Khazanah
Beranda » Berita » Takut Menyakiti Hati Orang Lain: Akhlak Mulia yang Perlu Batas

Takut Menyakiti Hati Orang Lain: Akhlak Mulia yang Perlu Batas

Takut Menyakiti Hati Orang Lain: Akhlak Mulia yang Perlu Batas
Takut Menyakiti Hati Orang Lain: Akhlak Mulia yang Perlu Batas

 

SURAU.CO – Ada tipe manusia yang hidupnya dipenuhi kehati-hatian. Setiap kata disaring sebelum keluar, setiap sikap dipikirkan berulang kali, bukan karena ingin terlihat baik, tetapi karena takut menyakiti hati orang lain. Mereka khawatir ucapannya melukai, kejujurannya menyinggung, atau sikap tegasnya membuat orang merasa direndahkan. Di tengah dunia yang kian keras, sikap ini tampak seperti oase—lembut, menenangkan, dan penuh empati.

Namun, benarkah takut menyakiti hati orang lain selalu menjadi tanda kebaikan? Ataukah justru, pada batas tertentu, ia bisa berubah menjadi beban batin dan penghalang kebenaran?.

Islam menempatkan penjagaan lisan sebagai bagian penting dari Iman

Seorang mukmin tidak hanya dinilai dari apa yang ia lakukan, tetapi juga dari apa yang ia ucapkan. Al-Qur’an mengingatkan agar perkataan seorang beriman selalu terarah, bermakna, dan bermartabat. Allah berfirman:

> “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”¹

Bius Total (Anestesi Umum) Dalam Perspektif Mazhab Syafi‘i (Analisis Ushul Fikih dan Qawa‘id Fikihiyyah)

Ayat ini tidak hanya memerintahkan kejujuran, tetapi juga menegaskan kualitas ucapan. Perkataan yang benar bukan sekadar faktual, melainkan juga disampaikan dengan cara yang lurus, adil, dan bertanggung jawab. Karena itu, Islam tidak mengajarkan kebebasan bicara tanpa adab, tetapi juga tidak membenarkan kebisuan atas nama menjaga perasaan.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau dikenal sangat lembut dalam berbicara. Tidak pernah berkata kotor, tidak suka menyindir, dan tidak melukai hati orang lain dengan sengaja. Bahkan ketika menegur kesalahan, beliau memilih ungkapan yang halus dan tidak mempermalukan pelakunya di hadapan umum. Dalam sebuah hadis disebutkan:

> “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”²

Kelembutan adalah akhlak, bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang dibungkus kesantunan. Namun, penting dipahami bahwa kelembutan Rasulullah ﷺ tidak pernah menghilangkan kejujuran. Ketika kebenaran harus disampaikan, beliau tetap menyampaikannya—tanpa ragu, tanpa manipulasi, dan tanpa menunda karena takut reaksi manusia.

Kebenaran disampaikan dengan cara Terbaik

Di sinilah letak persoalan sebagian orang hari ini. Takut menyakiti hati orang lain membuat mereka enggan berkata jujur. Mereka memilih diam saat melihat kekeliruan. Mengalah saat dizalimi. Bahkan membiarkan kesalahan terus berlangsung karena takut dianggap tidak enak, tidak toleran, atau tidak bijak. Padahal, diam dalam kondisi seperti ini sering kali bukan lagi bentuk empati, melainkan kompromi terhadap prinsip.

Merokok Di Kalangan Remaja Dan Solusinya

Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga perasaan dan menegakkan kebenaran. Al-Qur’an memerintahkan agar kebenaran disampaikan dengan cara terbaik:

> “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”³

Ayat ini menunjukkan bahwa cara menyampaikan sama pentingnya dengan isi yang disampaikan. Hikmah menuntut kebijaksanaan, pemahaman situasi, dan kepekaan terhadap kondisi jiwa orang lain. Namun, “cara yang baik” tidak berarti menghilangkan substansi kebenaran itu sendiri.

