Sosok
Beranda » Berita » Ketelitian Imam Nawawi: Pelajaran Fact-Checking bagi Jurnalis Masa Kini

Ketelitian Imam Nawawi: Pelajaran Fact-Checking bagi Jurnalis Masa Kini

Dunia jurnalistik saat ini menghadapi tantangan besar berupa arus informasi yang sangat cepat. Kecepatan sering kali mengalahkan ketepatan. Akibatnya, berita bohong atau hoaks mudah tersebar luas ke tengah masyarakat. Dalam situasi ini, para jurnalis perlu menengok kembali sejarah intelektual Islam. Salah satu tokoh yang memberikan teladan luar biasa adalah Imam Nawawi. Beliau merupakan ulama besar yang terkenal karena standar ketelitiannya yang sangat tinggi.

Dedikasi Tanpa Batas pada Kebenaran

Imam Nawawi hidup pada abad ke-13, namun metodologinya tetap relevan hingga sekarang. Beliau menulis berbagai kitab monumental seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Majmu’. Dalam menyusun karya-karyanya, beliau tidak sekadar mengumpulkan data. Beliau melakukan proses penyaringan informasi yang sangat ketat. Beliau memeriksa setiap jalur periwayatan dengan saksama. Hal ini mencerminkan prinsip utama dalam jurnalistik, yaitu verifikasi.

Seorang jurnalis harus meniru semangat ini. Kita tidak boleh menelan mentah-mentah sebuah informasi dari media sosial. Setiap data memerlukan konfirmasi dari sumber primer. Imam Nawawi mengajarkan bahwa integritas sebuah karya bergantung pada kebenaran setiap detailnya. Beliau menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk memastikan kesahihan satu bab dalam bukunya.

Menelusuri Jejak “Sanad” dalam Berita

Dalam ilmu hadis, terdapat konsep sanad atau rantai penutur. Imam Nawawi sangat ahli dalam membedah kredibilitas para penutur ini. Jika kita tarik ke dunia jurnalistik, sanad adalah narasumber. Jurnalis harus mengetahui siapa yang memberikan informasi tersebut. Apakah narasumber memiliki otoritas? Apakah mereka memiliki kepentingan tertentu?

Imam Nawawi tidak pernah berkompromi dengan perawi yang cacat kredibilitasnya. Begitu pula jurnalis, jangan sampai mengutip sumber anonim tanpa dasar yang kuat. Verifikasi narasumber merupakan kunci untuk menghasilkan berita yang objektif. Ketelitian Imam Nawawi dalam memilah antara hadis sahih dan daif (lemah) adalah bentuk fact-checking tingkat tinggi pada zamannya.

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

Melawan Arus Instan dengan Tabayyun

Prinsip Tabayyun atau klarifikasi menjadi landasan utama Imam Nawawi. Beliau selalu berhati-hati sebelum mengeluarkan fatwa atau menuliskan sebuah hukum. “Sikap terburu-buru adalah kawan dari kesalahan,” demikian sebuah prinsip yang beliau pegang teguh. Jurnalis masa kini sering terjebak dalam perlombaan menjadi yang pertama mengunggah berita. Namun, apalah arti kecepatan jika informasi tersebut menyesatkan publik?

Publik lebih membutuhkan berita yang benar daripada berita yang sekadar cepat. Imam Nawawi memberikan pelajaran bahwa kualitas karya intelektual abadi karena akurasinya. Jurnalis harus mengutamakan cek dan ricek. Jangan sampai ambisi mengejar traffic mengorbankan kebenaran fakta di lapangan.

Integritas dan Keberanian Berkata Jujur

Selain ketelitian, Imam Nawawi terkenal karena kejujurannya. Beliau berani mengoreksi pendapat ulama lain jika menemukan bukti yang lebih kuat. Beliau melakukannya dengan adab yang tinggi. Kutipan terkenal mengenai dedikasinya adalah:

“Seseorang yang berilmu tidak akan merasa puas dengan ilmu yang sedikit, dan ia tidak akan berhenti melakukan pengecekan ulang terhadap apa yang ia yakini benar.”

Jurnalis harus memiliki mentalitas serupa. Jika terdapat kesalahan dalam pemberitaan, jurnalis wajib melakukan koreksi dengan jujur. Mengakui kesalahan merupakan bagian dari profesionalisme. Ketelitian Imam Nawawi lahir dari rasa tanggung jawab moral yang besar kepada Tuhan dan sesama manusia. Jurnalis pun memikul tanggung jawab moral kepada publik pembaca.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Menerapkan Standar Nawawi di Era Digital

Teknologi digital memang memudahkan kerja jurnalis. Kita memiliki berbagai alat untuk melakukan fact-checking secara otomatis. Namun, alat hanyalah sarana. Esensi dari verifikasi tetap terletak pada nurani dan ketelitian sang jurnalis. Kita perlu mengadopsi ketajaman analisis Imam Nawawi dalam menghadapi banjir informasi.

Jangan biarkan opini pribadi mencampuri fakta objektif. Imam Nawawi selalu memisahkan antara teks wahyu yang absolut dengan ijtihad manusia yang relatif. Jurnalis juga harus tegas memisahkan antara fakta lapangan dengan opini subjektif. Penulisan yang jernih berawal dari pemikiran yang teliti dan riset yang mendalam.

Kesimpulan

Belajar dari Imam Nawawi bukan berarti kita harus menjadi ulama. Kita mengambil semangat disiplin intelektual yang beliau wariskan. Ketelitian adalah harga mati dalam dunia informasi. Tanpa ketelitian, jurnalisme akan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi mesin pembuat kegaduhan.

Mari kita kembalikan marwah jurnalisme dengan memperketat verifikasi. Jadikan setiap tulisan sebagai kontribusi nyata bagi kecerdasan bangsa. Dengan meneladani ketelitian Imam Nawawi, jurnalis dapat menjadi benteng pertahanan terakhir melawan penyebaran hoaks di era modern ini. Kebenaran fakta adalah pelayanan terbaik bagi kemanusiaan.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.