Opinion
Beranda » Berita » Cuci-Cuci Uang dan Dosa: Peran RA yang Tidak Disadari

Cuci-Cuci Uang dan Dosa: Peran RA yang Tidak Disadari

Cuci-Cuci Uang dan Dosa: Peran RA yang Tidak Disadari
Cuci-Cuci Uang dan Dosa: Peran RA yang Tidak Disadari

 

SURAU.CO – Di tengah riuh rendah panggung hiburan dan kilatan lampu sorot, kita sering kali lupa bahwa pertunjukan terbaik bukan tentang apa yang ditampilkan, melainkan apa yang disembunyikan.

Hari-hari ini, publik disibukkan dengan perdebatan tentang angka, rekening, dan transparansi kekayaan Raffi Ahmad. Namun, ada bahaya yang jauh lebih sunyi dan mematikan daripada sekadar dugaan pencucian uang (money laundering). Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena baru dalam arsitektur kekuasaan Indonesia: Pencucian Dosa dan Reputasi (Reputation Laundering).

Raffi Ahmad mungkin bersih secara pidana. Namun, kehadirannya di lingkaran kekuasaan dan oligarki telah mencuci perasaan publik, membuat kita lupa untuk curiga pada adegan gelap yang sedang dimainkan negara.

Wajah Ramah di Atas Struktur yang Kasar

Negara hari ini telah berevolusi. Ia tak lagi gemar memukul kepala rakyat dengan pentungan atau membungkam kritik dengan laras senapan, setidaknya tidak secara terang-terangan di depan kamera. Negara kini meminjam senyum. Meminjam tawa. Meminjam wajah yang membuat Anda merasa akrab.
Di sinilah Raffi Ahmad memainkan peran yang sadar atau tidak, sangat krusial.
Ketika Anda marah pada pejabat yang korup, atau muak melihat pengusaha tambang yang merusak lingkungan, amarah itu meledak-ledak. Namun, begitu sosok Raffi muncul dalam satu frame dengan mereka, otak kita secara naluriah melunak.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

“Ah, masa iya sih jahat? Kan ada Raffi.”
“Kayaknya pejabat ini asyik juga, tuh bisa ketawa bareng Raffi.”
Keraguan itu adalah celah. Dan di celah itulah, agenda-agenda besar diselundupkan.

Tameng Bagi Oligarki

Lihatlah bagaimana nama-nama besar di industri ekstraktif, seperti Haji Isam dan Jhonlin Group, memanfaatkan strategi ini. Dunia pertambangan adalah dunia yang keras; penuh debu, konflik agraria, dan gesekan dengan masyarakat adat. Jika nama-nama ini berdiri sendiri, publik akan melihatnya dengan kacamata skeptis.
Maka, mereka butuh wajah lain. Wajah yang bukan jenderal, bukan politisi, dan bukan birokrat. Mereka butuh selebritas.

Melalui festival meriah, pesta rakyat, dan jalan sehat yang dipandu sang “Sultan”, suara bising mesin ekskavator yang mengeruk bumi perlahan tenggelam oleh sorak sorai penonton. Raffi tidak ditempelkan untuk membenahi bisnisnya, ia ditempelkan untuk membenahi psikologi publiknya.

Saat rakyat Papua berteriak tentang tanah adat yang dirampas, atau warga lokal mengeluh tentang debu batubara, teriakan mereka kalah nyaring dengan notifikasi giveaway dan konten liburan keluarga di media sosial.

Ini adalah sebuah “pembajakan atensi”. Seperti analogi sederhana: ketika Anda sedang berdebat panas dengan tukang parkir, lalu tiba-tiba lewat badut yang membagikan permen, maka fokus Anda pecah. Amarah Anda terdistraksi. Anda lupa bahwa masalah intinya, tarif parkir yang tidak adil, belum selesai.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Algoritma yang Mereset Emosi

Raffi Ahmad adalah algoritma berjalan. Pada gilirannya, setiap kontennya berfungsi me-reset emosi publik. Ketika tensi kritik terhadap pemerintah meninggi, maka konten-konten ringan yang menampilkan kedekatan selebritas dengan penguasa hadir sebagai pendingin.

Bahayanya, tameng kekuasaan hari ini bukan lagi aparat berseragam, melainkan para penggemar (fans).

Kritik terhadap struktur kekuasaan yang melibatkan selebritas kini dianggap sebagai serangan personal. Oleh karena itu, “Iri lo!”, “Pansos!”, “Jangan nyinyir!”. Logika hukum dan ketatanegaraan mati, digantikan oleh fanatisme buta. Negara tahu betul, jauh lebih mudah meredam gejolak rakyat menggunakan sosok yang mereka cintai daripada menggunakan gas air mata.

Mencuci Dosa, Melupakan Luka

Pada akhirnya, kita harus berhenti terjebak pada debat moral personal: “Apakah Raffi orang jahat?” Jawabannya mungkin tidak. Ia pekerja keras, profesional, dan ayah yang baik.

Namun, justru itulah yang membuatnya efektif. Di negara ini, bahaya terbesar bukan datang dari orang jahat yang terlihat jahat, melainkan dari orang baik yang ditempatkan di posisi untuk menutupi kejahatan.

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Selama wajah yang kita sukai membuat kita berhenti curiga, selama itu pula penderitaan di pelosok Kalimantan, tangisan di tanah Papua, dan ketidakadilan di depan mata akan terus kalah oleh senyum di layar ponsel.
Raffi Ahmad tidak mencuci uang Anda. Dia sedang mencuci kecurigaan Anda, agar dosa-dosa kekuasaan terlihat suci di mata kita semua. Disadur dari: Balqis Humairah. (Safari)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.