SURAU.CO – Hari kelahiran kerap dipahami sebagai penanda bertambahnya usia. Ucapan selamat, doa-doa kebaikan, dan ungkapan syukur menjadi hal yang lazim disampaikan. Namun dalam kajian Islam, hari kelahiran tidak berhenti pada peristiwa biologis semata. Ia adalah momentum reflektif untuk membaca kembali perjalanan hidup, sekaligus menimbang ke mana arah langkah akan dilanjutkan.
Islam memandang umur sebagai nikmat besar yang sarat amanah. Tidak setiap manusia diberi kesempatan hidup hingga usia tertentu. Ada yang dipanggil Allah di usia muda, ada pula yang diberi umur panjang. Karena itu, panjang atau pendeknya usia bukanlah ukuran kemuliaan, melainkan bagaimana umur tersebut diisi. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa banyak manusia tertipu oleh dua nikmat besar: kesehatan dan waktu luang.¹ Umur sering kali baru disadari nilainya ketika ia hampir atau telah berlalu.
Akhir Kehidupan Semakin Dekat
Dalam perspektif iman, hari kelahiran tidak selayaknya melahirkan euforia berlebihan apalagi kebanggaan diri. Ia justru menjadi pengingat sunyi bahwa jarak menuju akhir kehidupan semakin dekat. Setiap tahun yang berlalu adalah satu fase yang tidak mungkin diulang. Al-Qur’an menegaskan pentingnya waktu dengan sumpah Allah Swt:
>“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”²
Ayat ini menempatkan waktu—termasuk umur—sebagai modal utama kehidupan. Tanpa iman dan amal, bertambahnya usia justru membawa manusia pada kerugian.
Para ulama menjelaskan bahwa umur memiliki dua sisi yang tidak terpisahkan: kesempatan dan pertanggungjawaban. Kesempatan karena selama hidup, manusia masih diberi ruang untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan kembali kepada Allah dengan taubat. Namun sekaligus pertanggungjawaban, karena setiap umur akan dimintai hisab. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sebelum ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.³
Kesadaran inilah yang seharusnya menyertai setiap peringatan hari kelahiran. Ucapan selamat dalam Islam bukan sekadar doa panjang umur, melainkan harapan agar umur yang tersisa diberkahi. Keberkahan umur tidak selalu identik dengan lamanya hidup, tetapi dengan luasnya manfaat. Ada orang yang umurnya singkat, namun amal dan pengaruh kebaikannya terus hidup. Sebaliknya, ada yang berumur panjang, tetapi kosong dari nilai dan ketaatan.
Bijak memandang Dunia
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan kerap menipu manusia yang lalai:
>“Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.”⁴
Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa bertambahnya usia seharusnya membuat seseorang semakin bijak memandang dunia, bukan semakin larut dalam keterikatannya.
Bertambah umur dalam Islam idealnya sejalan dengan pendewasaan iman dan akhlak. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.⁵ Karena itu, usia yang diberkahi adalah usia yang melahirkan kelembutan sikap, kejujuran lisan, dan kerendahan hati, bukan sekadar bertambahnya pengalaman duniawi.
Hari kelahiran juga menjadi ruang muhasabah diri. Muhasabah bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan menilai diri dengan jujur. Sudahkah shalat menjadi penopang hidup, bukan sekadar rutinitas? Sudahkah Al-Qur’an hadir dalam keputusan-keputusan kita? Apakah Sudah relasi sosial dibangun di atas keadilan dan kasih sayang? Allah Swt. berfirman:
>“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”⁶
Ayat ini menegaskan bahwa menoleh ke belakang adalah bagian dari persiapan menatap masa depan, terutama masa depan akhirat.
Bukti Bahwa Kesempatan Masih Diberikan
Dalam tradisi para ulama salaf, pertambahan usia justru menambah rasa takut kepada Allah. Mereka menyadari bahwa waktu beramal semakin sempit, sementara bekal belum tentu cukup. Namun rasa takut ini tidak melahirkan keputusasaan. Selama umur masih ada, pintu taubat tetap terbuka. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.⁷ Setiap hari kelahiran adalah bukti bahwa kesempatan itu masih diberikan.
Selain dimensi personal, hari kelahiran juga mengingatkan manusia pada tanggung jawab sosial. Umur bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi amanah untuk memberi manfaat. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.⁸ Maka bertambahnya usia seharusnya memperluas kepedulian, memperkuat kontribusi, dan memperbesar kebermanfaatan sosial.
Akhirnya, doa paling hakiki pada hari kelahiran bukanlah sekadar panjang umur, melainkan husnul khatimah. Kematian adalah kepastian yang waktunya dirahasiakan. Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap jiwa pasti akan merasakannya.⁹ Kesadaran inilah yang menjadikan hari kelahiran bukan perayaan ego, melainkan perayaan kesadaran.
Selamat bertambah usia berarti selamat memikul amanah yang kian besar. Semoga setiap tambahan umur menjadikan kita semakin dekat kepada Allah, semakin halus akhlak kepada sesama, dan semakin siap ketika saat kembali itu tiba. Barakallahu fi umrik, semoga umur yang tersisa bernilai ibadah dan berujung pada kebaikan.
Catatan Kaki
- HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, no. 6412.
-
QS. al-‘Ashr [103]: 1–3.
-
HR. at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Kitab Shifat al-Qiyamah, no. 2417.
-
QS. Ali ‘Imran [3]: 185.
-
HR. Ahmad, Musnad Ahmad, no. 8595.
-
QS. al-Hasyr [59]: 18.
-
HR. at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Kitab ad-Da‘awat, no. 3537.
-
HR. ath-Thabrani, al-Mu‘jam al-Awsath, no. 5787.
- QS. Ali ‘Imran [3]: 185. (Identitas Penulis: Tengku Iskandar, M.Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
