SURAU.CO – Salah satu nikmat terbesar yang sering luput kita syukuri adalah nikmat “masih diberi sisa umur.” Kita sering bersyukur atas kesehatan, rezeki, jabatan, dan keluarga, tetapi jarang merenungkan bahwa bangun pagi hari ini berarti Allah masih memperpanjang kesempatan hidup. Padahal, jutaan manusia tidur di waktu yang sama dan tidak pernah lagi terbangun.
Dalam Islam, umur bukan sekadar angka biologis, melainkan amanah spiritual. Setiap detik mengandung potensi ibadah, setiap tarikan napas menyimpan peluang taubat. Allah Ta’ala berfirman:
> “Dan tidaklah dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan sudah ditetapkan dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Fathir: 11).¹
Ayat ini menegaskan bahwa panjang dan pendek umur berada dalam ketetapan Allah. Namun, kualitas sisa umur berada dalam wilayah tanggung jawab manusia. Di sinilah letak makna penting sisa umur: bukan berapa lama, tetapi bagaimana ia dimanfaatkan.
Sisa Umur sebagai Ladang Taubat
Manfaat terbesar dari sisa umur adalah terbukanya pintu taubat. Selama ruh belum sampai di tenggorokan, Allah masih memberi ruang pulang bagi siapa pun, seberapa pun gelap masa lalunya. Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi).²
Hadis ini mengandung pengharapan yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa dosa, seberat apa pun, tidak pernah lebih besar daripada rahmat Allah, selama sisa umur masih ada. Karena itu, setiap hari yang kita lalui bukan sekadar pertambahan usia, tetapi perpanjangan masa pengampunan.
Sisa umur memberi kita kesempatan memperbaiki shalat yang lalai, menebus hak manusia yang terzalimi, meluruskan niat yang menyimpang, dan membersihkan hati dari penyakit sombong, iri, dan dengki. Menunda taubat sama artinya dengan menyia-nyiakan manfaat terbesar dari waktu yang tersisa.
Sisa Umur sebagai Modal Amal Paling Jujur
Di masa muda, amal sering bercampur dengan ambisi, pencitraan, dan keinginan diakui. Namun, ketika umur bertambah dan kesadaran akan kematian semakin dekat, amal cenderung menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi sibuk terlihat, tetapi sibuk diterima.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).³
Hadis ini tidak memuji panjang umur semata, tetapi panjang umur yang dimanfaatkan untuk kebaikan. Sisa umur adalah modal untuk menyempurnakan kualitas ibadah. Bukan hanya memperbanyak, tetapi memperdalam.
Shalat tidak lagi diperlakukan sebagai kewajiban rutin, melainkan perjumpaan yang dirindukan. Al-Qur’an tidak lagi sekadar dibaca, tetapi direnungkan. Sedekah tidak lagi diukur dari jumlah, tetapi dari keikhlasan. Pada fase inilah, sisa umur menjadi waktu emas untuk memurnikan amal.
Sisa Umur sebagai Waktu Panen Hikmah
Semakin berkurang umur, seharusnya semakin bertambah kebijaksanaan. Pengalaman hidup—luka, kehilangan, kegagalan, bahkan dosa—bisa berubah menjadi sumber hikmah jika sisa umur digunakan untuk muhasabah.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Dan barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269).⁴
Sisa umur memungkinkan seseorang beralih dari hidup yang reaktif menuju hidup yang reflektif. Tidak lagi tergesa menilai, tidak mudah meledak oleh emosi, dan tidak sibuk mempertahankan ego. Dari proses inilah lahir kelembutan sikap, keluasan dada, dan kedalaman pandang.
Banyak orang gagal memanen hikmah karena sibuk menyesali masa lalu. Padahal, Islam mengajarkan bukan untuk tinggal dalam penyesalan, melainkan menjadikannya tangga menuju kedewasaan iman.
Sisa Umur sebagai Kesempatan Menjadi Lebih Bermanfaat
Tujuan hidup seorang Muslim bukan hanya selamat secara pribadi, tetapi memberi manfaat secara sosial. Selama sisa umur masih ada, selama itu pula pintu kebermanfaatan belum tertutup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani).⁵
Sisa umur bisa menjadi waktu emas untuk meninggalkan jejak kebaikan: mendidik anak dan murid, menasihati dengan hikmah, menolong yang lemah, menulis gagasan yang mencerahkan, atau sekadar menghadirkan keteduhan akhlak di tengah masyarakat.
Boleh jadi, satu nasihat yang tulus di akhir usia lebih berat timbangannya daripada ribuan kata di masa muda. Sebab ia lahir dari kejernihan, bukan dari dorongan popularitas.
Sisa Umur sebagai Ruang Menyempurnakan Akhlak
Jika iman adalah fondasi dan amal adalah bangunan, maka akhlak adalah wajahnya. Banyak orang rajin beribadah, tetapi sedikit yang benar-benar menata perangai. Sisa umur memberi kesempatan emas untuk menyempurnakan akhlak: memaafkan, merendah, menahan lisan, dan menumbuhkan empati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Malik).⁶
Sisa umur seharusnya membuat seseorang semakin lembut, bukan semakin keras. Semakin meneduhkan, bukan semakin menyakitkan. Semakin memudahkan, bukan semakin memberatkan. Sebab kedewasaan iman sejatinya tercermin pada kualitas sikap.
Sisa Umur sebagai Waktu Menyiapkan Bekal Pulang
Islam memandang dunia sebagai tempat singgah, bukan tempat tinggal. Karena itu, manfaat terpenting dari sisa umur adalah sebagai waktu persiapan. Setiap hari yang berlalu adalah langkah mendekat, bukan menjauh.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).⁷
Sisa umur mengajarkan seni melepaskan: melepaskan ambisi yang berlebihan, melepaskan dendam yang menyesakkan, melepaskan cinta dunia yang menipu. Ia melatih kita memindahkan fokus dari memperbanyak kepemilikan menuju memperbanyak perbekalan.
Orang yang memuliakan sisa umur tidak akan hidup dalam ilusi panjang angan-angan. Ia sadar, waktu bukan untuk ditumpuk, tetapi untuk diisi.
Penutup
Sisa umur bukanlah sisa harapan. Justru di sanalah inti harapan berada. Ia mungkin pendek, tetapi padat. Ia mungkin terbatas, tetapi penuh peluang. Selama mata masih bisa berkedip dan dada masih bergetar oleh napas, selama itu pula Allah masih membuka ruang taubat, amal, hikmah, dan perbaikan diri.
Pertanyaan terpenting bukanlah “berapa sisa umur kita?”, melainkan “apa yang kita lakukan dengan sisa umur itu?”
Semoga Allah memberkahi sisa umur kita, menjadikannya penuh taubat, sarat amal, kaya hikmah, luas manfaat, indah akhlak, dan mulia sebagai bekal pulang.
Catatan Kaki
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Fathir: 11.
-
HR. At-Tirmidzi, Kitab ad-Da‘awat, no. 3537.
-
HR. Ahmad, Musnad Ahmad, no. 17716; At-Tirmidzi, no. 2330.
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah: 269.
-
HR. Thabrani, Al-Mu‘jam al-Awsath, no. 5787.
-
HR. Malik dalam Al-Muwaththa’, no. 1614.
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Hasyr: 18. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat (Padang, Indonesia))
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
