SURAU.CO – Stres telah menjadi salah satu penyakit paling dominan di zaman modern. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau kemarahan, tetapi sering hadir sebagai kelelahan berkepanjangan, kehilangan semangat, mudah tersinggung, dan kehampaan batin. Banyak orang menjalani hari dengan tubuh yang bergerak, tetapi jiwa yang tertinggal. Di tengah situasi ini, Islam menawarkan pendekatan yang utuh: menenangkan jiwa tanpa mengabaikan raga, dan merawat raga tanpa memisahkannya dari iman.
Islam memandang manusia sebagai kesatuan jasad dan ruh. Karena itu, solusi terhadap stres tidak cukup hanya dengan nasihat spiritual, sebagaimana tidak memadai pula jika hanya dengan pendekatan fisik. Keduanya harus berjalan seiring. Menariknya, jauh sebelum dunia modern mengenal konsep sport therapy atau exercise for mental health, Rasulullah ﷺ telah mencontohkan pola hidup aktif, seimbang, dan menyehatkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim).¹
Kekuatan dalam hadis ini tidak semata-mata dimaknai sebagai kekuatan iman, tetapi juga mencakup kekuatan fisik, mental, dan daya tahan hidup. Tubuh yang terawat membantu emosi lebih stabil. Emosi yang stabil memudahkan jiwa menerima petunjuk. Di sinilah olahraga menemukan relevansinya dalam dakwah kesehatan mental.
Stres: Ketika Jiwa dan Tubuh Kehilangan Keseimbangan
Stres bukan hanya peristiwa psikologis, tetapi juga biologis. Ia memengaruhi hormon, kualitas tidur, detak jantung, pencernaan, bahkan sistem kekebalan. Islam memandang bahwa banyak kegelisahan batin berakar dari pola hidup yang tidak seimbang: kurang gerak, kurang istirahat, dan kurang keterhubungan dengan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).²
Ayat ini sering dipahami dalam konteks infak dan jihad, tetapi para ulama juga menjadikannya dalil umum tentang larangan merusak diri. Mengabaikan kesehatan tubuh hingga memicu gangguan mental termasuk bagian dari bentuk kebinasaan yang halus, namun nyata.
Rasulullah ﷺ dan Pola Hidup Aktif
Sirah Nabawiyah menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai pribadi yang aktif. Beliau berjalan jauh, terlibat dalam pekerjaan rumah, memimpin safar, dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Kehidupan beliau jauh dari kemalasan fisik.
Beberapa bentuk aktivitas yang beliau praktikkan bahkan secara eksplisit dikategorikan sebagai olahraga.
Pertama, berjalan dan safar. Rasulullah ﷺ sering menempuh perjalanan panjang. Jalan kaki bukan hanya melatih jantung dan otot, tetapi juga menenangkan sistem saraf. Banyak ulama dan tabib klasik menyebut berjalan sebagai terapi alami untuk kegundahan.
Kedua, lari dan rekreasi. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa ia pernah berlomba lari dengan Rasulullah ﷺ. Pada suatu ketika Nabi menang, dan pada kesempatan lain Aisyah yang menang. Nabi ﷺ tersenyum dan bersabda, “Ini sebagai balasan yang lalu.” (HR. Abu Dawud).³ Hadis ini menunjukkan bahwa olahraga, keceriaan, dan humor sehat adalah bagian dari kehidupan Nabi. Islam tidak mengekang ekspresi gembira, tetapi mengarahkannya.
Ketiga, memanah, berkuda, dan berenang. Rasulullah ﷺ mendorong umatnya untuk menguasai olahraga yang melatih kekuatan, fokus, dan keberanian.
> “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” (HR. al-Baihaqi).⁴
Olahraga ini melatih koordinasi, pengendalian napas, dan konsentrasi, unsur-unsur yang sangat berkaitan dengan pengelolaan stres.
Mengapa Olahraga ala Nabi Efektif Mengatasi Stres
Olahraga dalam sunnah Nabi tidak berdiri sebagai aktivitas mekanis, tetapi terikat dengan makna.
Pertama, karena ia alami. Gerak Nabi tidak berlebihan, tidak memaksa tubuh, dan tidak menjadikannya objek pamer. Pola ini menjaga hormon stres tetap stabil.
Kedua, karena ia terhubung dengan niat. Dalam Islam, aktivitas fisik dapat bernilai ibadah jika diniatkan menjaga amanah tubuh. Ini memberi rasa makna, yang sangat penting dalam kesehatan mental.
Ketiga, karena ia sosial. Banyak aktivitas Nabi dilakukan bersama. Interaksi positif terbukti secara ilmiah menurunkan tingkat kecemasan dan depresi.
Keempat, karena ia seimbang. Nabi ﷺ beraktivitas, tetapi juga beristirahat, beribadah, dan bercengkerama. Tidak ekstrem, tidak lalai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. al-Bukhari).⁵
Hadis ini menegaskan bahwa merawat tubuh bukan gaya hidup, melainkan kewajiban moral.
Olahraga, Zikir, dan Terapi Ruhani
Keistimewaan pendekatan Islam terletak pada integrasi antara gerak dan zikir. Bahkan shalat, yang merupakan ibadah inti, mengandung unsur gerak teratur: berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Semua gerakan ini menstimulasi saraf, melancarkan aliran darah, dan menurunkan ketegangan.
Allah Ta’ala berfirman:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28).⁶
Ketika olahraga dilakukan dengan kesadaran kepada Allah, ia tidak hanya melepaskan endorfin, tetapi juga menanamkan ketenangan. Jalan pagi bisa menjadi ruang tafakur. Lari bisa menjadi sarana muhasabah. Berenang bisa menjadi latihan syukur.
Prinsip Praktis Olahraga ala Nabi
Pertama, niatkan ibadah. Menjaga kesehatan agar kuat beribadah dan bermanfaat.
Kedua, rutin dan proporsional. Sedikit tapi konsisten lebih mendidik jiwa daripada banyak tapi sporadis.
Ketiga, memilih yang alami. Jalan kaki, berlari ringan, membersihkan lingkungan, berkebun, atau membantu sesama.
Keempat, menjaga adab. Tidak membuka aurat, tidak melalaikan shalat, dan tidak memupuk kesombongan.
Kelima, menggabungkan dengan zikir. Agar tubuh dan ruh bergerak seiring.
Penutup
Stres bukan hanya tanda banyaknya masalah, tetapi sering merupakan tanda hilangnya keseimbangan. Sunnah Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ketenangan tidak selalu ditemukan dengan diam, tetapi sering ditemukan dengan bergerak. Tidak selalu dengan lari dari dunia, tetapi dengan menata cara hidup di dalamnya.
Olahraga ala Nabi bukan tentang membentuk tubuh ideal, tetapi membangun manusia utuh. Tubuh yang kuat menopang ibadah. Jiwa yang tenang memuliakan akhlak. Ketika tubuh bergerak dalam ketaatan, hati pun menemukan rumahnya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kuat fisiknya, sehat jiwanya, dan lapang dadanya.
Catatan Kaki
- HR. Muslim, no. 2664.
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. al-Baqarah: 195.
-
HR. Abu Dawud, no. 2578.
-
HR. al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman.
-
HR. al-Bukhari, no. 5199.
- Al-Qur’an al-Karim, QS. ar-Ra‘d: 28. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat (Padang, Indonesia))
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
