SURAU.CO. Di tengah riuhnya jagat digital dan ketegangan sosial yang menyelimuti Indonesia pada awal 2026, muncul sosok yang dikenal dengan pembawaannya yang santai namun memiliki ketajaman prinsip yang luar biasa. Ia adalah KH Taufik Damas, Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.
Lahir di Jakarta pada 23 Januari 1974, Kiai Taufik bukanlah sosok baru dalam dunia intelektual Islam. Ia merupakan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, yang membawa napas moderasi dalam setiap pandangannya. Sebelum mengemban amanah di struktural NU, ia telah malang melintang di dunia literasi dan penerbitan. Jejak kariernya dimulai sebagai editor di Qisthu Press dan Pena, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Direktur Penerbit Menara dan Chief Editor di Penerbit Serambi. Sebagai seorang penulis produktif, karya-karyanya—baik artikel di media nasional seperti Republika maupun buku terjemahan seperti Fikih Akhlak dan Teladan Suci Para Ibunda Nabi—menjadi bukti kedalaman pemikirannya.
Taufik Damas memulai pendidikan dasarnya di SDI Assa’adah, Bidaracina, Jatinegara Jaktim dan tamat tahun 1986. Kemudian melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Darul Ma’arif, Cipete, Jaksel, dan tamat tahun 1989. Pendidikan menengah tingginya ia selesaikan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tamat tahun 1997. Pendidikan tinggi ia tamatkan di Universitas Al Azhar, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat. dan tamat tahun 2003.
Menolak “Bau Bangkai” di Meja Demokrasi
Nama KH Taufik Damas kembali menjadi sorotan saat ia dengan berani berdiri membela para aktivis dan influencer yang menjadi korban teror pada penghujung 2025. Saat itu, nama-nama seperti Iqbal Damanik, Sherly Annavita, hingga DJ Donny mengalami intimidasi mulai dari kiriman bangkai hewan hingga bom molotov karena mengkritik penanganan bencana di Sumatera. Bagi Kiai Taufik, diam bukanlah pilihan. Ia menggunakan analogi yang kini viral untuk menggambarkan situasi tersebut: “Bangkai di meja makan itu sendiri tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah ketika orang-orang di sekitar meja makan tidak mengakui adanya bau bangkai tersebut.”
Melalui perumpamaan ini, ia menegaskan bahwa kritik adalah keniscayaan dalam demokrasi. Menurutnya, teror yang menimpa para aktivis adalah ironi besar di era keterbukaan. Ia secara terbuka mendesak pemerintah agar tidak hanya bersembunyi di balik demokrasi prosedural, tetapi benar-benar hadir mengusut tuntas pelaku yang identitasnya bahkan sempat terekam kamera CCTV.
Prinsip
Kiai Taufik menilai aksi teror tersebut telah melampaui batas kewajaran, mulai dari kiriman bangkai ayam hingga pelemparan bom molotov yang dapat membahayakan banyak orang. “Ini sudah keterlaluan, sebetulnya,” katanya pada nu.or.id. Ia menegaskan, meskipun pelaku belum diketahui, pemerintah harus serius melakukan penyelidikan, terlebih sudah ada rekaman CCTV yang menangkap aksi para pelaku. “Pemerintah harus betul-betul hadir untuk menyelidiki para pelaku teror itu—siapa sebenarnya mereka. Apalagi sudah ada CCTV yang menangkap pelaku ketika melakukan perbuatan teror tersebut,” ujarnya.
Kiai asal Betawi ini juga populer melalui media sosial dan kanal YouTube Kanal Tiga. Pesannya yang paling diingat masyarakat adalah “Beragama itu harus santai dan jangan baper (bawa perasaan).” Prinsip inilah yang ia bawa dalam mengasuh program Artis Bertanya Kiai Menjawab di TVNU. Meski pembawaannya santun dan “adem”, ia tetap kokoh pada prinsip check and balances. Baginya, PWNU DKI Jakarta akan selalu mendukung siapapun yang bersuara kritis sepanjang disampaikan dengan cara yang beradab dan tidak merusak. KH Taufik Damas bukan sekadar pemuka agama; ia adalah jembatan yang menghubungkan nilai-nilai pesantren dengan realitas sosial-politik yang keras. Di matanya, menjaga nyawa dan ruang bicara aktivis adalah bagian dari menjaga marwah bangsa.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
