SURAU.CO – Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pemahaman tentang asal-usul alam semesta mengalami perubahan drastis. Sebelum turunnya wahyu, manusia menafsirkan kosmos melalui mitologi, spekulasi filsafat, dan dugaan rasional yang tidak teruji. Bangsa Yunani kuno berbicara tentang unsur abadi, filsuf India tentang siklus kosmik tanpa awal, dan peradaban lain mempersonifikasikan langit sebagai dewa. Namun seluruh spekulasi tersebut gagal menjelaskan asal mula realitas secara konsisten dan ilmiah.
Kegagalan ini bukan disebabkan kurangnya kecerdasan manusia, melainkan karena keterbatasan akal ketika berdiri sendiri tanpa petunjuk wahyu. Akal mampu mengamati, tetapi tidak mampu menembus batas permulaan eksistensi. Inilah titik di mana wahyu hadir bukan untuk meniadakan akal, melainkan untuk membimbingnya.
Al-Qurโan, sejak 1400 tahun lalu pada abad ke-7, telah memperkenalkan konsep kosmologis yang sama sekali asing bagi pemikiran manusia pada masanya. Ketika masyarakat dunia masih memandang langit sebagai entitas statis atau makhluk ilahi, Al-Qurโan menyatakan bahwa langit pernah berada dalam kondisi “dukhan” suatu keadaan yang tidak padat, tidak stabil, dan belum terbentuk.
Metodelogi Ilmiah Bukan Spekulasi Bebas
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:
โKemudian Dia menuju ke langit, dan langit itu masih berupa asap. Lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, โDatanglah kamu berdua menurut perintah-Ku, dengan patuh atau terpaksa.โ Keduanya menjawab, โKami datang dengan patuh.โโ (QS. Fushshilat: 11)
Pernyataan ini menjadi sangat signifikan ketika sains modern menemukan bahwa alam semesta pada fase awalnya memang berada dalam bentuk plasma panas dan gas kosmik, sebelum struktur materi terbentuk. Fakta ini baru dapat dipahami setelah berkembangnya fisika modern, kosmologi relativistik, dan astrofisika pada abad ke-20.
Dengan keyakinan bahwa alam bersifat rasional karena diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Rasional, para ilmuwan Muslim klasik seperti Al-Biruni, Ibn al-Haytham, dan Al-Kindi membangun metodologi ilmiah yang kemudian diwarisi Barat.
Sebaliknya, ketika ilmu dilepaskan dari wahyu, ia kehilangan arah metafisik. Sains modern mampu menjelaskan ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ alam bekerja, tetapi gagal menjawab ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ alam itu ada. Pertanyaan tentang asal-usul hukum fisika, kesadaran, dan tujuan keberadaan tetap berada di luar jangkauan materialisme murni.
Keterbatasan Kecerdasan Manusia
Al-Qurโan mengoreksi keterbatasan ini dengan menegaskan bahwa hukum-hukum alam bukan berdiri sendiri, melainkan tunduk kepada kehendak Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:
โSesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.โ (QS. Al-Qamar: 49).
Dengan demikian, โketundukanโ alam bukan metafora puitis, melainkan realitas ontologis: ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ต๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฑ๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. Inilah titik temu antara wahyu dan sains bahwa keteraturan kosmos adalah bukti keterarahan, bukan kebetulan.
Akal yang terjerat dalam kerangka tahayul, mitos, dan spekulasi tanpa bimbingan wahyu, menyebabkan kegagalan peradaban pra-wahyu. Akal bekerja, tetapi tanpa arah yang benar, sehingga melahirkan pandangan kosmos yang kabur, kontradiktif, dan sering kali menjauh dari realitas hakiki. Sebaliknya, kebangkitan ilmu dalam peradaban Islam justru lahir ketika wahyu dijadikan fondasi epistemologis, dan ini bukan sebagai lawan bagi rasio, melainkan sebagai penuntun yang membebaskan akal dari kesesatan, mener`tibkan cara berpikir, dan mengarahkannya pada pemahaman yang benar tentang alam, kehidupan, dan tujuan keberadaan manusia.
Dalam kerangka inilah wahyu tidak mematikan nalar, tetapi memurnikannya; tidak membatasi ilmu, melainkan memberi arah agar ilmu tidak terjerumus menjadi spekulasi kosong. Maka, kemajuan sains dalam peradaban Islam bukanlah anomali sejarah, melainkan konsekuensi logis dari bertemunya akal yang aktif dengan wahyu yang membimbing sebuah sintesis yang menjadikan ilmu bukan sekadar alat mengetahui, tetapi jalan menuju kebenaran.
“๐ ๐ฎ๐ต๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฆ๐๐ฏ๐ต๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต๐ ๐ช๐ฎ ๐ง๐ฎ’๐ฎ๐น๐ฎ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ด๐ฎ๐น๐ฎ ๐๐ถ๐ฟ๐บ๐ฎ๐ป-๐ก๐๐ฎ”.
Daftar Pustaka
โช๏ธAl-Qurโan al-Karim
โช๏ธTafsir Ibnu Katsir
โช๏ธTafsir Al-Qurthubi
โช๏ธAl-Ghazali โ Tahฤfut al-Falฤsifah
โช๏ธSyed Muhammad Naquib al-Attas โ Islam and Secularism
โช๏ธSeyyed Hossein Nasr โ Science and Civilization in Islam
โช๏ธGeorge Saliba โ Islamic Science and the Making of the European Renaissance
โช๏ธStephen Hawking โ A Brief History of Time
โช๏ธPaul Davies โ The Mind of God
โช๏ธBrian Greene โ The Elegant Universe
โช๏ธNadiah Thayyarah โ Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an
Jangan biarkan tulisan ini berhenti padamu jika ia membuka sedikit saja tabir kebenaran. Bagikan agar lebih banyak akal yang terbangun, lebih banyak hati yang tercerahkan, dan lebih banyak umat yang kembali memahami bahwa Islam bukan penghalang ilmu melainkan sumbernya.
Tempat bertemunya wahyu dan akal, ruang belajar bagi mereka yang mencari kebenaran dengan jujur, dan wadah dakwah ilmiah untuk membangkitkan kembali peradaban berpikir umat.
Karena menyebarkan ilmu adalah amal jariyah, dan setiap pemahaman yang lurus adalah cahaya bagi zaman yang gelap. (Rakhmat Daily)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
