan hanya akan melahirkan wajah baru dari kerusakan lama.
Mendahulukan Allah di Tengah Tekanan Zaman
Zaman ini menawarkan banyak tuhan kecil: jabatan, citra, viralitas, kekuasaan. Media sosial mempercepat lahirnya orientasi palsu: bahwa yang terlihat lebih penting daripada yang benar, yang ramai lebih utama daripada yang lurus.
Di sinilah mendahulukan Allah menjadi jihad batin dan sosial sekaligus. Jihad batin karena harus melawan dorongan diri. Jihad sosial karena harus berani berbeda di tengah arus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang berpegang pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi).⁷
Hadis ini menggambarkan mahalnya komitmen. Namun di situlah nilai iman. Sebab mendahulukan Allah tidak diukur saat mudah, tetapi saat mahal.
Penutup
Mendahulukan Allah bukan sekadar tema spiritual, tetapi fondasi dakwah sosial dan keselamatan peradaban. Selama Allah ditempatkan di pusat kehidupan, maka hukum akan dijaga, amanah akan dihormati, dan manusia akan dimuliakan. Tetapi ketika Allah disingkirkan dari orientasi, maka yang naik adalah nafsu, dan yang lahir adalah kekacauan yang dilegalkan.
Maka sebelum kita sibuk membenahi sistem, memperbaiki regulasi, dan menggagas pembangunan, pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab umat ini adalah: apakah Allah masih menjadi yang pertama dalam keputusan kita, atau telah tergeser oleh kepentingan kita?
Sebab dari jawaban itulah akan ditentukan apakah dakwah sosial kita melahirkan peradaban, atau hanya kosmetik moral.
Catatan Kaki
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, al-Fawā’id, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah), hlm. 95.
-
QS. al-An‘am [6]: 162.
-
QS. al-Hujurat [49]: 1.
- QS. al-Jatsiyah [45]: 23.
-
QS. ar-Ra‘d [13]: 28.
-
HR. at-Tirmidzi no. 2414, hasan.
- HR. at-Tirmidzi no. 2260, hasan. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
(Padang, Indonesia))
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
