Khazanah
Beranda » Berita » Mengapa Sanad Ilmu Tetap Vital di Tengah Gempuran Google dan YouTube?

Mengapa Sanad Ilmu Tetap Vital di Tengah Gempuran Google dan YouTube?

Era digital telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Saat ini, siapa pun dapat mengakses informasi keagamaan hanya dengan satu klik di Google atau menonton video singkat di YouTube. Kemudahan ini memang membawa dampak positif bagi penyebaran informasi secara masif. Namun, fenomena ini juga menyimpan risiko besar jika seseorang mengabaikan tradisi sanad ilmu.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad bukan sekadar silsilah nama. Sanad adalah jaminan keaslian pemahaman yang menyambung hingga ke sumber aslinya, yakni Rasulullah SAW. Tanpa guru yang jelas, seseorang berisiko tersesat dalam rimba informasi yang seringkali tidak terverifikasi.

Apa Itu Sanad Ilmu dan Mengapa Begitu Penting?

Secara harfiah, sanad berarti sandaran atau kaitan. Dalam konteks belajar, sanad menunjukkan rantai transmisi ilmu dari murid kepada guru, lalu kepada guru sebelumnya, hingga sampai ke penulis kitab atau Nabi Muhammad SAW. Para ulama terdahulu sangat ketat dalam menjaga tradisi ini.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar dari generasi Tabi’ut Tabi’in, memberikan peringatan keras mengenai hal ini. Beliau berkata:

“Sanad itu bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka siapa pun akan berkata apa saja yang dia kehendaki.”

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Kutipan tersebut menegaskan bahwa sanad berfungsi sebagai filter. Ia menjaga agama dari penyimpangan, penafsiran liar, dan manipulasi kepentingan pribadi. Tanpa sanad, ilmu agama akan kehilangan ruh dan otoritasnya.

Bahaya “Syeikh Google” dan “Ustadz YouTube”

Belajar lewat platform digital seperti Google dan YouTube menawarkan kecepatan namun mengabaikan metodologi. Algoritma media sosial seringkali menyajikan konten berdasarkan popularitas, bukan berdasarkan kedalaman ilmu atau kredibilitas sang pengajar.

Berikut adalah beberapa risiko belajar tanpa sanad di era digital:

  1. Kehilangan Konteks: Sebuah video pendek di YouTube seringkali memotong penjelasan panjang seorang ulama. Akibatnya, penonton menerima pemahaman yang sepotong-sepotong.

  2. Kurangnya Adab: Ilmu bukan sekadar transfer data. Belajar langsung di depan guru mengajarkan etika, sikap, dan karakter (adab). Hal ini tidak tersedia di layar ponsel.

    Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

  3. Salah Penafsiran: Teks agama memerlukan alat bantu seperti ilmu nahwu, sharaf, dan ushul fiqh. Orang awam yang membaca terjemahan di Google cenderung menafsirkan ayat sesuai logika sendiri.

  4. Minimnya Bimbingan: Guru berperan sebagai penunjuk jalan. Saat murid bingung, guru memberikan klarifikasi. Google tidak bisa melakukan dialog spiritual seperti itu.

Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas

Kita tidak boleh mengharamkan teknologi. Google dan YouTube adalah alat yang luar biasa untuk mengulang pelajaran atau mencari referensi cepat. Namun, kita harus menempatkan platform tersebut pada porsi yang benar. Media sosial adalah suplemen, bukan menu utama dalam menuntut ilmu.

Pencari ilmu yang bijak akan tetap mendatangi majelis-majelis taklim fisik. Mereka duduk bersimpuh di hadapan guru untuk menyerap keberkahan dan pemahaman yang lurus. Guru akan membantu murid membedakan mana hadis sahih dan mana yang palsu. Guru juga akan mengarahkan murid agar tidak bersikap ekstrem dalam beragama.

Imam Syafi’i pernah mengingatkan tentang pentingnya memiliki pembimbing dalam belajar:

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

“Siapa yang belajar ilmu tanpa guru, maka gurunya adalah setan.”

Meskipun terdengar keras, kutipan ini bermakna bahwa tanpa guru, hawa nafsu dan logika yang dangkal akan menguasai pikiran seseorang. Setan akan dengan mudah membelokkan pemahaman seseorang melalui rasa bangga diri karena merasa sudah banyak membaca.

Adab Sebelum Ilmu: Keunggulan Belajar Tatap Muka

Salah satu aspek yang hilang dari belajar lewat layar adalah transfer nur atau cahaya ilmu. Dalam tradisi pesantren atau madrasah, murid memperhatikan bagaimana gurunya berbicara, berpakaian, dan bersikap. Kehadiran fisik menciptakan ikatan batin yang kuat.

Melalui sanad yang tersambung, seorang murid mendapatkan legalitas spiritual. Ia tidak hanya membawa materi, tetapi juga membawa restu dari gurunya. Keberkahan inilah yang membuat ilmu bermanfaat bagi masyarakat luas dan bertahan lama dalam ingatan.

Kesimpulan: Bijak Memanfaatkan Teknologi

Pentingnya sanad ilmu tidak akan pernah luntur oleh zaman. Di era banjir informasi ini, sanad justru menjadi kompas yang menyelamatkan kita dari arus kebingungan. Gunakanlah YouTube dan Google sebagai sarana penunjang, namun tetaplah bersandar pada guru yang memiliki silsilah ilmu yang jelas.

Pastikan Anda mengetahui kepada siapa Anda mengambil agama Anda. Dengan menjaga sanad, kita turut menjaga kemurnian ajaran Islam hingga generasi mendatang. Mari kita kembali ke majelis ilmu dan menghidupkan tradisi mulia ini agar hidup kita lebih berkah dan terarah.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.