Beranda » Berita » KH. Achmad Siddiq Ulama Pengawal Khittah dan Dialog Keislaman-Kebangsaan

KH. Achmad Siddiq Ulama Pengawal Khittah dan Dialog Keislaman-Kebangsaan

KH. Achmad Siddiq Ulama Pengawal Khittah dan Dialog Keislaman-Kebangsaan
KH. Achmad Siddiq Ulama Pengawal Khittah dan Dialog Keislaman-Kebangsaan

 

SURAU.CO – KH. Achmad Siddiq (1926 – 1991) adalah seorang ulama besar Nahdlatul Ulama yang menjadi simbol perpaduan antara spiritualitas pesantren, pemikiran kebangsaan, dan moderasi Islam. Ia memandang Islam bukan hanya sebagai agama ibadah ritual, tetapi juga sebagai fondasi etika sosial untuk membangun masyarakat yang damai dan berkeadaban.

Melalui gagasan-gagasannya, seperti Trilogi Ukhuwah dan Tasawuf Kebangsaan, ia mewariskan paradigma keislaman yang sejuk dan terbuka, menjembatani relasi antara umat, negara, dan kemanusiaan.

Asal-Usul dan Latar Keluarga

Achmad Siddiq lahir di Talangsari, Jember, pada 10 Rajab 1344 H (24 Januari 1926 M) dengan nama kecil Achmad Muhammad Hasan. Ia berasal dari keluarga ulama terpandang, putra bungsu dari KH. Muhammad Siddiq dan Nyai H. Zaqiah (alias Nyai Maryam) binti KH. Yusuf. Sang ayah, Kiai Muhammad Siddiq, merupakan tokoh penyebar Islam di Jember pada akhir 1800-an dan mendirikan Pondok Pesantren As-Siddiqiyah di Talangsari sekitar tahun 1915.

Keluarga Bani Siddiq dikenal luas melahirkan banyak tokoh NU penting, termasuk kakaknya, Kiai Mahfudz Siddiq, yang pernah menjabat Ketua Umum PBNU (1937–1942), dan Kiai Abdullah Siddiq, yang memimpin Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Sejak usia dini, Achmad Siddiq tumbuh dan ditempa dalam tradisi pesantren sebagai jalan hidupnya.

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

KH. Achmad Siddiq menjadi yatim piatu pada usia 9 tahun setelah ibunya wafat saat ia berusia 2 tahun dan ayahnya wafat 7 tahun kemudian. Ia diasuh oleh saudara-saudaranya, terutama kakaknya, Kiai Mahfudz Siddiq, dan KH. Abdul Halim Siddiq. Pengasuhan ini sangat memengaruhi perkembangan pribadinya, menanamkan nilai-nilai modern, kecintaan ilmu, dan wawasan kebangsaan yang luas.

Jejak Pendidikan dan Rihlah Ilmiah

Pendidikan awal Kiai Achmad Siddiq berlangsung di lingkungan pesantren keluarganya, belajar agama langsung di bawah bimbingan ayahandanya di Pesantren Talangsari, Jember. Ia juga mengecap sekolah formal dengan masuk Sekolah Rakyat Islam di Jember, menambah wawasan umum di luar pengetahuan agama tradisional. Setelah ayah dan ibunya wafat, proses belajar Achmad berlanjut di bawah asuhan kakak-kakaknya, terutama KH. Mahfudz Siddiq, yang dikenal sebagai ulama pembaharu di NU, dan KH. Abdul Halim Siddiq, yang mubaligh cinta tanah air.

KH. Achmad Siddiq melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Di Tebuireng, ia mendalami ilmu fiqih, tasawuf, dan falsafah Islam, serta menyerap pemikiran pembaharuan dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Teman-temannya mengenal Achmad Siddiq sebagai orang yang menonjol, terutama dalam kecakapan berpidato dan berdiskusi, sehingga ia dekat dengan KH. Wahid Hasyim, putra Kiai Hasyim.

KH. Wahid Hasyim mempercayai kemampuan Achmad Siddiq dan memintanya mendampingi dalam berbagai urusan. Setelah kemerdekaan, Achmad Siddiq menjadi sekretaris pribadi KH. Wahid Hasyim saat ia menjabat Menteri Agama (1949-1952). Bimbingan langsung dari KH. Wahid Hasyim melengkapi jejaring keilmuan Achmad, membuatnya mewarisi ilmu salaf dan wawasan modern serta nasionalis.

Kiprah dan Pengabdian

KH. Achmad Siddiq memiliki sanad pendidikan yang istimewa, bersambung kepada para tokoh besar NU lintas generasi, mulai dari ayahandanya KH. Muhammad Siddiq, kakaknya KH. Mahfudz Siddiq, guru sepuh KH. Hasyim Asy’ari, hingga mentor sekaligus “atasannya” KH. A. Wahid Hasyim. Kombinasi latar keilmuan pesantren klasik dan pengalaman praktek di pemerintahan ini menjadikan cakrawala berpikir Achmad Siddiq luas dan visioner, tanpa tercerabut dari akar tradisi.

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

KH. Achmad Siddiq mendedikasikan hidupnya dalam berbagai bidang pengabdian, termasuk pendidikan pesantren, organisasi keagamaan, dan politik kenegaraan. Ia mendampingi KH. Wahid Hasyim dalam upaya konsolidasi Kementerian Agama di masa awal kemerdekaan. Achmad Siddiq juga terpilih menjadi anggota DPR RI hasil Pemilu 1955, mewakili partai NU dalam parlemen pertama Indonesia merdeka.

Namun, pada era Orde Lama akhir dan Orde Baru awal, KH. Achmad Siddiq memilih mengurangi aktivitas politik praktis dan kembali ke pesantren untuk fokus di bidang dakwah dan pendidikan. KH. Achmad Siddiq mengasuh Pondok Pesantren As-Siddiqiyah Talangsari warisan ayahnya. Dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, KH. Achmad Siddiq adalah figur penting yang membawa perubahan, aktif di kepengurusan NU tingkat wilayah Jawa. (Basnang Said), (CM)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.