Ibadah
Beranda » Berita » Memahami Munajat

Memahami Munajat

munajat
Terkabulnya Doa

SURAU.CO. Dalam tradisi spiritual kaum Nahdliyin dan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), komunikasi dengan Sang Pencipta memiliki ragam bentuk dan irama. KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga instrumen utama dalam memohon kepada Allah: Istighotsah, Isti’anah, dan Munajat.
Jika Istighotsah adalah seruan minta tolong yang dilakukan secara kolektif (berjamaah) demi dikabulkannya doa dengan segera, dan Isti’anah adalah permohonan pertolongan dalam ritme yang lebih tenang. Sedangkan, munajat adalah dimensi yang paling personal. Hakikat munajat adalah sebuah percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya di keheningan malam. Dalam arti yang lebih umum, munajat berarti “persembahan”, sebagai ungkapan rasa hormat dan kekaguman.

Secara etimologis, al-munajah berarti “berbisik” atau “berbicara secara rahasia”. Secara maknawi, munajat adalah bentuk ibadah yang melibatkan perbuatan, ucapan, dan doa hati yang melakukannya dengan penuh kekhusyukan dan ketawadukan. Ciri khas munajat adalah kedekatan. Berbeda dengan al-munada (memanggil) yang melakukannya saat merasa jauh.  Munajat adalah doa dengan suara lembut karena sang hamba merasa Allah begitu dekat. Munajat adalah momen mengosongkan hati dari hiruk-pikuk dunia hingga yang tersisa hanyalah perasaan kehadiran-Nya. Menurut ulama, munajat adalah doa sepenuh hati yang intim, rahasia, dan penuh pengagungan kepada Allah SWT, sering kali diungkapkan dengan kata-kata puitis atau keluhan yang merendahkan diri, bukan sekadar permintaan biasa, melainkan komunikasi spiritual mendalam untuk memohon ampunan, pertolongan, dan kedekatan dengan-Nya.

Hakikat, Rahasia dan Dimensi Keinginan

Bagi Rasulullah SAW, munajat bukan sekadar doa tambahan, melainkan esensi dari ibadah itu sendiri. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menegaskan bahwa: “Jika salah seorang dari kalian sedang solat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya.” Cara melakukan munajat adalah dengan memusatkan konsentrasi dan mengosongkan hati. Dari hal tersebut yang ada hanya perasaan selalu dekat kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya. Salah satu contohnya adalah Hal dalam shalat, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Selain itu yang termasuk bermunajat kepada Allah SWT adalah membaca Al-Qur’an, berdoa dengan sepenuh hati dalam segala permohonannya, atau berzikir dengan lisan dan hati). Adapun tujuannya adalah memperoleh rida dan dekat kepada-Nya. Karena itu Allah SWT lebih dekat pada bisikan orang yang bermunajat daripada orang tersebut dengan ucapannya sendiri. Munajat bermanfaat agra memperoleh kekhusyukan dan ketenangan serta dekat dan mendapat cinta Allah SWT.

Perspektif Sufi: Pintu Menuju Maqam Tertinggi

Bagi para pencari Tuhan (Sufi), munajat bukanlah sebuah stasiun (maqam) yang bisa dilewati lalu ditinggalkan. Sebaliknya, munajat adalah napas yang menyertai setiap langkah spiritual. Untuk mencapai taubat, zuhud, sabar, hingga makrifat, seorang sufi mutlak memerlukan munajat. Tujuannya bukan sekadar meminta sesuatu, melainkan meraih rida, ketenangan jiwa, dan cinta Allah SWT.

Haji 2026 Lebih Humanis dan Fokus pada Perlindungan dan Kesehatan Jemaah

Begitu sakralnya momen seorang hamba yang sedang bermunajat, hingga Nabi Muhammad SAW memberikan perumpamaan yang sangat kuat: “Sekiranya salah seorang kamu mengetahui keadaan orang yang melewati di depan saudaranya yang sedang bermunajat, niscaya ia lebih memilih berhenti selama seratus tahun daripada melewatinya.” (HR. Ahmad).

Pesan ini menekankan bahwa gangguan sekecil apa pun terhadap orang yang sedang berkonsentrasi dalam munajat adalah hal yang buruk, karena munajat adalah saat di mana jarak antara makhluk dan Khaliq menjadi tiada. Munajat adalah doa rahasia cara untuk mendekatkan kepada Allah. Hakikat munajat adalah berbisik atau berbicara secara rahasia hanya antara hamba dan Allah, mencurahkan segala derita dan harapan tanpa ada yang lain. Selain itu munajat adalah puncak ibadah.

Menurut ulama hakikat munajat adalah inti atau otak ibadah, sarana melepas rindu dan pertemuan spiritual dengan Tuhan, bahkan lebih tinggi dari dzikir biasa.
Selain itu munajat adalah pujian dan pengagungan. Munajat lebih dari sekadar permintaan, munajat adalah untaian pujian, pengagungan, dan penyucian Allah. Para wali, dan Nabi banyak melakukan munajat seperti munajat Nabi Yunus AS saat dalam kesulitan. Kemudian munajat juga bagian dari pengakuan diri dan ketergantungan. Dengan bermunajat seseorang menampilkan dirinya sebagai budak yang lemah, hina, dan membutuhkan, sedangkan Allah sebagai Tuan yang Maha Kuasa, Pemurah, dan Pengampun. Terakhir munajat adalah sarana pembukaan ilmu. Melalui munajat, hati menjadi lapang, menerima cahaya ilahi, ilmu laduni, dan rahasia-rahasia pengetahuan dari Allah SWT.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.