Sosok
Beranda » Berita » Sikap Inklusif dalam Mazhab: Bagaimana Imam Nawawi Menghargai Perbedaan Pendapat

Sikap Inklusif dalam Mazhab: Bagaimana Imam Nawawi Menghargai Perbedaan Pendapat

Dunia Islam mengenal Imam Nawawi sebagai sosok intelektual besar dalam Mazhab Syafii. Beliau bukan sekadar penghafal hadis atau ahli hukum biasa. Melalui karya-karyanya, beliau mengajarkan cara menyikapi perbedaan pendapat dengan sangat elegan. Sikap inklusif Imam Nawawi menjadi teladan penting saat umat sering terjebak dalam fanatisme golongan yang sempit.

Mengenal Sosok Imam Nawawi yang Moderat

Imam Nawawi memiliki nama lengkap Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi. Beliau lahir di Nawa, Suriah, dan tumbuh menjadi rujukan utama bagi penganut Mazhab Syafii hingga hari ini. Meskipun beliau memegang teguh prinsip mazhabnya, beliau tidak pernah menutup mata terhadap argumen mazhab lain.

Sikap ini muncul karena penguasaan ilmu hadisnya yang sangat mendalam. Beliau memahami bahwa hukum Islam bersifat dinamis dan memiliki ruang interpretasi yang luas. Imam Nawawi memandang keragaman pendapat ulama bukan sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai kekayaan khazanah intelektual Islam.

Menghargai Perbedaan dalam Kitab Al-Majmu’

Salah satu bukti nyata sikap inklusif beliau terlihat dalam kitab monumental Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Dalam kitab ini, Imam Nawawi tidak hanya menjelaskan pandangan Mazhab Syafii. Beliau secara jujur memaparkan pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, hingga ulama-ulama dari mazhab yang sudah punah.

Beliau menyajikan argumen setiap pihak secara objektif tanpa merendahkan salah satunya.  sering kali memuji kekuatan dalil ulama lain meskipun berbeda dengan keyakinan pribadinya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebenaran dalam fikih sering kali memiliki banyak wajah yang saling melengkapi.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Adab dalam Menghadapi Perbedaan

Imam Nawawi sangat menekankan pentingnya adab dalam berdebat atau berselisih paham. Beliau melarang keras sikap menghakimi orang lain hanya karena perbedaan dalam masalah furu’iyah (cabang agama). Bagi beliau, seorang mukmin harus memiliki dada yang lapang terhadap perbedaan yang didasari oleh ijtihad yang sah.

Dalam salah satu kutipan yang populer, beliau menegaskan batasan dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Kutipan tersebut berbunyi:

“Sesungguhnya para ulama hanya mengingkari perkara-perkara yang disepakati oleh umat. Adapun perkara yang masih diperselisihkan, maka tidak ada pengingkaran di dalamnya.”

Kutipan ini mengandung pesan kuat bahwa kita tidak boleh memaksakan kehendak dalam masalah yang masih menjadi ranah perdebatan ulama. Jika seorang ulama sudah berijtihad, maka pengikutnya berhak mengamalkan hasil tersebut tanpa rasa takut disalahkan oleh kelompok lain.

Melawan Fanatisme Mazhab yang Berlebihan

Seringkali, pengikut suatu mazhab merasa paling benar dan meremehkan kelompok lain. Imam Nawawi menjauhkan diri dari perilaku ta’ashub atau fanatisme buta tersebut. Beliau mengajarkan bahwa kecintaan pada mazhab tidak boleh menutupi kebenaran yang datang dari hadis sahih.

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Imam Nawawi bahkan berani mengambil posisi yang berbeda dengan pendapat utama dalam mazhabnya jika beliau menemukan dalil yang lebih kuat. Beliau mempraktikkan prinsip bahwa tujuan akhir dari bermazhab adalah mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW dengan cara yang sistematis. Sikap rendah hati ini membuat pemikiran beliau diterima secara luas oleh berbagai kalangan lintas mazhab.

Relevansi Sikap Inklusif di Era Modern

Pada zaman sekarang, akses informasi yang begitu cepat sering kali memicu perdebatan panas di media sosial. Banyak orang dengan mudah menyalahkan orang lain hanya karena perbedaan tata cara ibadah yang bersifat teknis. Di sinilah urgensi mempelajari kembali sikap inklusif Imam Nawawi.

Menghargai perbedaan pendapat berarti kita mengakui keterbatasan akal manusia dalam memahami kehendak Tuhan secara mutlak. Sikap ini akan melahirkan masyarakat yang damai, rukun, dan saling menghormati. Imam Nawawi telah membuktikan bahwa kita bisa menjadi pengikut mazhab yang taat sekaligus menjadi pribadi yang sangat toleran.

Kesimpulan

Sikap inklusif Imam Nawawi dalam mazhab memberikan pelajaran berharga tentang kedewasaan berpikir. Beliau mengajarkan bahwa persatuan umat tidak harus berarti penyeragaman pendapat. Dengan menghargai perbedaan, kita justru memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah keragaman interpretasi hukum.

Mari kita teladani kelapangan hati sang Imam dalam beragama. Jadikan perbedaan sebagai rahmat yang memperkaya wawasan, bukan sebagai sekat yang memisahkan hati antar sesama muslim. Dengan mengikuti jejak beliau, kita dapat membangun peradaban Islam yang lebih inklusif, cerdas, dan penuh kasih sayang.

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.