SURAU.CO – Ada sebuah ironi yang sering kita jumpai dalam perjalanan hidup beragama, sebagian orang telah mengucapkan syahadat, namun nilai-nilai syahadat itu tidak terwujud dalam sikap dan perbuatannya; sementara sebagian yang lain tidak pernah mengucapkan syahadat secara lisan, tetapi justru menjalankan nilai nilai kebenaran, kejujuran, amanah, dan kasih sayang yang menjadi inti ajaran tauhid.
Syahadat sejatinya bukan sekadar rangkaian kalimat sakral, melainkan perjanjian kesadaran.
Ketika seseorang bersaksi “Laa illaha illa Alloh”, ia sedang menanggalkan segala bentuk penghambaan selain kepadaNya: ego, harta, jabatan, hawa nafsu, dan kepentingan diri. Dan ketika bersaksi
“Muhammadur Rasullulloh”, ia berikrar untuk menjadikan akhlak, teladan, dan jalan hidup Rasul sebagai cermin perilakunya.
Namun, ketika syahadat berhenti di lisan dan tidak turun ke hati serta tindakan, maka yang lahir adalah agama simbolik agama yang ramai dalam ucapan, tetapi sunyi dalam perbuatan.
Di sinilah muncul fenomena
“bersyahadat tidak menjalankan”:
mengaku beriman, tetapi masih menipu;
mengaku bertauhid, tetapi masih zalim;
mengaku mengikuti Rasul, tetapi akhlaknya jauh dari rahmat dan keadilan.
Sebaliknya, ada mereka yang “tidak bersyahadat menjalankan”:
mereka yang mungkin tidak mengenal syahadat secara formal, namun hidup dengan kejujuran, menepati janji, menolong sesama, menjaga amanah, dan menghormati kehidupan.
Tanpa sadar, nilai-nilai itu sejatinya adalah buah tauhid yang hidup meski belum terbingkai dalam pengakuan lisan.
Melahirkan Shalat yang Menumbuhkan Akhlak
Hikmah dari paradoks ini bukan untuk merendahkan syahadat, melainkan menegur kesadaran orang yang bersyahadat.
Bahwa syahadat menuntut tanggung jawab moral dan spiritual. Bahwa iman bukan hanya identitas, tetapi jalan hidup.
Dan bahwa ukuran kedekatan seseorang kepada kebenaran bukan pada klaimnya, melainkan pada dampak kehadirannya bagi sesama dan alam.
Syahadat yang sejati akan melahirkan sholat yang menumbuhkan akhlak,
dzikir yang melembutkan hati,
doa yang membimbing perilaku,
serta amal yang menghadirkan keadilan dan kasih sayang.
Maka, marilah kita bercermin dengan jujur: apakah syahadat yang kita ucapkan telah menjelma menjadi kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian? Ataukah ia masih sekadar kata yang kita banggakan, namun belum kita jalankan?
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan,
tetapi menyaksikan apa yang kita wujudkan dalam kehidupan.
Hikmah Diri: Menjalankan Sunnah Nabi tidak dengan kekakuan, tetapi dengan kemampuan
Sunnah Nabi SAW adalah cahaya penuntun bagi kehidupan, namun cahaya itu tidak pernah dimaksudkan untuk membakar jiwa yang belum siap menampungnya. Rasululloh SAW datang membawa rahmat, bukan beban, membawa kemudahan, bukan kesempitan. Karena itu, menjalankan sunnah bukanlah soal memaksa diri hingga kaku, melainkan soal menumbuhkan kesadaran sesuai kemampuan yang Alloh anugerahkan pada tiap hamba.
Kekakuan dalam beragama sering lahir dari keinginan terlihat sempurna di mata manusia, bukan dari kejujuran hati di hadapan Alloh.
Padahal, Nabi SAW sendiri memberi teladan tidak kekakuan, beliau mempersingkat sholat ketika menjadi imam karena mempertimbangkan kondisi makmum, beliau memilih yang lebih mudah selama tidak mengandung dosa. Ini isyarat bahwa sunnah dijalankan dengan hikmah, bukan dengan paksaan.
Kemampuan setiap manusia berbeda fisik, mental, waktu, dan keadaan hidupnya. Maka, menghidupkan sunah bisa dimulai dari yang paling mampu, senyum yang tulus, berkata jujur, menepati janji, menolong sesama, atau menjaga adab dalam pergaulan.
Sunnah tidak selalu tampak besar dalam ritual, tetapi sering hadir dalam akhlak yang lembut dan konsisten.
Menjalankan sunnah dengan kemampuan berarti berjalan bertahap (tadarruj), menjaga kesinambungan (istiqomah), dan merawat niat (ikhlas).
Sedikit namun terus-menerus lebih dicintai Alloh daripada banyak tetapi memberatkan dan terputus. Ketika kemampuan bertambah, sunnah pun tumbuh alami bukan sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan jiwa.
Pada akhirnya, sunnah Nabi SAW adalah jalan pemanusiaan manusia. Ia mengajarkan kita untuk taat tanpa kehilangan welas asih, disiplin tanpa kehilangan keluwesan, dan beribadah tanpa mematikan rasa.
Dengan demikian, sunnah hidup dalam diri mengalir lembut, menguatkan langkah, dan mendekatkan kita kepada Alloh sesuai kemampuan yang Dia kehendaki. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
