SURAU.CO – Di tengah dunia yang kian bising oleh teriakan, slogan, dan adu emosi, kerja menulis sering tampak sunyi. Ia tidak menggetarkan udara, tidak mengundang sorak, dan jarang menciptakan kegaduhan. Namun justru dari kesenyapan itulah kekuatannya bekerja. Menulis adalah kerja memukul tanpa suara, pelan, dalam, dan meninggalkan bekas yang lama.
Tidak semua pukulan harus keras terdengar. Ada pukulan yang tidak memecahkan telinga, tetapi mengguncang kesadaran. Ada hantaman yang tidak melukai raga, namun merobohkan kebatilan yang lama bersemayam dalam pikiran. Begitulah hakikat tulisan yang lahir dari kejernihan niat dan kedalaman pikir.
Dalam tradisi Islam, kata dan makna memiliki kedudukan yang sangat mulia. Wahyu pertama yang turun bukan perintah mengangkat senjata, melainkan perintah membaca. Iqra’, sebuah isyarat bahwa peradaban, kesadaran, dan perubahan besar selalu bermula dari ilmu dan literasi. Allah SWT berfirman:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”¹
Ayat ini bukan sekadar ajakan membaca teks, tetapi membaca realitas. Membaca diri, masyarakat, dan zaman. Dari proses membaca itulah lahir tulisan yang jujur dan bertanggung jawab. Menulis, dalam pengertian ini, bukan kerja teknis semata, melainkan amanah intelektual dan spiritual.
Tulisan dan Kekuasaan Makna
Tulisan tidak bekerja dengan paksaan. Ia tidak memerintah, tidak mengancam, dan tidak memukul secara fisik. Namun justru karena itu, ia memiliki daya pengaruh yang panjang. Tulisan bisa dibaca ulang, direnungi kembali, bahkan diwariskan lintas generasi. Apa yang ditulis hari ini bisa menjadi referensi berpikir puluhan tahun ke depan.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kekuatan kata bisa membawa keselamatan atau kehancuran. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun Allah mengangkat derajatnya karenanya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun ia terjerumus ke dalam neraka karenanya.”²
Hadis ini menegaskan bahwa kata bukan perkara remeh. Setiap kalimat memiliki konsekuensi moral. Maka menulis artikel, terlebih dalam konteks dakwah dan sosial, adalah kerja yang menuntut kehati-hatian dan tanggung jawab besar.
Memukul Tanpa Menghina
Artikel dakwah yang baik tidak lahir dari kemarahan yang meledak-ledak, tetapi dari kemarahan yang telah disaring oleh akal dan adab. Ia boleh tegas, namun tidak kasar. Ia boleh keras dalam substansi, tetapi lembut dalam bahasa. Sebab tujuan dakwah bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan manusia.
Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat jelas tentang etika menyampaikan kebenaran:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik.”³
Ayat ini menjadi fondasi utama kerja menulis dakwah. Hikmah menuntut kedalaman ilmu, mau‘izhah hasanah menuntut kelembutan hati, dan mujadalah billati hiya ahsan menuntut adab dalam perbedaan. Tulisan yang memukul tanpa suara adalah tulisan yang menggugah tanpa merendahkan.
Sunyi yang Mengubah Arah
Kerja menulis sering kali tidak populer. Tidak semua tulisan viral. Tidak semua artikel dibaca ribuan orang. Bahkan, tidak jarang tulisan yang jujur justru disambut sinis, dicurigai, atau disalahpahami. Namun penulis yang matang memahami satu hal penting: tugasnya bukan mengatur reaksi manusia, melainkan menjaga niat dan kejujuran pesan.
Allah SWT mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu disukai oleh banyak orang:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”⁴
Ayat ini menguatkan para penulis agar tidak terjebak pada logika popularitas. Tulisan yang benar tidak selalu ramai, tetapi ia tetap bernilai di sisi Allah. Satu artikel yang dibaca dalam kesunyian bisa lebih bermakna daripada seribu slogan yang diproduksi tanpa kedalaman.
Jihad Pena di Zaman Digital
Di era media sosial, informasi beredar sangat cepat, tetapi tidak selalu benar. Hoaks, distorsi fakta, dan opini dangkal diproduksi massal tanpa tanggung jawab. Dalam situasi ini, menulis artikel yang jernih, argumentatif, dan berlandaskan nilai adalah bentuk jihad yang sunyi namun strategis.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”⁵
Hadis ini menjadi prinsip etika literasi. Jika tidak mampu menulis yang baik, lebih baik menahan diri. Tetapi jika mampu menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang lurus, maka menulis menjadi ibadah yang bernilai besar.
Tulisan dakwah adalah benteng terhadap pembiasaan kebatilan. Ia mengingatkan ketika masyarakat mulai menganggap salah sebagai wajar dan benar sebagai berlebihan. Ia memukul, tetapi tidak berisik. Ia mengoreksi, tetapi tidak menghakimi.
Menulis sebagai Laku Iman
Pada akhirnya, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan laku iman. Ia menuntut kejujuran, kesabaran, dan keberanian moral. Kejujuran untuk tidak memanipulasi fakta. Kesabaran menghadapi respon yang beragam. Dan keberanian untuk tetap berdiri di pihak kebenaran meski sunyi.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”⁶
Perkataan yang benar, baik lisan maupun tulisan, adalah fondasi perbaikan sosial. Dari kata yang lurus lahir pikiran yang jernih. Dari pikiran yang jernih lahir tindakan yang adil.
Maka di tengah dunia yang gaduh oleh kebisingan semu, menulis adalah pilihan sadar untuk tetap tenang namun tegas. Memilih senyap bukan untuk diam terhadap kebatilan, tetapi untuk memukul lebih tepat sasaran. Memukul tanpa suara, namun mengguncang nurani.
Dan selama masih ada ketidakadilan, kebodohan, serta penyimpangan yang dibungkus normalitas, kerja menulis akan tetap relevan sebagai jalan dakwah yang bermartabat, sunyi, tetapi berbekas.
Catatan Kaki
- QS. Al-‘Alaq [96]: 1.
-
HR. Al-Bukhari, no. 6478.
-
QS. An-Nahl [16]: 125.
-
QS. Al-An‘am [6]: 116.
-
HR. Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47.
- QS. Al-Ahzab [33]: 70. (Tengku Iskandar
Penyuluh Agama / Pemerhati Dakwah Literasi, Padang, Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
