SURAU.CO – Hikmah Diri: Dibutuhkan dan Diabaikannya Alloh, Walaupun Alloh Dekat dengan Urat Leher. Manusia sering kali berada dalam paradoks batin yang halus namun nyata: di saat terdesak, terhimpit, dan kehilangan daya, nama Alloh menjadi panggilan pertama yang terucap. Namun ketika lapang, sehat, dan merasa mampu, kehadiran Alloh seolah menjauh dari kesadaran. Bukan karena Alloh pergi, melainkan karena hati manusialah yang menjauh.
Alloh sendiri menegaskan kedekatanNya, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16).
Kedekatan ini bukan kedekatan jarak, tetapi kedekatan ilmu, kuasa, pengawasan, dan kasih sayang. Tidak ada satu helaan napas pun yang luput dari pengetahuanNya.
Namun anehnya, justru dalam kondisi paling dekat inilah manusia sering lalai.
Iman Sejati Bukan Musiman
Ketika doa dikabulkan, rezeki mengalir, dan urusan dimudahkan, hati perlahan menggeser pusat sandarannya. Ikhtiar berubah menjadi keakuan, kecerdasan menjadi kesombongan halus, dan keberhasilan dianggap murni hasil diri. Alloh tetap dekat, tetapi tidak lagi dihadirkan dalam rasa syukur yang hidup. Inilah bentuk pengabaian yang paling sunyi tidak terasa sebagai dosa besar, namun perlahan mengeraskan hati.
Sebaliknya, saat cobaan datang, kesadaran spiritual mendadak terbangun. Air mata menjadi dzikir, keluh kesah berubah menjadi doa.
Manusia kembali menyadari betapa rapuh dirinya. Pada titik ini, Alloh “dibutuhkan”. Padahal sesungguhnya, kebutuhan itu tidak pernah berubah yang berubah hanyalah kesadaran manusia akan ketergantungannya.
Hikmah dari keadaan ini mengajarkan bahwa iman sejati bukan iman musiman.
Penjaga kesadaran agar hati tetap hidup, lembut, dan Rendah
Kedekatan Alloh bukan untuk diaktifkan hanya saat darurat, melainkan untuk dihadirkan dalam setiap detik kehidupan. Dzikir bukan sekadar pelarian dari masalah, tetapi penjaga kesadaran agar hati tetap hidup, lembut, dan rendah.
Menyadari Alloh yang dekat dengan urat leher berarti menghadirkanNya dalam pikiran sebelum bertindak, dalam hati sebelum berkata, dan dalam niat sebelum melangkah. Di situlah keseimbangan lahir: antara usaha dan tawakal, antara logika dan iman, antara dunia dan akhirat.
Pada akhirnya, hikmah terdalamnya adalah ini:
Alloh tidak pernah meninggalkan manusia. Manusialah yang sering meninggalkan kesadarannya akan Alloh. Maka tugas diri bukan mendekatkan Alloh, karena Dia sudah Maha Dekat melainkan membersihkan hati agar mampu merasakan kedekatan itu setiap saat.
Hikmah Diri: Melaksanakan Wudhu dan Berperilaku
Wudhu bukan sekadar syarat sah sholat, tetapi latihan kesadaran diri sebelum bersikap dan berperilaku. Air yang membasuh anggota tubuh sejatinya mengajak jiwa untuk ikut dibersihkan dari prasangka, amarah, kesombongan, dan kelalaian.
Ketika tangan dibasuh, kita diingatkan agar perbuatan bersih dari menyakiti. Saat mulut dan hidung disucikan, kita dilatih agar ucapan dan nafas tidak menjadi sumber kebencian.
Membasuh wajah mengajak kita menata pandangan melihat dengan empati, bukan menghakimi.
Membasuh kepala menenangkan pikiran agar keputusan lahir dari kebijaksanaan, bukan nafsu.
Menghadirkan ketenangan dalam perilaku Sehari-hari
Membasuh kaki mengarahkan langkah agar berjalan pada kebaikan, bukan sekadar keinginan.
Wudhu adalah jeda spiritual, berhenti sejenak sebelum bertindak. Ia mendidik manusia agar tidak reaktif, tetapi reflektif. Dari wudhu lahir perilaku yang tertib, sabar, dan santun karena yang dibersihkan bukan hanya tubuh, melainkan niat.
Maka, siapa yang menjaga wudhunya, sejatinya sedang menjaga akhlaknya.
Dan siapa yang menghayati wudhunya, akan lebih mudah menghadirkan ketenangan dalam perilaku sehari-hari baik kepada Tuhan, sesama manusia, maupun kepada dirinya sendiri. (Oleh: Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
