SURAU.CO – Di banyak film dan pertunjukan seni bela diri, kita sering terpukau melihat tendangan kungfu yang melayang cepat, tinggi, dan presisi. Geraknya indah, tubuhnya seolah ringan, dan hasilnya tampak dahsyat. Namun yang jarang disadari, di balik satu tendangan kungfu yang matang, tersembunyi ribuan jam latihan: melatih kuda-kuda, keseimbangan, pernapasan, fokus, dan yang paling penting, pengendalian diri.
Kungfu sejatinya tidak lahir dari kemarahan, tetapi dari disiplin. Ia bukan sekadar teknik menyerang, tetapi seni menguasai diri. Pada titik inilah, seni bela diri memberi kita pelajaran yang sangat dekat dengan pesan dakwah Islam: bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kerasnya pukulan, melainkan pada kemampuan menundukkan hawa nafsu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).¹
Hadis ini membongkar definisi kekuatan yang sering terbalik. Kuat bukan berarti mampu menjatuhkan orang lain, tetapi mampu menjatuhkan ego sendiri. Di sinilah makna terdalam dari “tendangan kungfu” sebagai metafora kehidupan: ia hanya bernilai jika lahir dari kendali, bukan dari emosi.
Kuda-Kuda: Fondasi Iman Sebelum Gerakan
Dalam kungfu, sebelum belajar menendang, seseorang harus lama berlatih kuda-kuda. Tubuh dibentuk agar stabil. Sebab tendangan setinggi apa pun akan mudah jatuh jika fondasinya rapuh.
Begitu pula dalam Islam. Sebelum bicara amal, Allah menanamkan iman. Sebelum bicara gerak, Allah menguatkan akidah. Tanpa fondasi iman, semegah apa pun aktivitas keagamaan, ia mudah roboh oleh ujian.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27).²
Sisa umur kita sering habis pada “gerakan”: aktivitas, program, agenda. Namun lupa memperdalam “kuda-kuda”: tauhid, ikhlas, dan hubungan batin dengan Allah. Padahal, kekuatan sejati lahir dari dalam.
Latihan Berulang: Disiplin Amal yang Sunyi
Tidak ada tendangan kungfu yang hebat lahir dari latihan instan. Ia dibentuk oleh pengulangan yang melelahkan, gerakan yang tampak sederhana, dan kesabaran jangka panjang.
Demikian pula amal dalam Islam. Ia bukan tentang spektakuler, tetapi konsisten. Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).³
Shalat yang dijaga tepat waktu, zikir yang dirawat setiap hari, tilawah yang setia meski satu halaman—itulah “latihan-latihan sunyi” yang membentuk kekuatan ruhani. Seseorang mungkin tidak terlihat hebat di mata manusia, tetapi sedang ditempa menjadi kokoh di hadapan Allah.
Tendangan: Energi yang Terarah, Bukan Ledakan Emosi
Tendangan dalam kungfu bukan hentakan sembarangan. Ia diarahkan, diukur, dan dikendalikan. Jika dilepaskan tanpa kendali, ia justru mencelakakan diri sendiri.
Begitu pula dalam kehidupan. Emosi, semangat, dan keberanian adalah energi. Namun tanpa iman, ia berubah menjadi amarah, arogansi, dan perusakan. Islam tidak mematikan kekuatan, tetapi mengarahkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. al-Furqan: 63).⁴
Seorang mukmin tidak kehilangan daya, tetapi mengendalikannya. Ia mampu tegas tanpa kasar, berani tanpa brutal, kuat tanpa merendahkan.
Pernapasan: Menghubungkan Gerak dengan Kesadaran
Dalam kungfu, pernapasan adalah kunci. Tanpa napas yang teratur, tenaga cepat habis dan gerakan kehilangan makna.
Dalam Islam, “napas ruhani” itu adalah zikir. Ia yang menjaga amal tetap hidup, jiwa tetap tenang, dan langkah tetap lurus.
Allah berfirman:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28).⁵
Berapa banyak orang rajin bergerak, tetapi hatinya gelisah. Banyak bekerja, tetapi jiwanya kosong. Karena geraknya terputus dari zikir, amalnya terpisah dari kesadaran ilahiah.
Guru: Muraabbi Sebelum Jagoan
Dalam tradisi kungfu, murid tidak hanya belajar teknik, tetapi adab. Ia tunduk kepada guru, membersihkan niat, dan menata sikap. Tanpa itu, kungfu berubah dari seni menjadi kekerasan.
Begitu pula dakwah. Kita tidak hanya butuh penceramah, tetapi muraabbi. Tidak hanya pintar, tetapi jujur. Tidak hanya lantang, tetapi matang.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan…” (QS. Ali ‘Imran: 104).⁶
Seruan kepada kebaikan tidak akan sampai jika tidak disertai keteladanan.
Penutup
“Tendangan kungfu” mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari kemarahan, tetapi dari penguasaan. Tidak, pameran, tetapi dari latihan. Tidak dari kebencian, tetapi dari keseimbangan.
Islam datang bukan untuk mencetak manusia yang keras, tetapi manusia yang kokoh. Bukan pribadi yang meledak-ledak, tetapi jiwa yang terarah. Bukan umat yang gemar menjatuhkan, tetapi hamba yang sibuk memperbaiki.
Maka jika kita ingin menjadi kuat, jangan hanya melatih tangan dan kaki, tetapi latihlah iman dan hati. Sebab di situlah letak “tendangan” paling menentukan: tendangan terhadap hawa nafsu, ego, dan keangkuhan diri.
Catatan Kaki
- HR. al-Bukhari, no. 6114; Muslim, no. 2609.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Ibrahim: 27.
-
HR. al-Bukhari, no. 6465; Muslim, no. 782.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Furqan: 63.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. ar-Ra‘d: 28.
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Ali ‘Imran: 104. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
(Padang, Indonesia))
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