Ilmu dan Keberanian Moral

Takut menyakiti hati orang lain sering kali berakar dari niat yang tulus. Ia lahir dari empati dan keinginan untuk tidak menjadi sebab luka bagi sesama. Akan tetapi, jika tidak disertai ilmu dan keberanian moral, niat baik ini dapat berubah menjadi kelelahan batin. Seseorang terus mengalah, memendam rasa, hingga akhirnya lelah sendiri—sementara orang lain tidak pernah belajar untuk memperbaiki diri.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menjadi pribadi yang lemah dalam membela kebenaran. Dalam hadis lain, beliau bersabda:

Kilas Balik Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah: Cahaya Ilmu di Malam Ramadhan

> “Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi orang yang tidak punya pendirian (ikut-ikutan), ia berkata: ‘Jika orang-orang berbuat baik, aku ikut berbuat baik; jika mereka berbuat zalim, aku pun ikut berbuat zalim.’ Akan tetapi, teguhkanlah diri kalian; jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, dan jika mereka berbuat buruk, janganlah kalian berbuat zalim.”

Hadis ini menegaskan pentingnya pendirian. Takut menyakiti hati orang lain tidak boleh membuat seseorang kehilangan sikap. Sebab, menjaga perasaan tidak identik dengan membenarkan kesalahan.

Berkata yang Baik Lebih Utama

Ada perbedaan mendasar antara menyakiti hati dan membuat orang tidak nyaman. Menyampaikan kebenaran bisa membuat seseorang tidak nyaman, tetapi tidak selalu berarti menyakiti. Ketidaknyamanan terkadang justru menjadi pintu kesadaran. Seperti obat yang pahit, ia tidak menyenangkan, tetapi menyembuhkan.

Islam bahkan memperingatkan bahaya lisan yang tidak terkontrol, tetapi juga bahaya sikap diam yang salah tempat. Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

Hadis ini sering dipahami secara parsial. Diam dianjurkan jika ucapan kita berpotensi menimbulkan keburukan. Namun, jika diam justru melanggengkan keburukan, maka berkata benar—dengan cara yang baik—lebih utama.

Keadilan dan Kebenaran harus Ditegakkan

Orang yang takut menyakiti hati orang lain perlu belajar memberi batas pada kebaikannya. Empati tidak berarti menghapus diri sendiri. Lembut tidak berarti selalu mengalah. Bijak tidak identik dengan selalu diam. Islam mengajarkan umatnya untuk adil, termasuk adil terhadap diri sendiri.

Allah berfirman:

> “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dan kebenaran harus ditegakkan meskipun terasa berat dan berpotensi menyinggung. Selama niat lurus dan cara dijaga, seorang mukmin tidak dibebani tanggung jawab atas perasaan semua orang.

Cahaya yang Menuntun Perbaikan

Pada akhirnya, takut menyakiti hati orang lain adalah akhlak mulia jika berada dalam koridor yang benar. Ia menjadi indah ketika disandingkan dengan ilmu, keberanian, dan kejujuran. Tetapi ia berubah menjadi beban ketika membuat seseorang mengorbankan prinsip, membenarkan kesalahan, dan menyimpan luka sendirian.

Islam mengajarkan jalan tengah: berkata benar tanpa kasar, tegas tanpa merendahkan, lembut tanpa kehilangan pendirian. Di situlah akhlak tidak hanya menjadi hiasan pribadi, tetapi juga cahaya yang menuntun perbaikan—bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Catatan Kaki

  1. QS. Al-Ahzab [33]: 70.
  2. HR. Muslim, no. 2594.

  3. QS. An-Nahl [16]: 125.

  4. HR. At-Tirmidzi, no. 2007.

  5. HR. Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47.

  6. QS. An-Nisa’ [4]: 135. (,Tengku Iskandar, M.Pd: Padang, Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.