SURAU.CO – Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama bukan sekadar penanda usia sebuah institusi negara. Ia adalah momentum reflektif untuk meneguhkan kembali makna pengabdian agama dalam kehidupan kebangsaan.
Tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” menegaskan bahwa harmoni sosial bukan tujuan sampingan, melainkan fondasi utama bagi keberlanjutan bangsa, termasuk keberlanjutan lingkungan hidup.
Merawat Alam, Manifestasi Ketaatan
Dalam perspektif Islam, pengabdian (amal bakti) tidak berhenti pada ritual formal. Ia menuntut kehadiran nyata dalam ruang sosial dan ekologis. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut bersumber dari ulah manusia sendiri sebagai akibat dari perbuatannya, agar mereka kembali ke jalan yang benar.¹ Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, melainkan mandat teologis tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi yang diberi amanah untuk menjaga keseimbangannya.
Konsep inilah yang melahirkan pendekatan ekoteologi, yakni cara pandang keagamaan yang menempatkan relasi manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan etis. Dalam ekoteologi Islam, menjaga lingkungan bukan isu pinggiran, tetapi bagian integral dari iman. Merusak alam berarti mengkhianati amanah ketuhanan, sementara merawatnya merupakan manifestasi ketaatan. Nabi Muhammad ﷺ menegaskan bahwa menanam pohon adalah sedekah yang pahalanya terus mengalir selama memberi manfaat bagi makhluk lain, bahkan dalam situasi paling genting sekalipun.²
Tantangan zaman modern menuntut transformasi cara berdakwah. Media digital kini menjadi ruang publik utama tempat nilai, wacana, dan kesadaran kolektif dibentuk. Dakwah lingkungan tidak lagi cukup disampaikan di mimbar atau forum terbatas; ia harus hadir di media sosial, kanal digital, dan ruang edukasi daring yang menjangkau lintas generasi. Transformasi dakwah lingkungan berbasis ekoteologi melalui media digital menjadi keniscayaan, bukan sekadar pilihan metodologis.
Di titik ini, peran penyuluh agama, akademisi, dan institusi keagamaan menjadi sangat strategis. Konten dakwah yang mengaitkan iman dengan kepedulian ekologis tentang air bersih, pengelolaan sampah, hutan, dan keadilan lingkungan, perlu dikemas dengan bahasa yang mencerahkan, persuasif, dan relevan dengan realitas keseharian masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya normatif, tetapi harus menyentuh kesadaran etis dan mendorong perubahan perilaku.
Memulihkan Keseimbangan dan Tindakan yang Berkelanjutan
Hari Amal Bakti mengingatkan bahwa sinergi umat tidak hanya dibangun dalam relasi antar-manusia, tetapi juga dalam relasi manusia dengan alam. Indonesia yang damai dan maju mustahil terwujud jika krisis ekologis terus diabaikan. Banjir, longsor, dan krisis iklim merupakan tanda bahwa relasi tersebut sedang terganggu. Agama hadir untuk memulihkan keseimbangan itu dengan nilai, etika, dan tindakan nyata yang berkelanjutan.
Di era digital, amal bakti menemukan wajah barunya. Satu pesan dakwah ekologis yang jujur dan berbasis nilai keimanan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Jadi, satu gerakan kecil yang diviralkan dengan niat lurus dapat menumbuhkan kesadaran kolektif. Inilah peluang besar bagi Kementerian Agama dan seluruh elemen umat untuk menjadikan dakwah sebagai kekuatan transformasi sosial dan ekologis.
Akhirnya, Hari Amal Bakti adalah pengingat bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari kemegahan seremonial, melainkan lebih pada keberpihakan pada kemaslahatan. Oleh karena itu, Merawat kerukunan umat, menjaga bumi, dan memanfaatkan teknologi untuk kebaikan adalah satu rangkaian amal yang saling terhubung. Dari sinilah harapan Indonesia yang damai, maju, dan berkelanjutan dapat terus dirawat.
Catatan Kaki
-
QS. ar-Rum [30]: 41.
-
HR. Ahmad, no. 12491; dinilai hasan oleh sebagian ulama hadis. (Oleh: Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
