SURAU.CO – Kecewa adalah pengalaman batin yang hampir pasti pernah dialami setiap manusia. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk air mata atau amarah, tetapi sering menjelma menjadi diam yang panjang dan luka yang tersembunyi. Terlebih ketika kekecewaan itu datang dari orang yang kita cintai, percayai, dan sandari harapan. Pada titik inilah, kecewa tidak lagi sekadar emosi, melainkan ujian iman.
Dalam kehidupan sosial, banyak orang mampu menghadapi kerasnya tekanan ekonomi, beban pekerjaan, atau tantangan fisik. Namun tidak sedikit yang justru runtuh ketika dikecewakan oleh sesama manusia. Bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka berharap. Dan harapan, ketika sepenuhnya digantungkan kepada makhluk, hampir selalu menyimpan potensi patah.
Harapan yang Terlalu Tinggi
Kecewa sejatinya bukan semata-mata persoalan sikap orang lain. Ia sering kali menjadi cermin bagi hati sendiri. Sejauh mana kita menggantungkan ketenangan dan kebahagiaan pada manusia, bukan kepada Allah. Semakin besar ekspektasi kepada makhluk, semakin besar pula risiko luka yang harus ditanggung.
Islam tidak menafikan cinta dan harapan. Keduanya adalah fitrah manusia. Namun Islam mengajarkan penataan cinta dan harapan agar tidak melampaui batas. Al-Qur’an mengingatkan bahwa sandaran sejati seorang mukmin bukanlah manusia, melainkan Allah semata. “Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal,”¹ tegas Al-Qur’an.
Ketika hati terlalu bergantung pada manusia, kekecewaan menjadi sesuatu yang nyaris tak terhindarkan. Sebab manusia, betapapun baik niatnya, tetap memiliki keterbatasan. Ia bisa lalai, lelah, berubah, bahkan melukai tanpa sengaja. Harapan yang terlalu tinggi kepada makhluk sering kali berubah menjadi luka yang dalam.
Dalam banyak peristiwa, kekecewaan bukan hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk mengarahkan. Ia adalah teguran lembut agar hati kembali menata sandarannya. Agar cinta tidak berubah menjadi ketergantungan, dan harapan tidak menjelma menjadi penuhanan terhadap manusia.
Kesempurnaan Bukan Milik Manusia
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umatnya agar tidak menggantungkan segala urusan kepada selain Allah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”² Hadis ini bukan larangan berinteraksi atau berharap kepada manusia, tetapi penegasan tentang prioritas sandaran hati.
Kecewa sering kali lahir bukan karena orang lain sepenuhnya salah, tetapi karena kita berharap mereka mampu memenuhi apa yang sebenarnya berada di luar kemampuan mereka. Kita berharap dipahami sepenuhnya, dihargai tanpa jeda, dan dicintai tanpa cacat. Padahal, kesempurnaan bukan milik manusia.
Di sinilah iman bekerja. Iman mengajarkan cara pandang yang lebih dalam terhadap luka. Kecewa tidak disikapi dengan kemarahan yang meluap, apalagi kebencian yang menetap. Ia disikapi dengan muhasabah: tentang apa yang perlu diperbaiki dalam hati, bukan hanya tentang apa yang keliru pada orang lain.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap ujian, termasuk luka batin, memiliki tujuan pendidikan ruhani. “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”³ demikian firman Allah. Kecewa adalah bagian dari ujian itu, ujian kesabaran dan keteguhan iman.
Merasa Cukup Bersama Allah
Sabar dalam menghadapi kecewa bukan berarti meniadakan rasa. Islam tidak menuntut manusia mematikan perasaan. Sabar adalah kemampuan mengelola rasa agar tidak merusak iman dan akhlak. Ia adalah sikap menahan diri agar luka tidak berubah menjadi dosa, dan kecewa tidak menjelma menjadi dendam.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”⁴ Hadis ini relevan dalam konteks kekecewaan. Sebab kecewa yang tidak dikelola sering kali bermuara pada kemarahan dan sikap destruktif.
Kecewa juga mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa ketenangan sejati tidak bergantung pada dipahami atau diakui manusia, melainkan pada merasa cukup bersama Allah. Manusia bisa berubah, janji bisa lupa, dan perhatian bisa pudar. Namun Allah tidak pernah lalai menjaga hamba-Nya.
Allah berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya,”⁵ sebuah janji yang menenangkan bagi hati yang lelah oleh kekecewaan. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan.
Namun menerima kecewa bukan berarti membenarkan perlakuan yang salah. Islam tidak mengajarkan sikap pasif terhadap kezaliman. Menerima kecewa adalah soal mengelola hati, bukan melegitimasi kesalahan. Ada saatnya memaafkan, ada saatnya menjaga jarak, dan ada saatnya menegakkan batas agar luka tidak berulang.
Kejujuran yang Lebih dalam dan Ketundukan yang Lebih Tulus
Banyak orang justru menemukan jalan kedekatan dengan Allah setelah dikecewakan manusia. Kecewa menjadi pintu hijrah batin. Ia meluruhkan ketergantungan yang berlebihan dan menguatkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Dalam doa orang yang terluka, sering kali terdapat kejujuran yang lebih dalam dan ketundukan yang lebih tulus.
Ajari hati untuk menerima kecewa. Bukan dengan mengeras, tetapi dengan melapangkan. Bukan dengan menutup diri, tetapi dengan memperbaiki sandaran. Karena hati yang keras hanya menambah luka, sementara hati yang berserah akan menemukan ketenangan baru.
Pada akhirnya, manusia bisa mengecewakan, itu adalah bagian dari kodratnya. Namun Allah tidak pernah salah dalam menakdirkan. Setiap kekecewaan yang diizinkan-Nya hadir selalu membawa hikmah, meski tidak selalu langsung dipahami.
Maka jika hari ini hati terasa berat oleh kecewa, jangan tergesa menyimpulkan bahwa hidup tidak adil. Bisa jadi Allah sedang membersihkan sandaran hatimu. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan bahwa tempat paling aman untuk berharap bukanlah manusia, melainkan Dia Yang Maha Setia. Allāhu Ta‘ālā a‘lam bish-shawāb.
Catatan Kaki
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Āli ‘Imrān [3]: 122.
-
HR. At-Tirmidzi, Kitab Shifat al-Qiyāmah, Bab Minhā, hadis no. 2516 (hadis hasan sahih).
-
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 155.
-
HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Al-Hadzdzar min al-Ghadab, hadis no. 6114; HR. Muslim no. 2609.
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Ath-Thalāq [65]: 3. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat, Padang, Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
