SURAU.CO – Di tengah kemajuan pembangunan dan derasnya arus informasi, masyarakat justru dihadapkan pada kenyataan yang memprihatinkan: ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, lunturnya empati, dan melemahnya solidaritas. Di ruang publik, agama sering tampil megah melalui simbol dan ritual, tetapi terasa sunyi ketika berhadapan dengan jeritan kaum lemah. Fenomena ini mengundang satu pertanyaan mendasar: di mana posisi dakwah dalam realitas sosial yang terluka?.
Islam sejak awal hadir bukan hanya sebagai ajaran ritual, tetapi sebagai risalah pembebasan dan perbaikan sosial. Al-Qur’an tidak memisahkan iman dari kepedulian terhadap sesama. Bahkan, ukuran kebajikan dalam Islam tidak ditentukan oleh arah ibadah semata, melainkan oleh sejauh mana iman melahirkan kepedulian nyata kepada manusia¹. Dengan demikian, dakwah yang berhenti pada mimbar tanpa menyentuh problem sosial berisiko kehilangan ruhnya.
Dakwah yang Membumi
Dakwah sosial meniscayakan keberanian untuk turun ke realitas kehidupan umat. Ia tidak cukup disampaikan melalui nasihat normatif, tetapi harus menjelma dalam keberpihakan terhadap keadilan dan pembelaan kepada yang tertindas.
Para nabi diutus bukan hanya membawa pesan keimanan, tetapi juga untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat².
Rasulullah ﷺ memberikan teladan paling konkret tentang dakwah yang membumi. Beliau hadir di tengah masyarakat sebagai pemimpin spiritual sekaligus pelindung kaum lemah. Ukuran kemuliaan manusia dalam pandangan Nabi tidak ditentukan oleh status sosial atau banyaknya ritual, melainkan oleh manfaat yang ia hadirkan bagi orang lain³. Prinsip ini menegaskan bahwa kesalehan sejati adalah kesalehan yang berdampak sosial.
Krisis Empati dan Tantangan Dakwah
Salah satu problem utama masyarakat modern adalah krisis empati. Informasi penderitaan mudah diakses, tetapi kepedulian sering berhenti pada simpati sesaat.
Padahal Islam menempatkan empati sebagai bagian dari iman. Seseorang belum sempurna imannya hingga ia mampu merasakan penderitaan saudaranya sebagaimana penderitaannya sendiri⁴.
Dakwah sosial hadir untuk menghidupkan kembali empati kolektif umat. Ia mengajak masyarakat untuk tidak memandang kemiskinan, ketertindasan, dan ketidakadilan sebagai takdir semata, tetapi sebagai panggilan moral yang menuntut tanggung jawab bersama. Islam bahkan memerintahkan keberpihakan aktif pada keadilan, meskipun harus berhadapan dengan kepentingan diri sendiri⁵.
Dari Retorika ke Aksi Nyata
Salah satu kelemahan dakwah kontemporer adalah dominasi wacana tanpa diiringi aksi nyata. Masjid ramai oleh ceramah, tetapi sepi dari program pemberdayaan.
Padahal dalam sejarah Islam, masjid berfungsi sebagai pusat pelayanan umat: tempat pendidikan, distribusi zakat, musyawarah sosial, dan penguatan solidaritas.
Dakwah sosial menuntut transformasi dari retorika ke praksis. Zakat, infak, dan wakaf harus dikelola secara produktif. Masjid perlu dihidupkan sebagai pusat solusi sosial, bukan sekadar ruang ibadah ritual. Setiap upaya meringankan kesulitan orang lain memiliki nilai spiritual yang besar dan balasan ukhrawi yang dijanjikan⁶.
Islam sebagai Rahmat Sosial
Dakwah sosial juga berperan strategis dalam menjaga harmoni masyarakat majemuk. Islam tidak diturunkan untuk menambah konflik, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam⁷.
Dakwah yang keras, eksklusif, dan minim empati justru bertentangan dengan misi kenabian.
Dalam konteks keindonesiaan, dakwah sosial yang humanis dan inklusif menjadi kebutuhan mendesak. Ia mampu merawat persaudaraan, menekan polarisasi, dan menguatkan kohesi sosial. Ketika umat Islam hadir sebagai solusi atas problem sosial, dakwah akan diterima bukan karena retorikanya, tetapi karena manfaat nyatanya.
Tanggung Jawab Sosial Umat
Islam sangat menekankan tanggung jawab sosial, bahkan dimulai dari lingkungan terdekat. Ketidakpedulian terhadap penderitaan tetangga dinilai sebagai cacat iman⁸.
Pesan ini relevan di tengah kehidupan urban yang individualistis dan cenderung abai terhadap sekitar.
Dakwah sosial mengingatkan bahwa iman tidak cukup disimpan di hati, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: berbagi, membela, dan membersamai. Umat Islam dipanggil untuk menjadi agen perubahan, bukan penonton penderitaan.
Penutup
Dakwah sosial adalah wajah Islam yang paling autentik. Ia tidak hanya terdengar, tetapi terasa. Ia tidak berhenti pada seruan, tetapi hadir dalam aksi. Di tengah luka sosial yang menganga, dakwah dituntut untuk menjadi cahaya yang menyembuhkan, dan pada saat yang sama, bukan sekadar suara yang menggema.
Menghidupkan iman melalui kepedulian sosial adalah jalan panjang, tetapi itulah jalan yang ditempuh Rasulullah ﷺ dan generasi terbaik umat ini. Semoga dakwah kita tidak berhenti pada kata, melainkan menjelma menjadi amal yang menguatkan, memanusiakan, dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat.
Catatan Kaki
¹ QS. Al-Baqarah [2]: 177.
² QS. Al-Hadid [57]: 25.
³ HR. Ahmad, Musnad Ahmad.
⁴ HR. al-Bukhari dan Muslim.
⁵ QS. An-Nisa’ [4]: 135.
⁶ HR. Muslim.
⁷ QS. Al-Anbiya’ [21]: 107.
⁸ HR. al-Baihaqi, Syu‘ab al-Iman. (Tengku Iskandar: Penyuluh Agama Islam
Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
