SURAU.CO – KH. Ahmad Azhar Basyir dikenal sebagai seorang ulama dan pemikir Islam bercorak rasionalistik. Pemikiran-pemikirannya selalu menampakkan corak objektif, metodik, dan realistis.
Menurut Mutohharun Jinan (2014), dua wilayah yang menonjol dan mendapat perhatian khusus dalam keilmuannya adalah filsafat dan ijtihad. Ia menempatkan keduanya sebagai instrumen penting dalam upaya pembaruan pemahaman Islam di era modern.
Pemikiran Filsafat dan Tajdid
Bagi Azhar Basyir, berpikir filosofis dalam mengkaji agama sama nilainya dengan ijtihad dan tajdid. Ia menegaskan pentingnya penggunaan akal sehat dan metode rasional dalam memahami teks agama agar ajaran Islam selalu kontekstual dengan perkembangan zaman.
Lebih lanjut, Jinan (2014) menjelaskan bahwa tajdid, menurut Azhar Basyir, mencakup tiga dimensi: akidah, ibadah, dan muamalah. Dalam akidah, tajdid berarti mengembalikan segala persoalan kepada Al-Qur’an dan hadis tanpa mengabaikan dinamika penafsiran. Dalam ibadah mahdhah, ia menekankan kemurnian praktik dengan kembali pada dasar-dasar nash.
KH. Ahmad Azhar Basyir menekankan bahwa tajdid dalam muamalah berarti melakukan dinamisasi hukum Islam agar mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan politik modern. Oleh karena itu, ijtihad dan tajdid menjadi dua hal yang tak terpisahkan; ijtihad sebagai upaya rasional menggali hukum, dan tajdid sebagai semangat memperbarui pemahaman sesuai konteks zaman.
Nisa (1998) menjelaskan bahwa pemikiran filsafat Ahmad Azhar Basyir menunjukkan corak rasional dan sistematis yang berpijak pada tradisi keilmuan Islam, tetapi terbuka terhadap pendekatan modern. Sebagai cendekiawan Muslim, ia menulis banyak karya ilmiah sebagai bentuk pengabdian intelektual. Salah satu karya pentingnya adalah “Refleksi atas Persoalan Keislaman: Seputar Filsafat, Politik, dan Ekonomi” (1993), kumpulan makalah yang disunting oleh Fauzi Rahman.
Reflektif terhadap konteks sosial dan Moral
Buku tersebut memuat gagasan-gagasan tentang filsafat Islam, hukum Islam, serta persoalan muamalah dan politik, termasuk peran zakat, infak, dan sedekah sebagai sarana pemberdayaan ekonomi umat. Azhar Basyir menekankan bahwa filsafat hukum Islam merupakan pemikiran sistematis dan ilmiah mengenai hukum Islam yang berpijak pada rasionalitas dan nilai wahyu. Dengan demikian, filsafat hukum Islam tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga reflektif terhadap konteks sosial dan moral.
KH Ahmad Azhar Basyir menekankan pentingnya peran ulama sebagai pembimbing umat dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama. Menurutnya, ulama sejati adalah mereka yang mampu menggali ajaran Islam dari sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, serta mengamalkan ilmunya dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, ia memandang perlunya pertemuan antara ulama dan intelektual Muslim dari berbagai disiplin ilmu untuk memahami dan menyajikan ajaran Islam secara holistik dan multidisipliner.
Muhammadiyah mewujudkan gagasan tentang pentingnya regenerasi ulama di lingkungan Muhammadiyah dengan menyelenggarakan Seminar Nasional “Pondok Muhammadiyah sebagai Laboratorium Ulama” di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 1992. Seminar ini menjadi tonggak penting dalam upaya menumbuhkan kembali semangat keulamaan dalam tradisi Muhammadiyah.
KH Ahmad Azhar Basyir wafat pada tanggal 28 Juni 1994 dalam usia 66 tahun, meninggalkan seorang istri, tiga orang putri, dan seorang putra. Mereka memakamkan jenazahnya di Pemakaman Umum Karangkajen, Yogyakarta.
Referensi
- Redaksi Muhammadiyah. (2021, Maret). Kyai Haji Ahmad Azhar Basyir, MA (Ketua 1990–1995). (tautan tidak tersedia) (tautan tidak tersedia) (Diakses 17 Oktober 2025)
- Republika. (2023, Juni 21). KH Ahmad Azhar Basyir: Perumus tajdid organisasi persyarikatan. (tautan tidak tersedia) (tautan tidak tersedia) (Diakses 17 Oktober 2025)
-
Hasyim, M. W. (2021, Juni 20). Berguru kepada KH Ahmad Azhar Basyir. Suara Muhammadiyah. (tautan tidak tersedia) (Diakses 17 Oktober 2025)
- Jinan, M. (2014). KH Ahmad Azhar Basyir, MA: Prototipe ulama-intelektual Muhammadiyah. Tajdida, 12(2), Desember.
- Nisa’, I. S. (1998). Filsafat manusia Ahmad Azhar Basyir. Thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Sumber-sumber tersebut memberikan informasi tentang kehidupan, pemikiran, dan kontribusi KH Ahmad Azhar Basyir sebagai seorang ulama dan intelektual Muhammadiyah. (Dr. Basnang Said), (CM)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
