Sosok
Beranda » Berita » KH. Achmad Siddiq: Arsitek Pembaruan NU dan Harmonisasi Islam-Kebangsaan

KH. Achmad Siddiq: Arsitek Pembaruan NU dan Harmonisasi Islam-Kebangsaan

Seusai Penyelenggaraan Muktamar NU ke-27 di Situbondo PBNU menyampaikan Laporan kepada Presiden RI di Istana Negara. Tampak disaksikan Rais ‘Am K.H. Achmad Siddiq dan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin Gus Dur mendapatkan Ucapan Selamat dari Bapak H.M. Soeharto Sebagai Ketua Umum Tanf. PBNU terpilih. Foto: Bangkitmedia
Seusai Penyelenggaraan Muktamar NU ke-27 di Situbondo PBNU menyampaikan Laporan kepada Presiden RI di Istana Negara. Tampak disaksikan Rais ‘Am K.H. Achmad Siddiq dan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin Gus Dur mendapatkan Ucapan Selamat dari Bapak H.M. Soeharto Sebagai Ketua Umum Tanf. PBNU terpilih. Foto: Bangkitmedia

 

SURAU.CO – KH. Achmad Siddiq memiliki peran penting dalam kepemimpinan NU. Ia dan kakaknya, KH. Abdullah Siddiq, memimpin PWNU Jawa Timur secara berurutan, menunjukkan kapasitasnya sebagai organisator ulung yang dihormati kalangan kiai. Pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Pesantren Asembagus, Situbondo, Kiai Achmad Siddiq terpilih secara aklamasi sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, memimpin Syuriyah bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Duet ini membawa angin segar pembaruan di NU, dengan KH. Achmad Siddiq mewakili kharisma ulama pesantren dan Gus Dur sebagai figur muda progresif.

KH. Achmad Siddiq sebagai Rais ‘Aam PBNU (1984-1991) memainkan peran penting dalam menentukan arah NU. Ia mendorong dua agenda besar yang menjadi babak baru sejarah NU. Pertama, “Kembali ke Khittah 1926”, yaitu keputusan agar NU meninggalkan politik praktis dan fokus sebagai organisasi sosial-keagamaan sesuai garis pendiriannya tahun 1926. Gagasan ini telah dirumuskan Achmad Siddiq dalam dokumen “Khittah Nahdliyah” (1979), yang berisi garis-garis besar pandangan dan sikap warga NU berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pancasila Tidak Bertentangan Dengan Islam

KH. Achmad Siddiq memainkan peran penting dalam sejarah NU dengan dua agenda besar. Pertama, ia mendorong “Kembali ke Khittah 1926”, yaitu keputusan agar NU meninggalkan politik praktis dan fokus sebagai organisasi sosial-keagamaan sesuai garis pendiriannya tahun 1926. Kedua, ia berperan sebagai ‘juru damai’ dalam ketegangan di internal umat Islam akibat kebijakan memberlakukan asas tunggal Pancasila. Kiai Achmad menjelaskan dengan argumen keagamaan yang kuat bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam.

Selain itu, KH. Achmad Siddiq juga aktif mengembangkan pesantren dan dakwah, memimpin majelis zikir dan pengajian tasawuf “Dzikrul Ghofilin” di Jember, dan menjadi tempat konsultasi berbagai persoalan keagamaan, kemasyarakatan, hingga kebangsaan. Ia diterima dengan baik dalam pergaulan lintas organisasi dan berkontribusi dalam forum Majelis Ulama Indonesia (MUI) daerah.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Gagasan-gagasan KH. Achmad Siddiq tercurah dalam berbagai tulisan, keputusan organisasi, maupun konsep-konsep yang masih relevan hingga saat ini, menunjukkan sosoknya sebagai ulama pengayom umat yang luwes berdialog dengan berbagai pihak tanpa mengorbankan prinsip.

Gagasan, Pemikiran, dan Warisan Intelektual

KH. Achmad Siddiq meninggalkan warisan intelektual yang signifikan, terutama dalam hubungan Islam dan Pancasila. Ia menegaskan bahwa tidak ada pertentangan esensial antara akidah Islam dan ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Menurutnya, umat Islam Indonesia telah menerima Pancasila sejak lama dalam praksis kehidupan bernegara. Kiai Achmad berargumen bahwa Pancasila sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi, seperti makanan yang setiap hari dimakan tidak perlu dipertanyakan halal-haramnya.

Dalam pandangannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk final perjuangan kaum Muslimin di Indonesia, dan cita-cita politik Islam telah terwujud dalam kerangka NKRI yang berbasis Pancasila. Rumusan “NKRI harga mati” menjadi salah satu legacy penting Kiai Achmad Siddiq yang terus digaungkan NU dan ormas Islam moderat hingga sekarang. Pemikiran Achmad Siddiq tentang Islam dan Pancasila ini menyelamatkan Indonesia dari potensi krisis ideologi pada 1980-an dan memposisikan NU sebagai pelopor harmonisasi Islam dan kebangsaan.

KH. Achmad Siddiq memiliki konsep cemerlang, yaitu Trilogi Ukhuwah, yang bertujuan merekatkan hubungan di tengah masyarakat majemuk. Trilogi ini meliputi Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa setanah air), dan Ukhuwah Basyariyah/Insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Gagasan ini diperkenalkan Kiai Achmad pada 1980-an untuk menjawab potensi perpecahan di kalangan umat beragama maupun antar golongan bangsa. Meskipun awalnya dicibir, Kiai Achmad menjawab kritik dengan dalil-dalil keagamaan kokoh. Sekarang, trilogi ukhuwah sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan umat Islam Indonesia dan selanjutnya sering dijadikan materi ceramah kebangsaan. (Dr. Basnang Said), (CM)

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.